Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Balas Dendam 15



" Kau sudah datang!" Seorang laki laki yang juga tua datang menghampiri Albert yang sudah duduk di ruangan kerja miliknya.


" Aku langsung datang kemari."


" Apa ada hal yang sangat penting yang ingin kau bahas dengan ku? Sepertinya ini bukan masalah biasa?" Kedua laki laki itu duduk dengan saling berhadapan satu sama lain. 


Albert menatap ke arah laki laki tua itu dengan tatapan penuh khawatir. " Ada apa? Apa begitu serius?" Tanyanya lagi dengan penasaran.


" Aku juga tak tahu Paman ini serius atau tidak tapi yang jelas apa yang aku dengar tadi membuat ku tak yakin…" Jawabnya dengan ragu.


Sebenarnya Albert sendiri tak yakin bahwa apa yang didengar tadi adalah fakta, tapi dia juga tak bisa menganggap itu semua adalah kebohongan. Dia tau bahwa tak mungkin mereka hanya mengancam tapi dia juga tak yakin bahwa mereka masih ada.


" Sebenarnya ada apa katakan dengan jelas jangan memberiku teka-teki karena aku sudah tua."


Albert menghela nafasnya. " Aku tak tahu cerita dari mana Paman tapi aku harap Paman mengerti apa yang aku ceritakan..." Laki laki tua itu mengangguk. Albert kini mulai menceritakan semuanya apa yang sedang terjadi pada kelompoknya saat ini.


Laki laki tua itu mendengarkan ceritanya dengan teliti meskipun terkadang terlihat jelas ada kerutan di keningnya ketika Albert terus bercerita kejadian yang saat ini sedang dialami nya.


***


" Dingin… tolong saya.. saya kedinginan…" Rintihnya laki laki itu membuat semua orang yang berada di sana hanya bisa melihatnya.


" Tolong saya dingin.. berikan apa saja asal saya tidak kedinginan…" Gumam nya lagi. Laki laki itu kini masih terbaring jatuh dilantai dengan sekujur tubuhnya di ikat di kursi.


" Tolong berikan saya apa saja…" Lagi lagi dia penuh permohonan tapi mereka yang ada di sana tak peduli mereka hanya melihatnya dengan senyum di bibirnya.


" Lawan kita bukan orang yang patut ditakutkan sekarang, kau lihat saja satu suntikan saja membuat dia seperti hewan tak berdaya…" Salah satu dari mereka kini berkomentar dengan menatap orang yang mereka sekap tak berdaya.


" Apalagi kita memberikan obat yang lebih tinggi!" Timpal yang satunya lagi.


Tap!! Tap!! Tap!!


" Apa ada yang akan datang?" Mereka saling bertatapan karena mendengar suara langkah kaki masuk ke arah mereka.


" Sepertinya tidak!" 


Mereka bertiga kini siap-siap dengan senjata di tangan mereka juga mengatur tempat dimana mereka siap untuk menembak orang yang akan masuk secara tiba-tiba. Sedangkan dua orang tadi dengan segera menyembunyikan Nicolas yang saat ini sudah lemas tak berdaya.


Ceklek!! 


" Wouw…" Suara terkejut dari laki laki itu juga mengejutkan mereka yang akan masuk ke dalam ruangan yang tertutup.


" Tuan Antoni saya pikir anda siapa?" Antoni lah yang masuk ke sana dengan sengaja.


" Kalian pikir siapa heh?" Tanyanya dengan menatap sinis ke arah mereka yang tiba tiba menodongkan senjata ke arah nya.


" Maafkan kami! Nona maafkan kami juga…" Mereka segera meminta maaf.


" Di mana Nicolas?" 


" Mari kami antar!" Mereka semua kini berjalan semakin masuk ke dalam ruangan yang gelap itu.


Ternyata tak hanya satu ruangan tapi ada dua ruangan di sini. Batin Sarah.


Dia tak menyangka ruangan yang terlihat kecil itu kini juga memiliki ruangan lain di dalam sana. 


" Dingin.. tolong aku…" Rintihnya lagi.


Nicolas. 


Sarah maju dengan sendiri langkah kakinya seakan membawa dirinya untuk mendekat. Bukan karena cinta tapi karena mereka saling kenal pada masa lalunya.


" Tolong katakan kepadaku bahwa kau yang melakukan pembunuhan terhadap adik dan paman ku…" Sarah berjongkok dia menatap iba kepada Nicolas tapi dia juga harus berbuat seperti ini karena ulah dari laki laki itu sendiri.


Nicolas berusaha payah untuk mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang ada di depannya saat ini. " Katakan bahwa kau memang pembunuh Amel, katakan apa motifmu membunuh Amel adik ku."


" Sarah? Kau kah itu?" Nicolas berusaha payah untuk membuka matanya tapi dia masih kesulitan membuka matanya saat ini.


" Katakan kenapa kau membunuh adikku?" Sarah menekan kata kata nya dengan dingin.


" Tolong aku.. aku kedinginan saat ini…" Ujarnya dengan penuh permohonan.


" Itu bukan jawaban atas pertanyaan ku! Aku hanya ingin kau mengakui bahwa kau yang membunuh adikku dan Paman ku dan katakan kenapa kau begitu tega membunuh mereka…" Matanya kini berkaca kaca.


" Sarah kau tahu aku tak mungkin melakukannya.. aku tak mungkin membunuh mereka…" Ucapnya dengan berbohong.


" Di saat nyawa mu dalam bahaya pun kau masih saja berbohong kenapa kau tak mengakui saja bahwa kau memang melakukannya dan kami akan menyerahkan kepada kepolisian dan masalah selesai."


" Tapi aku memang tak melakukannya…" Elaknya lagi.


" Kau dari dulu memang tak pernah mengakui kesalahan mu dan itu tampaknya selalu menjadi pendirian mu karena tak pernah mau mengakui kesalahanmu."


" Sarah saat ini hanya kamu yang bisa membantuku.. tolong lepaskan aku.. katakan kepada mereka bahwa aku tak bersalah sedikitpun."


" Buka matamu dan lihat aku."


Nicolas berusaha untuk membuka matanya tapi sayangnya semakin dia melawan mata itu semakin membuatnya tersiksa. Dia ingin sekali membuka mata tapi matanya seakan tertempel dengan sempurna.


" Aku tak bisa membuka mata ku!" Katanya dengan panik. 


Sarah menoleh kebelakang dia meminta penjelasan tentang ini semua. " Kau harus berusaha agar kau bisa melihat bahwa aku bukan Sarah yang bisa kau tipu lagi seperti dulu. Sekarang aku Sarah orang yang akan mengambil nyawamu saat aku mau."


" Sarah apa kau tak ingat kita adalah-"


" Aku salah mengenal dirimu waktu itu, aku menyesal pernah menjadikanmu teman, kau bukan orang yang baik pada akhirnya…" Sarah bersungguh-sungguh mengatakan hal tersebut.


Mungkin jika dia dulu tak mengenal Nicolas mungkin saat ini mereka saat ini sedang bersama dengan adiknya tapi semuanya sudah terjadi, menyesal pun tak ada gunanya saat ini. 


" Sarah aku sungguh kedinginan tolong bantu aku sekali saja.. aku akan berhutang nyawa kepada mu…" Katanya dengan penuh permohonan.


" Nyawamu tak ada gunanya saat ini Nic! Jika saja kau bukan orang yang melakukan pembunuhan itu aku bisa menolongmu tapi sayangnya kau pelaku utama yang kami cari."


" Aku tidak membunuh adikmu.. bukan aku pembunuhnya…" Dia berontak membuat Sarah mundur seketika.


" Nona sebaiknya anda menjauh."


Sarah segera berdiri dia menjauh dari Nicolas yang berontak di sana. Sarah menatapnya dengan datar. 


Jlep!!!


Satu suntikan lagi menembus kulitnya, dalam sekejap Nicolas diam dengan dia yang kembali merintih kedinginan saat ini.


" Suntikan apa itu?" Sarah bertanya karena penasaran.


" Kenapa dipindah keruangan sini?" Bariton dari seorang yang berada di ambang pintu membuat mereka menoleh secara bersamaan.


Hari ini Mince cuma mau absen kalian aja 🤭