
" Erik…." Suara teriakan yang menggelegar di markas itu membuat sang yang punya nama langsung berlari menghampiri bosnya yang berteriak dengan kencang.
Erik yang tadi memikirkan cara untuk menjebak lawannya kini dengan cepat berlari. Langkah kakinya begitu lebar dia begitu tergesa-gesa. Semua orang yang mendengar suara dingin itu merasakan merinding bukan main, tak terkecuali Bryan dan Antoni yang mendengar suara itu.
" Apa akan ada bencana Bos?" Bisik Antoni yang hanya di balas dengan senyuman licik dari Bryan.
Semua orang yang melihat Erik berlari merasakan ketakutan, mereka semua sama sama takut dengan suara yang seakan ingin memakan mereka semua hidup-hidup.
" Di mana si bos?" Tanyanya dengan nafas yang hampir habis.
" Sepertinya di sana!" Mereka semua menunjuk satu tempat di mana yang tak ada yang boleh tau sandi dari pintu itu.
Erik dengan cepat menuju ke arah tempat yang dimana ada bosnya saat ini menunggu dengan kegarangan yang sia0 menerkam mangsanya hidup hidup.
Habislah riwayatmu Erik. Batin James yang merasa senang karena dia bisa tau dari suara bosnya jika saat ini dia sedang marah.
" Bos anda memanggil saya!" Nafasnya terputus-putus dia yang langsung berdiri di depan bosnya dengan keringat yang sudah penuh di dahi nya.
Aaron menatap asisten nya dengan tatapan dinginnya.
Plak !!!
Satu tamparan yang keras serta cepat membuat Erik masih sulit mencerna apa yang terjadi pada dirinya saat ini. Dia hanya diam dengan pemikiran yang tak tau apapun saat ini. Bahkan saat ini dia juga tak tau kesalahan apa yang telah ia lakukan hingga untuk pertama kalinya bosnya menampar dirinya.
" Bos apa kesalahan say-"
Bug!!!
Erik yang belum sempat melanjutkan ucapannya kini lagi lagi harus menerima pukulan telak di wajahnya. Dia mundur dengan terhuyung. Kejadian yang cepat membuat Erik tak bisa menghindar dari serangan tersebut. Erik yang masih tak tau apa yang terjadi hingga bosnya begitu marah kepadanya.
" Bos tunggu dulu, tolong jelaskan kesalahan saya agar saya tau di mana salah saya…" Kali ini dia mundur agar jauh agar bosnya sulit menjangkau dirinya saat ini.
Erik paham betul bahwa dia akan langsung memukul Erik jika dia masih belum puas dengan rasa kesalnya saat itu.
" Kau masih bertanya kesalahanmu? Kau tak sadar di mana salahmu hah?" Katanya dengan nada tinggi. " Berapa tahun kau ikut dengan ku? Hingga kau berani membodohi ku seperti ini?"
" Bos saya tidak tahu apa maksud anda, saya tentu saja tidak berani membodohi anda."
" Tuan cukup mungkin dia memang tidak tau apapun saat ini…" Laki laki yang dari tadi menyaksikan adegan itu kini mencoba mencegahnya.
" Dia memang harus di beri hukuman agar dia tau dimana salahnya. Selama ini aku terlalu mempercayakan semuanya kepadanya hingga dia berani berbuat macam macam seperti ini kepada ku."
" Tuan Aaron tolong maafkan saya! Tapi saya sungguh tidak tau apa kesalahan saya…" Erik dengan cepat bersujud di kaki bosnya dia memohon ampun meskipun dia tak tahu kesalahannya saat ini.
Erik selama bekerja bertahun tahun bersama Aaron untuk pertama kalinya dia melakukan kesalahan bahkan untuk pertama kalinya dia dipermalukan di depan satu orang yang juga ada di sana saat ini.
" Kau lihat ini! Kau lihat dengan teliti!" Katanya dengan dia yang menyeret Erik cukup kasar hingga dia berada di depan peti. " Kau masih tak tahu salahmu?"
" Tuan saya-"
Bugh!!!
Lagi lagi Aaron memukul Erik yang dia juga belum tau apa kesalahannya saat ini. Dia hanya bisa pasrah saat ini ketika tendangan demi tendangan diberikan oleh Aaron begitu saja.
" Tuan Aaron hentikan dia bisa mati jika anda menghajar nya seperti itu…" Laki laki itu menarik Aaron untuk menjauh.
" Biarkan saja Tuan Al biarkan saja dia mati itu sebagai hukuman karena sudah mmenuat saya malu di depan anda…" Katanya dengan nada sinis.
Erik yang masih tergeletak di lantai mencoba untuk bangun rasa sakit juga menjalar ke seluruh tubuhnya tapi dia tak peduli dengan rasa sakit itu. Erik merangkak menyentuh kaki laki laki tua yang masih menahan amarahnya itu.
" Ampuni saya Tuan.. ampuni saya.. tolong kasih tau saya kesalahan apa yang membuat anda sangat marah kepada saya…" Katanya dengan dia memohon pengampunan.
Albert yang berada di sana kini menarik ujung bibirnya dengan dia yang tersenyum tipis dia menyaksikan sendiri mereka perlahan hancur saat ini.
" Kau tak tahu? Sejak kapan kau bodoh!" Teriaknya tepat di depan Erik dengan tangan nya mencengkram leher Erik hingga membuat Erik sendiri sulit bernafas.
" Saya.. tidak.. tau.. kesalahan saya Tuan…" Katanya dengan dia yang hampir kehabisan nafasnya saat ini.
" Kau lihat senjata itu? Aku sudah katakan untuk pesan senjata dengan simbol Singa, bukan kah aku sudah mengatakan berulang kali."
" Saya sudah melakukan seperti yang anda katakan bos! Senjata senjata itu saya pesan dari kelompok yang memiliki simbol Singa."
" Kau pikir aku buta!" Aaron menghempaskan Erik dengan kasar hingga membuat Erik lagi lagi terbatuk dengan menyentuh lehernya.
" Ini memang simbol Singa tapi lihat ini, lihat!" Erik melihat senjata yang sekarang di lempar ke arahnya.
Simbolnya memang Singa tapi itu hanya sebuah simbol yang bisa di beli di toko mana pun, bukan simbol Singa yang asli. Erik melototkan matanya ketika melihat simbol palsu itu. Dia berdiri dengan cepat melihat semua senjata yang baru datang beberapa minggu kemarin.
" Bos ini tidak mungkin, saya sendiri yang mengecek barang barang ini datang dan saya juga sudah melihat simbol Singa kemarin asli bos…" Erik dengan cepat menjelaskan apa yang dia lihat dari kemarin.
Awal barang barang itu datang semuanya asli. " Tak mungkin aku bisa melakukan kesalahan seperti ini bos, saya yakin kemarin asli bos!" Lagi lagi Erik mengatakan apa yang dilihat kemarin.
" Kau pikir simbol ini bisa berubah sendiri hah?"
" Tuan ini ada kesalahan, saya yakin ini ada yang menukar. Saya yakin ini ada yang menukarnya Tuan."
Aaron tertawa keras mendengar apa yang dikatakan oleh asistennya tersebut. " Ruangan ini hanya kamu dan aku yang tau sandinya."
Erik menunduk. " Tuan maafkan saya, ruangan ini juga bukan hanya kita yang tau tapi James juga tau sandi ruangan ini. Apa anda lupa ini markas siapa Tuan."
Aaron terdiam dia melupakan ini rumah dari siapa, ini markas siapa pun dia juga lupa. Aaron bahkan juga melupakan bahwa ruangan ini ada orang tiga yang tahu.
" James…" Teriaknya dengan keras.