Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Balas Dendam 10



Dua hari berlalu begitu cepat, beberapa orang yang saat ini sudah tiba di kota yang akan menemui seorang, orang yang mereka kira akan membantunya orang yang dikira akan menolong permasalahannya saat ini.


" Kau sudah menghubungi nya?" Laki laki tua itu kini dan sang asisten sudah berada di dalam mobil yang telah mereka sewa selama ada di kota tersebut.


" Sudah Tuan tapi mereka tak mau menjawabnya! Mungkin mereka tau bahwa kita hari ini akan datang…" Jawabnya dengan terus menghubungi asisten dari orang yang ingin mereka temui.


" Mereka belum tau siapa kita!" Laki laki tua itu mengangguk dengan tersenyum sinis. " Biarkan saja mereka tak mau menjawabnya kita langsung pergi ke kantor nya saja."


" Baik Tuan!" Mereka kini langsung menuju ke sebuah kantor di mana seorang sudah menunggu kedatangan mereka.


Di ruangan besar itu dua laki laki yang begitu gagah sudah menunggu kedatangan tamu yang akan datang. Dia sengaja tak menjawab telpon dari pihak sana karena dia hanya ingin tau tekad dari orang tersebut.


" Kau sudah bertanya kepada Sarah tentang keluarga Nicolas ini?" 


" Hem.. tapi Sarah berkata sepertinya tak ada keluarga lain selain Alex. Tapi dia juga tak yakin…" Bryan semalam memang sempat bertanya kepada kekasihnya tapi dia tak mengetahuinya.


" Sepertinya keluarga ini memang tersembunyi…" Albert mengangguk. " Jika tidak! Mana mungkin mereka datang jauh jauh kemari hanya untuk membela orang yang jelas jelas salah."


" Tapi aku rasa yang dia tahu hanya Alex yang di tahan Paman sedangkan Nicolas mereka belum mengetahui keberadaannya…" Tebaknya dengan tepat.


" Kau benar jika mereka tahu keberadaan Nicolas aku rasa akan ada pergerakan."


" Aku jadi tambah penasaran dengan mereka Paman!" Kedua orang itu begitu penasaran dengan keluarga misterius yang rela datang jauh dari negaranya hanya untuk bertemu dengan pengacara yang begitu terkenal.


Sedangkan di dalam penjara Alex berusaha bangun dengan susah payah ketika pagi ini semua orang diperbolehkan keluar untuk berada di lapangan. Alex susah payah untuk bangun bahkan dia memegangi kepalanya yang terasa pusing dan matanya berkunang kunang.


" Hei cepat kau ingin keluar atau tidak?" Seorang rekannya yang satu kamar berteriak kencang ketika melihat Alex yang begitu kesusahan bangun.


" Aku.. tak.. memiliki tenaga…" Ujarnya begitu pelan dan terputus putus. 


" Dasar orang tak berguna! Hanya sampai sini tenaga mu…" Ejeknya dengan berjalan menghampiri Alex.


Orang itu langsung menarik tangan Alex dengan kencang membuat Alex tertarik dengan jalan yang terhuyung kedepan. 


" Lepaskan tanganku.. aku sungguh tak bisa berjalan cepat…" Dia memohon dan terjatuh tapi sayangnya orang itu tak peduli dia tetap menarik tangan Alex meskipun Alex sudah jatuh tak berdaya.


Semua orang yang berada di lapangan kini menyaksikan adegan dimana mantan komandan itu tersiksa bahkan sengaja di siksa oleh rekan satu sel nya.


Bug!! 


" Dasar!" Cibirnya dengan melempar Alex dengan keras ke rumput yang ada di lapangan.


Semua orang menatap Alex dengan iba sebenarnya mereka tak akan menyangka bahwa kekuasaan yang dimiliki olehnya kini langsung hancur seketika. Beberapa orang menghampiri dengan wajah yang begitu garang bahkan tangan mereka mungkin saat ini terasa gatal ingin menghajarnya karena dendam mereka.


" Jangan pada buat keributan di lapangan! Saya mengeluarkan kalian untuk memberitahu bahwa ada teman baru dan kalian harus menyambutnya dengan senang!" Pengeras suara itu membuat langkah mereka terhenti seketika.


" Sial!" Umpat beberapa orang yang mungkin saat ini telah mereka tunggu tunggu tapi sayangnya mereka harus menundanya hanya karena ada kunjungan.


" Kau aman saat ini tapi tidak lain kali…" Ucap salah satu orang yang menatap Alex dengan penuh kemarahan saat ini.


Alex berusaha bangkit dia menatap lapangan yang saat ini sudah dipenuhi oleh para tahanan yang saat ini tengah menatap ke arah nya. Dia yang sudah bangkit kini berjalan tertatih menuju ke sebuah tempat duduk yang ada di ujung sana dia ingin menyendiri dan ingin memulihkan kondisinya yang saat ini benar benar tak memiliki sedikitpun tenaga.


" Kenapa tak kau tikam saja semalam orang itu?" Orang berbisik kepada salah satu temannya yang satu kamar dengan Alex.


" Jika aku bisa menikam nya maka aku sudah lakukan! Kau harus ingat bahwa kita tak boleh membunuhnya dia harus tersiksa disini sampai dia sendiri yang bunuh diri…" Jawab orang itu yang melihat kearah Alex yang sudah duduk sendiri di ujung lapangan.


Alex meringis kesakitan dia menatap ke atas hawa panas langsung mengenai wajahnya yang sudah babak belur tak berbentuk wajah tampan lagi. 


Nic kau dimana? Apa kau masih hidup sekarang? Aku harus segera pulih dan menyusun rencana untuk kabur dari sini dan menemukanmu. Batinnya yang terus memikirkan adiknya yang juga di sekap.


Kakak Aaron hanya kau harapanku sekarang, aku harap kau curigai jika tak bisa menghubungi ku saat ini. 


Dia berharap Aaron lah penyelamat dirinya untuk terakhir kalinya, hanya Aaron yang saat ini dia punya hanya sang kakek yang bisa menolongnya saat ini. 


Para tahanan kini telah dibawa masuk kembali ke sebuah kantin, mereka di beri sarapan. Satu persatu semua orang yang berada di sana mengantri dengan perlahan. Alex yang berjalan pelan membuat orang yang berada di belakangnya merasa kesal.


" Kau bisa lebih cepat tidak? Kami lapar!" Katanya dengan kencang.


" Maaf!" Hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Alex dia berusaha untuk berjalan cepat. Saat ini yang harus dia lakukan adalah menjadi baik di depan mereka semua.


" Eh kau ingin duduk disini? Duduklah dan segera makan untuk memulihkan kondisimu!" Seorang yang menawarinya disambut anggukan oleh Alex. 


Byuar!! Alex tercengang ketika melihat makanan yang dia bawah malah disiram air oleh orang yang tadi menawarinya untuk duduk di sebelahnya.


" Apa yang kau-"


" Aku memang sengaja melakukannya karena kau sedang sakit jadi aku rasa jika di campur air kau akan lebih mudah menelan makananya…" Katanya dengan tersenyum penuh kemenangan.


Alex hanya memandangi orang itu lalu beralih ke makanannya yang sudah tercampur air begitu banyak.


" Kau tak jadi makan? Kenapa karena kau tak suka makan itu?" Alex hanya diam dengan menahan amarahnya.


" Eh lihatlah mantan komandan kita ini!" Semua orang langsung menatap kearah Alex. " Dia dulu bahkan tak peduli dengan makanan yang kita makan setiap hari tapi sekarang sepertinya dia sangat mengeluh karena makanan kita tak enak di lidahnya."


" Kau harus makan agar kau tau bagaimana rasanya Tuan mantan komandan!" Timpal yang lainnya.


" Tidak!" Alex berdiri dengan cepat.