Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Pergerakan 11



Sedangkan Bryan kini mendapatkan alamat dimana kekasihnya telah di sekap. Dia tersenyum penuh kemenangan saat ini. “ Ternyata ancaman ku sangat berpengaruh besar terhadap kakek tua itu. Dasar bodoh...” Bryan kini segera menuju ke alamat dimana Sarah telah berada.


Dia yang melupakan anggotanya dengan tekadnya karena rasa senang kini dia menemui lawan mereka sendiri. Dengan keyakinan penuh serta dia yang berpikir mampu kini berjalan sendiri menghadapi para musuh musuh dengan tangan nya sendiri.


Bruak!!


“ Dasar bodoh...” Zac yang ada di sana kini mengamuk dia siap mengagungkan suaranya karena mendengar putra nya menghilang dan memilih untuk mencari keberadaan musuh mereka sendiri.


Zac yang mengamuk menatap semua orang orang nya kini membuat semuanya menunduk ketakutan. Tak ada yang berani memperlihatkan wajah mereka. Saat ini hanya ketakutan dan hawa panas serta dingin yang ada di sekeliling markas itu.


“ Apa saja yang kalian pikirkan hah? Dia seorang diri melawan para musuh sedangkan kalian malah pulang kemari. Apa aku membayar kalian untuk bertindak bodoh seperti ini?” Bentuknya dengan nada.


“ Maafkan kami Tuan Zac tapi Tuan muda Bryan tak ingin kami ikut. Kami sudah memaksanya tapi Tuan Bryan tetap keras kepala...” Kepala tim kini memberikan penjelasan kepada bos nya yang saat ini siap menerkam siapapun.


“ Lalu jika dia tak ingin ada yang ikut kalian juga tak mau mengikutinya?”


Semua orang yang ada disana kini menunduk, sepertinya mereka juga tak memiliki pikiran bahwa mereka harus mengikuti Tuan mudanya secara diam diam, dan itu membuat bosnya saat ini marah besar kepada mereka semua.


“ Maafkan kami Tuan...” Dengan menunduk mereka merasa bersalah karena mereka tak memiliki pikiran seperti itu.


Zac menghela nafasnya dengan berat, mengusap wajahnya dengan kasar tak dapat dipungkiri bahwa sebenarnya dia tengah panik memikirkan putranya yang memilih untuk pergi sendiri dibanding dia membawa timnya untuk membantu dirinya.


“ Antoni...” Zac yang berteriak membuat seluruh orang yang sedikit agak jauh merinding ketakutan apalagi orang orang yang melakukan kesalahan dengan jarak dekat.


Antoni yang memiliki nama pun segera berlari dengan cepat. “ Saya Tuan.”


“ Cari Bryan, ajak semua orang bersamamu. Jangan kembali jika kalian belum membawa Bryan dan Sarah. Jika kalian pulang tanpa mereka hidup, ku pastikan kalian yang akan mati di tangan ku...” Ucapnya dengan tegas dan dingin.


Antoni menelan ludahnya dengan kasar dia merinding mendengar ancaman yang mereka tau bukan sekedar ancaman kosong. Mereka yakin apa yang dikatakan oleh bosnya akan menjadi kenyataan jika dia tak membawa apa yang dikatakan.


“ Apalagi yang kalian tunggu, sana pergi. Atau kalian mau aku habisi sekarang tanpa mencari nya.”


“ Baik Tuan...” Semua orang kini berlari keluar.


Antoni yang berada di depan kini memimpin misi ini dengan diikuti beberapa orang yang ada dibelakangnya. Antoni cukup banyak membawa orangnya saat ini. Antoni dan mereka harus membawa kedua orang yang sangat penting bagi bos nya. tak ada saling menyalahkan tak ada yang memilih dirinya benar, saat ini mereka bekerja sama untuk menemukan kedua orang tersebut.


Bryan yang cukup lama berada di jalan kini telah tiba di suatu markas kecil yang terlihat dari luar seperti bangun tua yang berpenghuni lama. Bryan menatap sekelilingnya yang juga terlihat sepi tak ada siapapun kecuali pohon serta suara angin yang berhembus. Bryan memperhatikan kondisinya yang terlihat sepi dan tak banyak orang yang menjaga nya.


Bryan yang belum masuk kini hanya bersembunyi di balik pohon untuk melihat situasi yang ada di sana. Markas itu tampak tak ada siapapun. Dengan pelan dia berjalan mendekat dia yang harus hati hati kini tak ingin menimbulkan masalah yang akhirnya membuat dia tak bisa menyelamatkan kekasihnya.


“ Akhirnya dia bertemu juga.”


“ Hmm.. kau benar. Wanita tadi begitu kasihan. Kemarin sepertinya Tuan Arya tidak berani menyentuh nya tapi kenapa sekarang tiba tiba berani menyentuhnya dengan keji.”


“ Entahlah aku tak tau. Sebaiknya jangan ikut campur urusan mereka, kita jadi penonton saja...” Teman nya itu memilih mengangguk menyetujui apa yang dikatakan oleh rekan nya itu.


Kedua orang itu kini memilih untuk pergi dari markas kecil tersebut, meninggalkan tempat itu dengan berbincang, membicarakan apa yang terjadi di dalam markas.


Bryan yang diam diam dan hati hati kini memilih untuk masuk secara perlahan, dia menatap sekelilingnya setelah ia membuka pintu tersebut. Ruangan itu terlihat sangat sepi tak ada siapapun. Bryan dengan penuh kehati-hatian mencari keberadaan kekasihnya, semakin dia masuk dan mencarinya tapi tak menemukan sama sekali.


Di depan matanya terlihat ada dua pintu yang tertutup, dia mengerutkan keningnya. Dia yang kembali jalan dengan mencari kekasihnya, menempelkan satu telinganya untuk mendengar apa ada orang didalam ruangan yang tertutup itu. Tapi tak ada suara apapun disana, hanya terdengar suara angin yang terus berhembus kencang.


“ Dimana Sarah...” Gumamnya dengan mengedarkan pandangan nya.


Plak!! Plak!!


Argh.....


Suara teriakan yang tak asing bagi Bryan membuatnya terkejut bukan main. Suara yang membuatnya langsung lari ke arah sumber suara tersebut.


“ Kalian siapa sebenarnya? Apa motif kalian menyiksa cucuku seperti ini hah?” Nada tinggi yang terdengar jelas di telinga semua orang, bahkan suara itu sampai terdengar dari luar.


Sarah yang di tampar berulang kali bahkan rambut nya di tarik kebelakang hanya membalasnya dengan senyuman kecut. Dia yang tak memiliki rasa takut kini malah menatap kearah Arya penuh dengan emosi.


“ Katakan siapa kalian?, kenapa kalian menyiksa cucuku seperti ini. Apa salah mereka?” Tanyanya dengan penuh penekanan serta tatapan tajam dari nya.


Sarah tak menjawabnya dia memilih untuk bungkam. “ Sekali lagi aku bertanya siapa kalian?” Kali ini Erik yang bertanya dengan nada yang benar benar membuatnya merinding.


“ Aku ya aku!” Jawabnya singkat yang membuat semua orang disana geram bukan main.


“ Dasar brengse*k...” Umpatnya dengan kesal dengan Arya yang menodongkan pisau ke arah Sarah saat ini.


“ Kau ingin membunuhku?” Tanyanya dengan sinis. “ Maka bunuh saja! Kau pikir aku takut dengan mu. Kau pikir aku akan menangis dan memohon ampun atau mengatakan siapa kami?” Sarah tertawa tipis di bibirnya.


Sebenarnya dia takut, wanita mana yang tak merasakan takut ketika lehernya di acungkan pisau oleh orang yang berniat membunuhnya, tapi wanita yang ada di depan ini mencoba menutupi rasa takutnya dan itu berhasil membuat semua orang yang ada disana tak melihat sedikitpun rasa takut yang ada di matanya atau tubuhnya yang bergetar.


“ Jadi kau tetap tak ingin mengatakan siapa kalian? Dan masih ingin melindungi mereka meskipun nyawa mu saat ini sudah dalam bahaya...” Sarah hanya tersenyum sinis tanpa dia mau menjawab perkataan dari laki laki tua itu.