
“ Dimana Nicolas?”
“ Dia aman bos!”
“ Perketat keadaan sepertinya akan ada peperangan sebentar lagi.”
“ Baik bos.”
Sambungan telepon itu kini ditutup ketika dia sudah selesai menyelesaikan apa yang ingin dia katakan. Zac dan beberapa orang lainnya tak mungkin untuk menukar tahanan mereka dengan Sarah, tapi mereka juga tak mungkin membiarkan Sarah berada di bawah tangan mereka begitu lama.
“ Kita harus bertindak secepatnya.”
“ Dad kita harus membawa Nicolas, hanya itu permintaan mereka. Mereka hanya ingin menukar Nicholas dengan Sarah...” Zac menghela nafas nya dengan kasar ketika mendengar permintaan putranya.
“ Kita akan cari cara agar Nicolas juga tak bisa ditukar dengan Sarah.”
“ Cara?” Bryan mengulangi kata kata sang Daddy. “ Dad ini sudah lama Sarah berada di tangan mereka dan Daddy masih ingin mencari cara?”
“ Bryan kita tak mungkin datang kesana hanya untuk memberikan Nicolas atau mengabulkan apa yang mereka minta. Itu tak masuk akal. Kita semua sudah susah payah menangkap mereka, dan kau akan menyerah begitu saja? Ayolah kita masih punya banyak cara untuk tidak mengabulkan permintaan bajinga*n tersebut.”
“ Aku tidak mengerti dengan apa yang Daddy pikirkan. Dia seorang wanita sendirian...” Bryan menekan kata kata nya. “ Dia pasti takut menghadapi semua orang yang saat ini mengincar nyawanya.”
“ Bryan tenanglah dulu, jangan termakan ancaman kosong mereka.”
“ Tapi Paman-“
“ Disana ada orang orang kita yang sudah mengintai pergerakan mereka, bahkan mereka juga sudah memberitahu Paman bahwa Sarah baik baik saja saat ini. Ancaman itu hanya omong kosong...” Albert yang dari tadi menahan diri akhirnya mengatakan apa yang dia ketahui.
“ Jadi maksud Paman?”
“ Orang orang kita sebenarnya sudah tau Sarah ada disana. Mereka mengintai Arya dari kemarin,..” Zac menghela nafasnya dengan berat. “ Alex kabur dari tahanan.”
“ APA?”
***
“ Kau yakin dengan apa yang kau katakan?”
“ Saya yakin Tuan! Sepertinya kita harus bertindak cepat sebelum kita kebobolan lagi untuk kedua kalinya.”
“ Apa yang dikatakan Erik benar Tuan Arya, kita harus segera bertindak sekarang.”
Arya hanya mengangguk menyetujui dengan apa yang dikatakan oleh kedua orangnya saat ini.
“ Lakukan dengan segera rencana kalian, aku akan ikut rencana kalian berdua.”
Erik dan James saling berpandangan dengan saling mengangguk mereka sepakat dengan rencana yang saat ini sudah mereka katakan kepada bosnya. Sedangkan Arya kini masih fokus dengan keadaan kedua cucunya yang mungkin saat ini sedang dalam keadaan bahaya.
“ Jadi kau masih belum ingin bicara siapa kalian sebenarnya?”
Plak!! Satu tamparan keras kini kembali melayang cukup membuat Sarah menahan rasa sakit yang terasa sangat panas serta kebas di pipinya.
“ Jadi kau masih tak ingin mengaku hah?” Bentaknya bersamaan dengan tarikan yang kencang pada rambut panjangnya yang terurai.
“ Sekalipun kau menyiksa ku bahkan kau membunuhku sekalipun aku tak akan mengatakan siapa kami...” Sarah tampak sangat memilih untuk disiksa dibanding membongkar siapa mereka.
Prok! Prok! Prok!
“ Kau setia sekali dengan kekasihmu itu?” Arya bertepuk tangan ketika dia masih melihat kesetian yang diberikan Sarah meskipun saat ini dia sudah ditampar dengan keras.
“ Aku tak memiliki hak untuk menjawab semua pertanyaanmu...” Erik yang juga masih menarik rambut Sarah kini hanya menatap Sarah dengan emosi.
“ Baiklah jika begitu. Kau mungkin setia dengan kekasihmu itu, tapi berikan aku alasan kenapa kalian ingin menghancurkan kami, bahkan aku sendiri tak mengenal kalian.”
Sarah tersenyum kecut. “ Kau memang tak mengenal kami Tuan Arya tapi Alex dan Nicolas cucu kesayangan itu sangat mengenal kami terutama aku dan adikku Amel.”
Arya menyuruh Erik untuk melepaskan tarikan itu membuat Sarah sedikit lega karena sedari tadi dia meringis kesakitan ketika kepalanya ketarik kebelakang karena rambutnya sengaja ditarik oleh Erik.
“ Alex dan Nicolas mengenal mu dan adikmu?” Arya sedikit paham bahwa ada sesuatu dendam yang terpancar. “ Apa kesalahan.. mereka...” Arya kini gugup dia takut kejadian bertahun tahun yang dia sembunyikan sudah terulang lagi disini.
“ Jika kau bertemu dengan salah satu cucumu kau bisa bertanya apa kesalahan mereka hingga harus terjadi seperti ini...” Arya terdiam tapi dia tampak sangat gusar. “ Tapi jika Tuhan masih mengizinkan mu bertemu dengan mereka.”
“ Apa maksud dengan ucapanmu?”
“ Sudah ku katakan, bahwa mereka juga tidak akan tinggal diam. mungkin kalian tidak tau bahwa aku hanya seorang teman dengan Bryan, kami hanya saling membutuhkan. Jadi jika kalian menyekap aku pun tidak akan membuat mereka datang kemari, jika pun kalian membunuhku pun mereka tidak akan peduli...” Sarah terpaksa harus berbohong dia mencari cara agar mereka berpikir bahwa saat ini mereka sia sia telah menjadikan dirinya umpan.
“ Tapi mereka akan senang hati membunuh kedua musuhnya. Alexander dan Nicolas sekarang berada ditangan mereka, mereka bisa saja dan kapan saja membunuh salah satu dari mereka. Jadi jika kalian menjadikan aku umpan untuk mereka datang, kalian salah besar, karena aku bukan siapa siapa yang penting bagi mereka...” Sarag mencoba untuk tersenyum tenang agar mereka lebih percaya bahwa mereka tidak akan pernah datang.
“ James kau sudah mengirim pesan kepada Bryan?”
“ Aku sendiri yang mengirimnya Tuan bahkan aku juga sudah mengatakan bahwa wanita ini ada disini...” Erik juga mulai berpikir bahwa mereka sia sia saat ini.
“ Lalu apa tanggapan dari Bryan?” Erik menggeleng dengan kecewa.
Sarah tertawa cukup keras dengan penuh mengejek. “ Sudah ku katakan aku bukan siapa siapa mereka. Mereka tidak memiliki kewajiban untuk menyelamatkan aku jadi itulah tanggapan dari Bryan. Dia tidak akan pernah datang.”
“ Tidak mungkin dia tidak akan pernah datang, kalian cukup dekat di rumah sakit.”
Lagi lagi Sarah tertawa. “ Sudah ku bilang kami hanya saling membutuhkan, apa kau mengerti maksudku?, kami hanya saling membutuhkan satu sama lain. Tak ada yang spesial di antara kami.”
“ Dasar bodoh!” Arya kini mengumpat cukup keras dan kemudian pergi begitu saja karena kecewa. Apa yang dia harapan tak sesuai dengan kenyataan saat ini.
Erik yang tadinya senang kini juga dibuat terdiam, dia juga berpikir bahwa ini semua ternyata sia sia. Dia yang tadi bersusah payah menculik wanita yang dikira sosok wanita spesial dari lawannya kini hanya bisa gigit jari mendengar apa yang dikatakan oleh wanita itu.
Sedangkan Sarah tertawa puas melihat wajah semua orang yang penuh dengan kecewa saat ini. Sarah yang terus tertawa ketika dia sendiri di ruang itu sebenarnya menutupi rasa takutnya, meskipun dia berhasil telah membuat skenario ini semua tapi rasa takut itu masih tak bisa ia tutupi.