Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Pelarian 3



" Apa yang terjadi?" Suara langkah yang tak terdengar membuat semua orang yang ada disana terkejut ketika mendengar pertanyaan dari seorang laki laki.


" Bryan…" Seorang wanita yang juga berduka kini langsung berlari menghampiri putranya yang berdiri dibantu oleh wanita yang di sampingnya.


" Mom apa yang terjadi?" Val langsung memeluk putranya dia merasa lega karena melihat putranya berhasil lolos dan datang kemari.


" Syukurlah kalian berdua selamat malam ini, kami merasa khawatir karena kalian berdua menghilang…" Dia menatap kearah wanita yang ada di sampingnya putranya. " Sarah kamu tak apa nak? Semuanya baik baik saja bukan?" 


" Saya baik mom! Saya baik…" Katanya dengan memaksakan dirinya untuk tersenyum meskipun hatinya saat ini masih merasa cemas dan ketakutan tapi dia merasa sedikit lega ketika dia sudah yakin berada di tempat yang main.


" Dad apa yang terjadi…" Bryan yang tak mendapatkan jawaban dari sang ibu kini dia langsung berjalan menghampiri daddy nya dengan kaki yang terasa sakit.


" Son selamat datang kembali!" Ujarnya dengan memeluk putranya.


Bryan tak percaya ketika menatap seseorang yang dikenal telah terbaring kaku di bawah dengan darah yang mungkin sudah membeku di bagian dahinya. Bryan tak merespon apa yang dikatakan oleh sang ayah ketika matanya menatap ke arah bawah.


" Dad bukan kah itu paman Baron, apa yang terjadi?" Tanyanya dengan bingung. Dia tak tahu apa yang terjadi tapi dia bisa merasakan hati semua orang saat ini sedang berduka.


" Paman Baron sudah pergi son dia mengorbankan nyawanya untuk melindungi daddy dari tembakan polisi itu."


" Polisi? Apa yang terjadi dad, ceritakan kepada ku…" Desaknya dia merasa penasaran kenapa bisa terjadi hal seperti ini.


Zac dengan menghela nafasnya dengan kasar segera menceritakan apa yang terjadi malam ini, Zac sebenarnya tak ingin membuka cerita ini yang sangat menyakitkan tetapi dia harus menceritakan ulang kejadian dimana orang nya harus pergi untuk selamanya. 


Bryan mengepalkan tangannya ketika mendengar kronologi yang terjadi di sana tadi, dia merasa terlambat untuk datang. Jika saja dia bisa datang lebih awal mungkin ini semua tak akan terjadi dan Baron tak akan menjadi korban.


Zac juga tak luput menceritakan kejadian penembakan paman dari Sarah dengan cara yang mengenaskan, Bryan langsung menatap kearah Sarah yang saat ini hanya bisa menunduk, dia tak tahu hal buruk sudah menimpanya sejak dia tak ada.


Kenapa Sarah tak berkata apa apa dari tadi. Batinnya juga bertanya tanya kenapa wanita cantik itu tak mengatakan bahwa pamannya juga telah pergi ditembak dengan cara mengenaskan.


" Arghh.. ini semua pasti ulah orang itu, brengsek.. kita harus segera menghabisinya Dad, mereka semua tidak pantas hidup mereka harus merasakan siksaan demi siksaan agar mereka sendiri yang memohon untuk mati…" Murkanya dengan wajah yang menakutkan.


" Kau tahu sesuatu di dalam sana?"


" Aku tahu semua! Orang yang tak bersalah bahkan menjadi korban dari mereka yang ingin menutupi sebuah kasus ini. Sekarang aku sangat yakin dengan apa yang aku dengar tadi."


" Katakan apa yang terjadi di sana?" Zac penasaran dengan apa yang diketahui putra nya setidaknya dia memiliki petunjuk untuk membongkar siapa dalang atas semua ini.


Semua orang yang mendengarnya kini merasa geram karena ulah dari para polisi yang seharusnya dia melindungi orang yang tak bersalah malah menjadikan orang yang tak tahu apapun kambing hitam mereka. Bryan lalu juga mengatakan bahwa orang itu telah meninggal karena di racun.


" Jadi yang dikatakan oleh orang kita adalah orang yang menjadi saksi dan orang yang tahu semuanya?" 


" Maksud Daddy?" 


" Daddy memiliki satu orang yang baru masuk dua hari ini, dia menjadi salah satu sipir di sana. Dia yang yang mengawasi kalian dan membantu kalian untuk menjalankan pelarian malam ini dan dia juga melaporkan bahwa ada orang yang mati dengan cara tidak wajar."


" Dia mati dengan cara di racun dad, tapi sayangnya semua para polisi bungkam seribu bahasa melihat kejadian itu. Mereka seakan menutup mata dan telinga menyaksikan orang itu mati di depan mereka."


" Biarkan para polisi itu bungkam tetapi jenderal sudah mengetahui semuanya dia sudah mengusut kematian dari orang itu."


" Bryan apa dia tak mengatakan sesuatu sebelum dia meninggal?" Timpal Abhi yang juga ada di sana.


" Dia berkata bahwa seorang laki laki yang telah melakukan kejahatan ini semua, dia tak akan masuk kedalam penjara karena seorang yang memiliki jabatan tinggi telah melindunginya dengan menjadikan orang yang tak bersalah menjadi korban. Orang yang menjadi otak ini semua adalah laki laki yang memiliki tato rusa di dada nya."


Deg!!


Sedangkan di tempat rumah duka wanita itu masih menatap kosong ke arah peti jenazah yang ada ayahnya yang saat ini sudah tak bernyawa. Tangis rasa duka sepertinya masih banyak yang keluar dari kedua matanya. Semua orang merasa kasihan kepada putrinya.


Saat ini dia hanya seorang diri, hidupnya seorang diri. Dia tak memiliki siapapun lagi kecuali sang ayah tetapi sepertinya takdir juga telah merampasnya dengan cepat. Ketika dia ingin merasakan kebahagian malah kepahitan yang saat ini dia terima dengan rasa duka.


" Kasihan sekali dia, padahal dia adalah polisi yang jujur dan selalu setia kawan. Dia sekarang membuktikan bahwa apa yang selalu ia katakan telah dibuktikan…" Seorang temannya yang juga sama sama polisi kini berbicara pelan ketika dia berada di sana.


" Kau benar dia selalu berkata lebih baik aku mati di medan perang dengan musuh ku di banding aku mati dengan uang yang berlimpah tapi aku mengkhianati negara ku."


Sarah yang mendengarnya malah semakin sedih, dia merasa ayahnya adalah orang baik tapi kenapa dia harus meninggal seperti ini. Luka tembak yang ada juga di kepalanya juga membuatnya langsung mati di tempat. 


" Kamu yang tenang, semuanya akan segera kami urus…" Komandan itu kini menghampiri putri dari bawahannya yang masih setia berada di samping peti ayahnya.


" Apa aku harus bangga ketika melihat ayah ku terbaring kaku tak berdaya di sana untuk membunuh musuh?" Tanyanya dengan tatapan kosong.


" Kami semua bangga kepada ayahmu karena dia membela negara! Dia yang ingin membunuh musuhnya malah dia sendiri yang tertembak tapi salah satu musuh itu juga terluka dan mati. Jadi saat ini tak hanya kamu yang berduka kubu musuh pun juga berduka atas kepergian dari salah satu mereka."


Wanita itu menatap ke arah komandan yang berdiri di samping nya. " Siapa yang melakukan ini kepada ayah ku maka dia juga harus merasakan kesedihan yang sama dengan ku. Aku bersumpah akan mencari tahu siapa musuh yang telah menembak ayah ku hingga mati."