
Bryan hanya termenung dia tak bisa berkata apa apa selain mengatur rencana yang ada di otak nya saat ini. Bryan yang merasa gagal membawa kabur saksi itu kini merasa bersalah karena dia terlambat membawa pergi orang itu.
Tetapi dia masih ingat betul apa yang dikatakan oleh orang yang sudah pergi itu, dia akan selalu mengingatnya dalam pikirannya saat ini.
" Bos-"
" Aku memikirkan rencana kita kabur malam ini. Jika kita tak kabur malam ini kita tak akan bisa kabur…" Potongnya dengan cepat.
" Lalu apa yang anda pikirkan saat ini?"
" Ada beberapa rencana yang aku pikirkan saat ini! Tapi satu rencana yang matang yang aku pikirkan…" Katanya dengan menatap kedepan. " Paman Al kapan datang?" Sambungnya dengan menatap kearah Antoni.
" Entahlah aku juga belum mendapatkan kabar lagi dari paman Al…" Jawabnya dengan juga menatap kedepan.
Suara kunci dari sel itu terbuka mereka semua yang ada di sana langsung menatap kearah pintu sel yang terbuka. Seorang sipir laki laki yang menatap kedepan kini masuk dengan berjalan pelan.
" Malam ini giliran kalian membagikan makanan ke seluruh tahanan yang ada di sini."
Kedua laki laki itu mengerutkan keningnya. " Apa?" Tanyanya lagi.
" Kalian membagikan makanan malam ini."
Mereka berdua hanya mengangguk dengan tak mengerti. Kini sipir itu pergi dengan segera tapi sebelum dia pergi dia berbalik menatap kearah kedua laki laki yang ada di sana.
Sipir itu pelan melempar satu botol kecil Bryan dengan segera menangkapnya. Bryan segera menggenggamnya dengan erat. Kini mereka berdua tahu apa yang dia katakan.
***
" Ini benar benar kejam!" Zac mengertakan giginya.
" Albert malam ini kita harus membawa mereka kabur dari sana! Aku tidak mau tahu apapun alasan kalian, yang jelas mereka harus bisa lolos dari sana."
Para orang orang itu kini mengangguk dengan mereka menyusun rencana yang akan mereka gerakan malam ini. Valerie kini merasa geram ketika melihat pembunuhan yang cara mengenaskan seperti ini.
" Hubby bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa kalian bisa kecolongan seperti ini?" Suara sinis dari Valeria kini membuat sang suami menatapnya dengan tatapan datarnya.
" Aku tak tahu sayang tapi yang jelas ini akan membuat kita merasa harus bangkit dari tidur kita. Masalah ini tak hanya masalah satu pembunuhan tapi ada beberapa orang yang akan menanggung akibat dari ini semua."
" Apa maksud mu?"
" Ada beberapa orang yang juga memiliki kekuasaan yang melindungi orang orang yang bersalah seperti mereka."
" Aku ingin mereka semua menanggung akibatnya dari perbuatannya mereka ini. Pembunuhan ini begitu keji, Amel juga dibunuh seperti itu dan sekarang paman nya telah dibunuh seperti ini."
Sarah yang baru saja tiba di apartemennya setelah mengantar sang adik ketempat yang aman, kini dia dengan segera masuk ke kamarnya, dia ingin membersihkan dirinya dengan segera, rasa lengket sangat menempel di kulitnya hari ini.
Sarah memandangi dirinya di cermin menatap dirinya dengan tatapan datarnya,dia mengusap wajahnya dengan kasar dia menghela nafasnya cukup berat saat ini.
" Ini semua salahku, andai saja aku tak ingin membalas dendam kematian Amel mungkin ini semua tak terjadi. Mungkin Bryan juga tak akan mengorbankan dirinya masuk ke dalam penjara dan paman juga tak akan mati seperti itu, Leon kini harus menjadi yatim piatu hanya karena aku yang berniat membalas dendam kepada orang orang itu…" Gumamnya sendiri.
Dia merasa saat ini adalah kesalahan dirinya, andaikan dia tak meminta bantuan sang paman dan membiarkan sang paman tinggal di sana mungkin sang paman tak akan mati seperti itu. Rasa bersalah memenuhi hati dan pikirannya.
Bryan yang juga mengorbankan dirinya kini juga berada di otaknya, Amel yang terjun menjadi wanita nakal juga karena kasihan kepadanya. Rasa bersalah Sarah kini penuh di hatinya.
" Andaikan semuanya aku tahu dari awal mungkin ini tak akan pernah terjadi, Amel mungkin tak akan pergi, paman juga tak akan mati seperti itu dan Bryan tak akan masuk ke dalam penjara. Ya Tuhan ini semua salah ku…" Matanya kini berkaca kaca.
Seakan semua apa yang terjadi adalah kesalahannya, apa yang saat ini terjadi padanya dan orang orang sekelilingnya adalah kesalahan terbesarnya. Rasa penyesalan dan rasa duka kini menyelimuti hati wanita cantik itu. Dia menyesal telah mengetahui semuanya ketika kematian telah merenggut miliknya selama ini.
" Maafkan aku andaikan aku tahu dari awal mungkin aku bisa mencegahnya. Setidaknya aku bisa melarangmu untuk mencari pekerjaan di tempat seperti itu…" Sambungnya dengan meneteskan air matanya dengan deras.
Kini dia ingat adiknya yang hanya dia punya juga pergi saat ini tak ada yang dia miliki selain hanya luka dan duka yang ada di hatinya. Luka dan duka ini tak akan bisa disembuhkan apapun caranya, dia merasa hancur ketika orang orang yang sekelilingnya terkena imbas dari masalah dirinya.
Balas dendam ini membawa petaka untuk semua orang bahkan orang yang tak bersalah pun juga terkena imbasnya dari mereka yang ingin tau keberadaan wanita cantik ini.
Di tempat lain komandan itu tertawa puas dia yang mendapatkan kabar bahwa saksi itu telah mati dengan racun yang menyebar kini dia merasa lega setidaknya dia tak memiliki saksi apapun lagi yang memberatkan mereka.
Bruak!!! Pintu itu terbuka dengan paksa seorang laki laki tua yang berpakaian seragam lengkap masuk secara paksa dan itu membuat kedua orang yang tadinya tertawa langsung membisu seribu bahasa.
" Selamat datang Sir!"
" Bisa jelaskan kenapa tahanan di sini ada yang keracunan makanan?" Katanya dengan sinis dan tanpa basa basi.
Kedua orang itu saling menatap dengan heran setahu mereka kabar kematian ini tak menyebar kemana mana bahkan para polisi yang ada di tempat kejadian tak akan berani membuka hal ini.
" Jenderal apa maksud anda? Kami berdua tak tahu?" Komandan itu ternyata masih berusaha untuk menutupinya dia masih mengelak tentang ini semua.
Jenderal dengan cepat melempar foto yang ada di tangannya, di sana ada sebuah foto bahwa orang itu meninggal di pangkuan Bryan bahkan dengan darah yang penuh dari mulutnya.
Komandan dan bawahannya hanya saling menatap dengan ketakutan. " Jelaskan tak hanya itu, nama orang itu pun juga tak ada di daftar para tahanan yang ada di sini. Dia siapa dan kenapa kau menyembunyikan ini semua?" Bentaknya menggelegar membuat mereka berdua memejamkan matanya.
" Sir kami sungguh tak tahu! Kami hanya menjalankan tugas untuk menangkap dia dalam kasu-"
" Kasus apa hingga membuat dia berada di sel tikus berminggu minggu? Apa dia membahayakan tahanan lain? Dan kenapa nama nya tak ada di daftar para tahanan?" Jenderal itu kini mencecar semua pertanyaan yang membuat kedua orang itu diam membisu.