
Kakek apa kabar? Aku lega Kakek cepat datang kemari untuk menolongku keluar dari sini. Lakukan apapun agar aku bisa keluar dari sini, semua orang yang ada di sini menyiksa ku bagaikan aku hewan. Banyak luka yang aku terima di sini. Jenderal ku dan kepala sipir pun sepertinya dibeli oleh seseorang.
Sebenarnya ada satu musuh yang saat ini aku curigai, dia laki laki mudah yang bernama Bryan, awal kejadian ini semua dari laki laki itu. Sejak aku memiliki masalah dengannya semua masalah menimpah ku begitu saja.
Malam itu aku dipertemukan dengan Nicolas tapi mereka menjadikan Nicolas seperti anjing, mereka mengajari kami dengan bantuan orang-orang nya. Jadi aku berpikir kemungkinan besar saat ini masalah yang menimpa aku dan yang menyembunyikan Nicolas adalah laki laki yang bernama Bryan, tepat nya Bryan Kozan.
Aku harap kakek bisa segera menemukan Nicolas dengan segera aku tak ingin terjadi apapun dengannya, jangan terlalu mencemaskan aku biarkan pengacara ini yang mengurusku. Kakek fokus saja kepada Nicolas. Temukan segera dia Kek, aku takut mereka menyiksa Nicolas.
Surat yang telah ditulis oleh Alex waktu itu telah di baca oleh Bryan dan Albert. Mereka hanya tersenyum licik membaca surat yang seharusnya ia tunjukan kepada kakek tersayangnya tapi malah dibaca oleh para musuhnya.
" Sang cucu sedang melapor kepada kakeknya!" Ejek Bryan yang secara terus terang tersenyum menghina.
Bryan meremas surat itu menatap tajam kearah depan dengan tatapan yang sulit diartikan.
" Mereka mengira Paman ada di pihaknya saat ini."
" Kau benar! Tapi aku akan bermain dengan sandiwara. Saat ini aku ingin masuk lebih jauh kedalam lingkungannya ada yang ingin aku selidiki lebih jauh."
" Apa yang ingin Paman selidiki?"
" Nanti kau akan tahu apa yang sedang Paman selidiki…" Senyumnya licik mulai mengembang saat ini.
" Paman jangan masuk terlalu dalam nanti Paman akan lebih sulit untuk keluar dari sana dan itu sangat bahaya bagi Paman sendiri…" Bryan memperingatkan laki laki tua itu.
Albert hanya tersenyum dia jelas tahu apa yang akan dirinya lakukan. " Aku tahu apa yang harus aku lakukan Bry, ada orang yang menantang ku maka dari itu aku memiliki tantangan untuk masuk dan tahu semua kegiatan mereka. Mereka terlalu bodoh menganggap Paman hanya seorang pengacara yang berada di dalam sidang sebenarnya Paman ada orang yang harus mereka takuti…" Ujarnya.
" Baiklah terserah Paman saja."
" Besok aku ada pertemuan dengan Aaron sebaiknya kau ikut dengan ku menjadi asisten ku."
" Sepertinya aku tak bisa Paman karena asisten nya mengira aku adalah orang nya. Kemarin lusa waktu mereka datang ke tempat Paman mereka mengira aku dan Antoni mengikuti Paman jadi mereka mengira kami adalah orang nya. Dan pada saat ini kami tahu sesuatu yang menurut kami mereka akan mengedarkan obat-obat itu tapi sampai sekarang belum ada pergerakan dari mereka tentang obat-obatan itu…" Bryan menjelaskan dengan Albert yang mengangguk mengerti.
" Tapi Paman aku memiliki ide agar aku juga bisa masuk kesana untuk menggantikan dua orangnya…" Sambungnya lagi.
" Apa ide mu?" Tanyanya dengan menatap ke arah Bryan.
Bryan hanya menarik bibirnya ada senyuman licik yang berada di wajahnya saat ini. Dan Albert juga menatapnya dengan heran.
\=\=\=
" Bry aku menunggumu!" Katanya dengan dia berdiri menghampiri kekasihnya. " Kau sudah makan?"
" Belum tapi aku tak lapar, aku ingin mandi…" Bryan sepertinya menghindari kekasihnya yang saat ini mereka sedang marahan.
Sarah menghela nafasnya dengan berat dia hanya melihat kepergian Bryan yang langsung masuk kedalam kamarnya begitu saja. Padahal dari tadi Sarah hanya menunggu kedatangan nya tapi setelah dia datang malah diabaikan oleh kekasihnya.
Sarah akhirnya masuk kedalam kamarnya dengan wajah lesunya karena percuma menunggu seseorang yang sedang marah saat ini.
" Padahal aku hanya ingin hidup tenang tapi sepertinya dia terlalu buta untuk melihat ini semua. Aku hanya tak ingin ada pertengkaran, darah dan kematian lagi. Semuanya cukup bagiku tapi nyatanya dia masih saja tak percaya dan menganggap aku masih memiliki rasa dengan Nicolas…" Gumam nya dengan dia berbaring di atas kasur miliknya.
" Sudahlah jika memang dia masih menganggapku seperti itu, biarkan saja. Jika tak ada rasa kepercayaan untuk apa membangun komitmen ini. Percuma, karena hanya akan ada aku yang berjuang untuk percaya dengan nya tapi dia tidak sama sekali…" Sarah terlalu lelah.
Pertengkaran mereka hanya karena salah paham antara dia dan Bryan. Bryan terlalu cemburu dengan laki laki yang bernama Nicolas dan itu membuat pertengkaran itu selalu ada di tengah-tengah mereka. Sarah memejamkan mata tapi air mata menetes begitu saja, dia menghapusnya dengan segera.
" Sarah tenang kau harus kuat! Jika dia bukan jodohmu maka lepaskan. Buat apa memiliki kekasih tapi kepercayaan sedikit saja tak dimiliki untuk mu. Lepaskan dia jika itu yang terbaik…" Dia menyemangati dirinya sendiri agar dia lebih kuat untuk merelakan kepergian Bryan.
Hatinya terluka tentu saja dia sangat terluka cinta yang diharapkan kini malah menjadi air mata yang begitu menyedihkan. Sarah sesekali menghapus air matanya dengan dia yang berusaha untuk tidur.
Sedangkan Bryan yang berada di dalam kamarnya tampak gusar telah mengacuhkan kekasihnya tadi. Dia mondar-mandir di dalam kamarnya karena gelisah karena melihat wajah kekasihnya yang sedih. Dia juga tahu bahwa Sarah tadi tentu saja menunggu dirinya.
Bryan dengan segera keluar dari kamarnya berharap wanita itu masih ada di sana tapi sayangnya wanita itu sudah masuk kedalam kamarnya. Dia menatap pintu kamar kekasihnya yang sudah tertutup rapat.
" Apa kamu sudah tidur?" Gumam nya pelan.
Bryan berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum tapi matanya melihat makanan yang sudah siap di atas meja makan.
" Sarah masak untukku?" Dia tak menyangka padahal mereka sedang bertengkar tapi wanita itu masih susah payah memasak untuknya.
Hati laki laki mana yang tak tersentuh melihat ketulusan tersebut. " Sarah sayang maafkan aku! Mungkin tadi aku sudah keterlaluan…" Bryan duduk dia melihat masakan yang telah disediakan oleh wanitanya.
Bryan dengan segera memakan masakan kekasihnya meskipun dia hanya seorang diri tapi dia begitu lahap memakan nya. Bryan yang tadi sebenarnya lapar tapi dia terlalu gengsi untuk mengatakan dia lapar di depan kekasihnya. Rasa marah dan cemburu menutupi semuanya hingga dia tak menyadari bahwa sikapnya tadi melukai hati wanitanya. Bryan yang terlalu cemburu membuat semuanya terlalu sulit untuk mereka jalani.
" Apa aku terlalu keras dengan Sarah? Apa aku tak berhak cemburu dengannya?" Tanyanya dalam dirinya sendiri.
Bryan membuang nafasnya dengan kasar lalu beranjak pergi dan memilih masuk ke dalam kamar nya. Meskipun dia sempat berhenti menatap kamar wanitanya tapi dia memilih untuk kembali masuk ke dalam kamar miliknya.