
Di sel tahanan kini semua orang tengah berada di lapangan mereka tengah melakukan olahraga pagi seperti biasanya, mereka menyambut mentari pagi dengan mereka yang selalu beraktifitas di sini.
Seorang tahanan datang dengan membawa berita yang akan membuat mereka senang, orang itu berbisik dan satu orang lagi telah menyebar dengan cepat apa yang mereka bicarakan saat ini. Berita itu dengan cepat tersebar dengan segera.
Suara sorak kembali terdengar, sorak senang. Mereka menunggu berita itu adalah kebenaran yang akan membawa mereka ke dalam kesenangan yang berbulan bulan bahkan bertahun tahun tak mendapatkan kesenangan dan tontonan gratis mana pun.
Suara mobil yang ada di sana kini memicu mereka segera berlari ke arah pagar besi, mereka mencari orang yang akan menjadi teman dan musuh yang ada di sana. Suara mereka kembali ricuh ketika mereka melihat siapa yang turun dari mobil itu dengan kedua tangan di borgol.
Dia menunduk dia tak bisa menatap mereka yang menyoraki nya dengan suara yang keras, mereka terlalu senang mendapatkan teman baru tapi tidak dengan orang yang saat ini berjalan masuk melewati mereka semua.
" Sir ini adalah tahanan 2509 yang dikatakan oleh Jenderal tadi…" Seorang Sipir yang membawa nya menemui kepala Sipir itu langsung berbalik menatap kearahnya.
Kepala Sipir itu tersenyum sinis melihat siapa yang ada di depannya. " Selamat datang Sir Alexander! Tapi kau bukan lagi Komandan di sini, kau hanya seorang tahanan di sini…" Tawanya sungguh mengejek.
" Kenapa aku di letakkan di sini? Harusnya aku hanya berada di penjara yang satunya bukan di penjara yang dikumpulkan penjahat berbahaya…" Dia bertanya karena dia dari tadi tak menemukan jawaban apapun atas pemikirannya sendiri.
Kepala Sipir itu kini tertawa keras mendengar pertanyaan dari Mantan Komandan Kriminal yang sekarang memakai baju tahanan di depannya.
" Kau tak tahu kesalahanmu itu adalah fatal?"
" Aku hanya lalai dalam tugasku?" Dia berteriak dia tak mau di campur oleh para penjahat yang begitu mengerikan.
" Sssttt jangan berteriak.. telinga ku masih bagus untuk mendengar suaramu. Kau simpan saja suaramu itu."
" Katakan kenapa aku di letakkan di sini?" Dia kembali bertanya dengan penuh penekanan.
" Seorang Narapidana tak memiliki hak untuk bertanya, jadi kau tak perlu banyak bertanya, sekarang nikmati rumah barumu dan bawah dia untuk bertemu teman teman baru nya."
" Tidak aku tidak mau.. aku tidak mau di sini, aku ingin di penjara yang hanya dititipkan. Katakan pada Jenderal aku tidak ingin di sini…" Dia memohon dia tak mungkin menerima dia ingin ada di sini dia tahu apa yang nanti akan terjadi.
" Tak ada pilihan bagimu Alexander, semuanya telah tamat dan kau akan merasakan penderitaanmu…" Kepala Sipir itu kini tertawa keras dia melihat orang yang biasanya arogan kini malah memasang wajah yang begitu kasihan.
Sipir itu tak peduli dengan Alex yang memberontak dia tak ingin di bawah masuk ke dalam sel yang seharusnya bukan disini tempatnya. Tapi dia juga tak bisa berbuat banyak ketika Sipir Sipir itu menariknya dengan kasar.
Bug!!
" Masuk!" Mereka melempar Alex masuk ke dalam sel yang ada beberapa orang ada di sana.
" Jangan membuat keributan dengan teman baru kalian…" Alex yang tadi didorong dan jatuh ke lantai kini merasakan kedua tangannya yang sakit.
Dia bangun berusaha untuk mengejar para Sipir itu tapi sayangnya pintu sudah tertutup dengan rapat kembali.
" Keluarkan aku dari sini, aku tidak mau disini.. hei keluarkan aku dari sini…" Dia berteriak dengan kencang dia tak ingin berada di sel yang ada orangnya dia ingin berada di sel sendiri.
" Hei jangan berisik…" Seorang yang tadi tertidur kini bangun karena mendengar orang yang berteriak.
Alex menoleh ke arah belakang menatap orang yang meneriaki dia. Orang yang tidur itu pun langsung mengenali siapa yang berada di dalam sana dengan mereka.
Suara tepuk tangan itu membuat semua orang langsung merasa heran. Sedangkan Alex kini memiliki firasah buruk tentang ini semua. Jantungnya memompa begitu cepat tak seperti biasanya.
" Apa aku tak salah melihat jika ada Komandan Alexander yang begitu berbaik hati berada di sini?" Katanya dengan sinis serta berjalan menuju ke arah Alex yang berdiri di depan pintu.
" Aku bukan Alexander kau salah orang…" Mungkin dengan pura pura dia tak mengakui siapa dirinya semuanya akan menjadi baik baik saja.
Alex langsung berbalik lagi dia ingin menyuruh para Sipir itu membuka pintunya dia kembali berteriak keras.
" Hei buka aku tak ingin berada di sini.. buka…" Teriaknya lagi.
Bug!!
Orang yang tadi menghampiri Alex langsung menjambak rambutnya memukulkan kepalanya ke pintu besi itu dengan segera, suara ribut kini ada di dalam kamar yang ada beberapa orang penghuni itu. Darah segar kini langsung keluar dari keningnya dengan cepat.
Alex menyentuh keningnya ketika merasakan ada yang merembes di sana, dia kini memberikan sikunya ke belakang dan tepat mengenai perut orang yang berada di belakang nya. Orang itu mundur seketika dengan meringkuk.
Alex berbalik dan menatap semua orang yang saat ini juga maju menyerang nya, dia kini di hajar habis habisan tak ada yang membela nya tak ada yang membantunya. Dia melawan dengan dia yang seorang diri.
Bug!! Bug!! Bug!!
Suara pukulan kini mengeras dia ingin membela diri karena mereka dulu yang menyerang tak ada hentinya, dia ingin mempertahankan dirinya agar dia tak mati konyol di sana saat ini. Alex dengan muda beberapa kali menjatuhkan orang orang itu tapi dia juga mudah di serang oleh mereka. Rasa pusing kini menerpa kepalanya kembali. Dia hampir kehilangan keseimbangannya tapi dia juga masih berusaha untuk berdiri tegak melawan mereka.
" Hajar dia sampai dia pingsan!" Kata orang yang saat ini duduk di sana dengan melihat seluruh teman nya menyerang tahanan baru yang satu sel dengan mereka.
Argh!!!!
Bugh!!!
Salah satu dari orang itu kini memukul Alex menggunakan tongkat yang memang sengaja di letakkan di sana untuk menghabisi orang yang bernama Alexander.
Alex terjatuh dengan berlutut darah segar keluar dari kepala bagian belakangnya, dua orang kini segera memegang kedua tangannya menariknya untuk segera bangun dan orang yang tadi duduk menghampiri Alex yang saat ini tak berdaya dengan darah keluar merembes.
Bug!! Bug!!
Dua pukulan tepat di wajah Alex membuatnya benar benar tak berdaya saat ini,dia hanya bisa pasrah karena kepalanya yang begitu pusing dan matanya hampir berkunang kunang.
Bug!! Bug!! Bug!!
Tiga pukulan tepat di tulang rusuknya membuat Alex hampir terjatuh merasakan sakit pada perutnya tapi kedua orang itu masih menariknya untuk tetap berdiri.
Bersambung
Badan masih gak fit banget 🙂 jangan lupa Vote nya ya sudah masuk hari senin 🤗🤗🤗