Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Rencana Awal 3



" Tuan saya sepertinya tau siapa di balik dalang ini semua…" Aaron yang kini menyandarkan punggungnya menatap asisten yang saat ini berdiri di antara meja kerjanya.


" Tapi maafkan saya Tuan saya belum bisa memberi info siapa atau menyeret orangnya untuk kemari. Saya harus memastikan dan mendapatkan bukti agar dia tidak berbelit saat di depan anda…" Sambungnya.


" Jadi kau masih mencurigai seseorang? Kau belum bisa membawa orang itu di depan ku sekarang?" Tanyanya dengan dingin. Suaranya yang ketus membuat Erik menunduk ketakutan.


" Maafkan saya Tuan tapi beri saya waktu untuk memastikan ini semua…" Katanya dengan penuh permohonan.


Aaron menghela nafasnya. " Baiklah aku akan memberikan waktu untuk mencari bukti yang kau katakan itu."


Tok! Tok! 


Suara ketukan pintu itu membuat Erik segera melangkah untuk membuka pintu yang tertutup.


Ceklek!!


Pintu yang terbuka memperlihatkan kedua sosok laki laki yang tak disuka saat ini. Mata Erik kini menatap tajam kearah seseorang yang berdiri di sebelah tamu yang datang. Tak ada kata ampun dari mata nya. Sebaliknya dengan orang yang di tatapan juga tengah menatap Erik dengan tatapan tak suka. Dia begitu membencinya saat ini.


Kedua laki laki itu saling menatap seperti mereka siapa saling membunuh. Pancaran mereka begitu tajam seakan mereka siap berperang saat ini juga.


" Erik siapa yang ada di depan pintu?" Bariton dari Aaron tetap tak mampu membuyarkan tatapan tajam dari Erik untuk satu orang yang berdiri di depannya saat ini.


Saat ini Erik tak terlalu fokus dengan satu orang tamu itu yang dia pandang saat ini adalah orang yang berdiri di sebelahnya dan tepat di depannya. " Tuan Albert dan James Tuan."


" Tuan Albert! Suruh segera dia masuk!" 


Albert yang mendengar namanya disebut kini dengan segera dia melangkah ketika Erik meminggirkan tubuhnya. James yang ingin masuk juga terpaksa dihadang olehnya.


" Kau tak dengar si bos hanya menyuruh Tuan Albert untuk masuk. Tak ada yang menyebut namamu di sini tadi…" Erik mendorong tubuh James untuk mundur. Dalam sekejap Erik juga keluar dan menutup pintu itu rapat-rapat.


" Aku hanya ingin bertemu dengan Tuan Aaron jadi aku juga berhak masuk ke dalam ada yang ingin aku bahas dengan si bos…" Suaranya juga begitu dingin.


James tersenyum miring. " Aku akan mengatakan bahwa aku memiliki target untuk dicurigai, dan aku rasa si bos juga sepakat dengan siapa nama yang aku kantoi saat ini."


" Kau mengantongi sebuah nama? Wouw!!!" Erik seakan mengejek saat ini bahkan senyumnya begitu sangat merendahkannya. " Tak ku sangka kau cepat mengantongi satu nama, tapi ingat James, Tuan Aaron bersama dengan ku tak hanya satu minggu tapi sudah bertahun-tahun jadi jika kau ingin mengatakan nama itu adalah aku maka kau cari perkara dengannya dan aku pastikan Tuan Aaron tak akan percaya dengan apa yang kau katakan."


James kini tertawa di sana meskipun apa yang dikatakan oleh Erik adalah benar tapi dia yakin nama itu akan membuat Tuan Aaron mencari buktinya. " Erik.. Erik.. jangan kau pikir kau orang yang di percaya Tuan Aaron lalu kau bisa bersikap sombong. Ingat seekor hewan saja bisa menggigit majikannya meskipun sang majikannya begitu menyayangi hewan peliharaannya. Apalagi manusia yang terkadang tak tau diri, yang bisa berkhianat di belakang bosnya."


Erik mengepalkan tangannya dengan hati yang begitu kesal kepada laki laki yang ada di depannya saat ini. " Jangan kau pikir juga bahwa kami takut kepada orang sini meskipun kami bukan orang sini. Dengar James kau orang baru di lingkungan kami jadi aku pastikan Tuan Aaron lebih percaya dengan nama yang dikantongi juga. Jika aku menemukan satu bukti saja untuk membawa orang itu maka aku pastikan nyawanya akan melayang dengan cara yang tak akan mampu dipikirkan oleh orang itu…" Ancamnya dengan penuh penekanan.


James hanya diam apa yang dikatakan oleh Erik membuatnya merinding. James tau dia bukan lawan yang pas untuk mereka. James hanya bandit kecil yang beruntung bisa bekerja sama dengan kelompok Erik. 


" Kenapa kau diam? Kau takut? Jika kau tak bersalah jangan takut kawan. Kau dan aku memiliki satu nama yang mungkin berbeda, tapi jangan terlalu sombong bahwa namamu yang akan diambil oleh Tuan Aaron. Ku pastikan nama yang aku bawah yang akan hancur…" Erik menepuk pelan pipi James dengan nada yang mengejek.


James lagi lagi hanya diam dia tak mampu untuk berbicara. Rasa percaya dirinya tadi sebelum bertemu Erik kini lenyap seketika, dia yang yakin bahwa bosnya akan percaya dengan apa yang nanti dia katakan sekarang lenyap seketika. Rasa percaya itu kini di banting ke dasar oleh Erik.


Erik yang melihat wajah James begitu tegang kini langsung tersenyum penuh kemenangan. Dia yang yakin bahwa nama nya yang di bawah oleh James sekarang kini mampu di banting ke dasar oleh Erik. 


Kau percaya sekali bahwa Tuan Aaron percaya denganmu. Kau pikir dia tak tau siapa aku dan siapa dirimu. Dia akan lebih percaya kepada ku di banding orang yang baru berapa minggu dikenal. 


Apa yang dikatakan Erik benar, mana mungkin Tuan Aaron percaya kepada ku bahwa asistennya ini yang berkhianat. Malah aku sendiri yang terkena amukan darinya, jika begitu aku lebih baik mencari bukti agar Erik tak mampu mengelak lagi dengan apa yang aku tuduhkan. 


Kedua laki laki itu saling bertatapan dengan arti yang berbeda, mereka seakan saling menyerang satu sama lain  dengan pancaran mata yang begitu tajam.


" Ingat James jangan sampai nama yang kau punya itu malah berbalik menyerangmu dan menjadikan bumerang bagi dirimu dan orang-orangmu. Kau hanya bandit kecil di sini…" Bisiknya dengan tersenyum kemenangan.


Erik yakin saat ini rasa percaya diri yang tadi di miliki oleh nya hilang begitu saja. Erik lah yang menghancurkan rasa percaya diri dari James yang tadi seakan menggebu-gebu. Erik pergi meninggalkan James yang hanya terpaku dengan diam.


Saat ini Erik mungkin menang karena dia yakin bosnya tak mungkin percaya dengan apa yang dikatakan oleh James jadi Erik tak perlu khawatir tentang apa yang akan terjadi. Sedangkan James saat ini memutar otaknya untuk berpikir bahwa dia harus menemukan bukti untuk menyudutkan Erik.


" Kau lihat saja Tuan Erik ku pastikan bandit kecil ini yang akan mengalahkan kesombongan itu, aku  yakin kau pelaku dari ini semua…" Gumamnya dengan pelan. " Kau akan berakhir setelah aku mendapatkan satu bukti untuk menyeret mu di depan si bos."