
Bruak!!
Bryan yang tadi masih menahan rasa amarahnya atas kepergian kedua orang yang tak bersalah kini dengan emosi yang sudah memuncak kini ia dengan tekad yang bulat ia datang menghampiri markas Arya. Kedua wanita yang ada di dalam mobil itu sempat tak setuju dengan tujuan Bryan tapi tak ada yang bisa ia lakukan selain mereka mengikutinya karena Bryan sudah masuk ke dalam markas tersebut dengan cara paksa.
Semua orang yang ada di sana kini merasa terkejut ketika mendengar suara benturan yang cukup keras dari arah depan. Arya yang berada di dalam kamarnya kini juga sama hal nya terkejut bukan main. Dengan langkah cepat dia keluar dari sana.
“ Ada apa?”
“ Arya.. Alex.. keluar kalian...” Bryan berteriak kencang dia tak peduli jika ia kalah kali ini.
“ Siapa dia?” Gumam Arya yang sama sekali tak mengenal suara Bryan yang saat ini sudah berdiri di depan mobil yang masih menyala.
“ Sarah kau tak apa?” Angel yang berada di belakang kini melihat keadaan Sarah yang masih memegang kepalanya.
“ Aku tak apa. Hanya terasa pusing...” Ujarnya karena kepalanya yang terbentur tadi cukup membuatnya pusing serta berkunang kunang. “ Kau tak apa?”
“ Aku baik. Ini hanya luka kecil....” Angel tersenyum kecut.
“ Arya keluar.. aku Bryan dewa kematian yang akan mengambil nyawamu...” Dadanya naik turun, Bryan dari tadi menahan emosinya saat ini dia ingin melampiaskan emosinya di sini.
Dor!! Dor!!
Dua orang yang muncul kini secara tiba tiba ditembak oleh Bryan dengan cepat. Bryan tak ingin melihat orang orang itu bukan mereka yang dia cari, melainkan Arya atau Alex yang ingin ia hadapi saat ini.
“ Arya...” Arya dan Alex yang sama sama keluar kini saling bertatapan saling tanda tanya atas suara yang begitu kencang di sana.
“ Tuan sebaiknya kalian di sini saja. Biarkan saya yang menghadapi nya....” Erik yang sudah datang dari tadi kini mencegah kedua bos nya untuk melihat siapa yang berteriak teriak di sana.
“ Tidak! Aku ingin melihat nya...” Alex yang juga tak familiar dengan suara itu merasa penasaran atas suara yang dari tadi menantang mereka.
“ Tuan Alex sebaiknya anda masuk! Anda belum pulih...” Cegahnya lagi.
Sedangkan Bryan yang mengamuk di sana dia membabi buta menghajar siapa saja yang menghalangi nya untuk menggapai kedua orang yang ia cari saat ini. Bryan tak peduli dengan orang orang yang di depan nya begitu banyak ia terus menyerang dengan tetap ia yang berdiri dengan kokoh.
Sedangkan orang orang yang mencarinya kini masih dengan penuh kekhawatiran karena dari tadi tampaknya orang orang tersebut belum menemukan sinyal yang jelas untuk mereka lacak.
“ Kalian belum menemukan nya?” Bariton dingin dari sang Singa membuat kedua orang yang duduk di depan nya dengan saling berhadapan merasakan suasana yang mengerikan.
“ Sebentar lagi bos...” Jawabnya dengan gugup.
“ Harus berapa lama kalian menemukan nya?” Meskipun tak ada suara tinggi atau nada bentakan tapi entah kenapa mereka begitu merasakan hawa yang membuat bulu kuduk mereka merinding.
“ Aku menemukan nya...” Salah satu dari mereka menemukan sinyal.
“ Dimana?” Harapan, hanya inilah harapan mereka saat ini.
“ Sinyalnya lemah jadi kita harus segera sebelum sinyal nya hilang.”
Mobil Van hitam yang tadinya lemah kini melaju dengan kencang dengan beberapa mobil yang lain mulai mengikutinya. Mereka berharap inilah jalan yang terakhir mereka tuju. Jika mereka salah bisa akan menjadi mangsa sang Singa yang dari tadi sudah ingin memakan orang hidup hidup.
“ Saya yakin Tuan! Sinyal nya di sini semakin dekat...” Dengan dia yang berharap agar sinyal itu tak hilang begitu saja.
“ Tuan!” Sang sopir yang melihat ada sebuah kabin yang terbakar dengan hanya ada sisa serta asap yang sedikit.
Semua orang keluar dengan mereka melihat kabin yang sudah tak berbentuk lagi. Kabin itu kini sudah terbakar habis hanya ada sebagian yang tersisa tapi tak ada apa apa yang bisa membuat mereka senang melihat kabin yang sudah hangus.
“ Kita terlambat!” Ujar Zac yang penuh dengan penyesalan. Jika saja mungkin mereka lebih cepat ini tak mungkin terjadi.
Semua orang yang melihat kabin itu hangus tak tersisa kini mulai mencari petunjuk yang membuat mereka membawa ke suatu tempat. “ Kau menemukan apa?” Abhi yang berjongkok seperti melihat sesuatu kini hanya bisa memberi kode untuk diam.
“ Apa?” Gumam nya dengan setengah berbisik.
“ Ada mayat yang juga ikut terbakar?” Jawabnya dengan juga berbisik.
“ Kau yakin itu mayat bukan kayu?” Abhi mengangguk. “ Kau bisa memastikan itu bukan Bryan?”
“ Entahlah! Aku sendiri juga tak terlalu sering bersama nya.”
Kedua orang itu kini panik mereka cemas mereka juga bingung harus menyampaikan bagaimana kepada bos nya yang raut wajahnya sudah kacau. “ Antoni kau lihat di bawah kaki ada sebuah mayat yang terbakar. Kau bisa pastikan itu bukan Bryan...” Abhi yang tadi menarik pelan Antoni menyuruhnya memastikan itu bukan Bryan keponakan nya.
“ Jangan sampai bos curiga. Aku gak ingin mayat ini malah dikira Bryan. Kau pastikan ini Bryan atau tidak.”
“ Tapi kita harus membawanya ke-“
“ Kau lihat barang-barang nya. siapa tau kau mengenal barang barang Bryan...” Ujarnya dengan kesal.
Antoni hanya mengangguk dengan perlahan dengan ditutupi Abhi dia berjongkok dengan mengerutkan keningnya dia sama sekali tak mengenali mayat yang sudah tak terlihat wajahnya. Barang barangnya pun sudah tak ada yang tersisa ataupun yang ia kenali lagi. Antoni hanya menggeleng perlahan tanda dia tak tahu siapa yang sudah menjadi mayat di sana.
“ Kalian menemukan sesuatu?” Johan berteriak kepada orang orang nya yang dadi tadi menelusuri daerah sekitar kabin tersebut.
“ Di sini semuanya sudah habis Tuan.”
“ Tak ada petunjuk apapun...” Harapan hanyalah harapan saat ini.
“ Tapi ada jejak mobil lain yang mengarah masuk kedalam hutan Paman...” Timpal Nathan yang juga ada di sana.
“ Mobil?”
“ Iya benar! Sebuah mobil. Apa itu Bryan atau bukan masih belum bisa dipastikan.”
“ Sebaiknya kita masuk kedalam mencarinya.”
“ Aku menemukan ini di sana...” Suhu itu membawa satu anting kecil yang pernah ia lihat sebelum nya.
Zac yang melihatnya hanya merasa asing karena ia tak tahu. “ Anting kecil ini pernah diberikan Nyonya kepada Sarah waktu mereka berjalan bersama dan kebetulan aku yang memilihkan nya.”
“ Jadi benar mereka ada di daerah sini. Ayo kita cari...” Zac yang tadi seakan tak memiliki harapan kini kembali bersemangat mencari putranya.