Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Pergerakan 14



“ Kau memiliki kekuatan yang besar ternyata. Kau anak mudah yang tangguh...” Puji Arya ketika melihat Bryan sudah membalikan posisi.


Dia yang tadi hampir mati di tangan Alex kini dengan hitungan menit membalikan keadaan dengan dia yang sudah berada di atas angin karena dia yang menang karena membawa senjata dengan dia yang menodongkan senjata itu di orang yang sangat berarti bagi semua orang saat ini.


“ Lepaskan dia atau ku tembak kepala cucumu...” Ancamnya dengan nada dingin nya. 


Arya tersenyum sinis karena dia tak bisa berkutik karena dia tau kelemahan nya saat ini. “ Kau cukup pintar memanfaatkan keadaan rupanya.”


“ Jangan banyak bicara karena aku tak butuh omong kosongmu. Lepaskan Sarah atau ku tembak dia...” Bryan kembali mengancamnya dengan sungguh sungguh.


“ Jika aku tidak mau...” Arya tanpak ingin keras kepala mempertahankan apa yang ia punya untuk menukarnya dengan sosok cucu satunya. “ Bukan kah sudah ku katakan untuk kita saling menukar dan kita akan saling melupakan.”


Dor!!


Argh....


“ Tidak....” Arya berteriak ketika suara tembakan serta suara teriakan yang keras.


“ Kau tak memiliki pilihan Tuan Arya. Lepaskan dia atau ku tembak kepalanya sekarang juga...” Bryan tak main main dengan ancamannya saat ini. Dia yang tadi menembak Erik secara tiba tiba membuat semua orang tahu bahwa dia tak main main dengan ancamannya untuk membunuh.


Arya menatapnya dengan ragu. “ Diam mu ku anggap memilih mempertahankan dia dan memilih cucumu mati.. maka jangan salahkan aku.”


Bryan yang sebenarnya juga takut atas pilihan yang tak dipilih oleh Arya. Dia harus siap kehilangan apapun saat ini.


“ Okey! Aku kalah aku menyerah. Lepaskan wanita ini...” Bryan sedikit tersenyum ketika ancamannya mampu membuat kakek tua itu tak bisa berkutik kecuali menuruti apa yang ia katakan.


Satu orang yang kini melepaskan ikatan Sarah juga merasakan hawa dingin yang begitu mencengkam disana. Sarah dengan cepat berlari menuju kearah Bryan yang mengulurkan tangan nya. sarah yang tadi menangis kini sedikit tersenyum ketika ia kembali merasakan pelukan serta melihat kekasihnya masih hidup dan membalikan keadaan saat ini.


“ Berdiri...” Alex menuruti apa yang dikatakan Oleh Bryan. “ Jalan.. bawa aku keluar dari sini...” Sambungnya.


Bryan masih menodongkan pistolnya ke arah Alex meskipun kedua orang itu sudah berjalan untuk keluar dari markas yang penuh dengan orang orang yang sudah siap akan menghajarnya jika diperintahkan. Dengan langkah mundur mereka berjalan keluar dengan dibantu oleh Alex yang juga membuka jalan dengan terpaksa.


Sedangkan dia yang melihat kearah kamar yang tadi ada sosok wanita kini berhenti ketika melihat wanita itu juga ada di ambang pintu dengan juga menatap ke arahnya. “ Dokter Angel tak ku sangka kita bertemu di markas ini. Tak ku sangka kau memilih bersama para bajinga* ini dibanding bersama orang medis. Aku awalnya tak percaya tapi sekarang aku tau bahwa kaulah pengkhianat di sini.”


“ Kau mengenalnya?”


“ Sepertinya tebakan ku benar bawa kau lah orang yang sudah membantu bajinga* ini kabur dari tahanan.”


“ Jika dia orang yang sudah membantu nya maka nama Dokter Angel tak pantas untukmu tapi pengkhianat yang lebih cocok untuk mu.”


“ Tuan Bryan maafkan saya, tapi apa yang mereka lakukan sudah-“


“ Keterlaluan?” Bryan memotong cepat. “ Kau mengira mereka menghukum bajinga* ini tanpa sebab?”


“ Jangan kaitkan masalah ini dengan Angel dia tak tahu apapun.”


“ tak perlu kau jelaskan kepada wanita ini, karena dia tak akan pernah tau.”


“ Kau benar!”


“ Kita harus berlari setelah ini, mereka tidak akan melepaskan kita dengan mudah...” Bisiknya yang diangguki Sarah.


Mereka berdua kini telah berada di depan pintu markas, jantung mereka terasa ingin lepas, matahari yang hampir tenggelam membuat suasana semakin terlihat begitu mengerikan, jika pistol itu benar benar bersarang di kepala Alex maka tak ada yang mereka lakukan kecuali perang yang terjadi.


Dor!!


Argh...


Satu tembakan yang sengaja dilakukan oleh Bryan membuat Alex harus merasakan untuk kedua kalinya pada kakinya karena tembakan Bryan. Semua orang panik bukan main ketika melihat Alex terjatuh dengan darah yang merembes keluar dari kakinya saat ini.


Tap!! Tap!! Tap!! Kedua orang itu kini berlari dengan kencang, Bryan dan Sarah saling bergandengan tangan mereka berlari masuk ke arah hutan. Kedua orang itu terus berlari kencang mencari tempat aman untuk mereka.


“ Kejar mereka dan tangkap...” Arya yang panik serta marah kini menyuruh semua orang mengejar Bryan dan Sarah yang berlari meninggalkan markas tersebut.


“ Alex kau tak apa?”


“ Aku tak apa kakek.. tak apa...” Dia meringis kesakitan ketika dia harus merasakan sakit pada kakinya yang terkena tembakan tersebut.


Beberapa orang telah membopong Alex untuk kedalam untuk mendapatkan pertolongan. “ Erik bawah mereka kembali, jika tidak berhasil maka bunuh mereka. Jika mereka mati kita bisa menggunakan ponselnya untuk mengetahui posisi dimana Nicolas berada...” Arya menatap tajam ke depan kilatan kemarahan serta dendam yang sungguh membara saat ini.


“ Aku akan membunuhnya.”


Erik yang mendapatkan perintah tersebut kini dengan cepat menyusul orang orang nya yang telah dulu mengejar Bryan dan Sarah. Erik juga tak lupa membawa senjata untuk dirinya menghabisi kedua orang yang saat ini sedang ingin bermain main dengan mereka.


Sedangkan Angel kini terduduk sedih ia yang terus menerus mendengar penghinaan dan kata kata pengkhianat untuk dirinya membuat hatinya bergejolak tak rela. Ia merasakan kesedihan karena panggilan yang tak seharusnya ia terima saat ini. Dia hanya ingin menolong tapi di rasa pertolongan ini juga tak bisa dibenarkan.


Dia mengusap wajahnya dengan kasar, menghapus air matanya yang terus menerus keluar. “ Pengkhianat!” Dia tersenyum getir tak karuan saat ini.


“ Aku salah....” Dia menangis. 


Saat ini dia menyadari bahwa ia telah salah membantu Alex kabur dari penjara, Angel menatap sekeliling ruangan nya. dia tersenyum kecut ketika ia sadar bahwa ia tak seharusnya ada di tengah tengah dendam yang sudah membara seperti ini.


“ Dokter.”


“ Alex kau kenapa?”


“ Tertembak tapi sepertinya hanya meleset.”


“ Letakkan disini biarkan aku melihatnya.”


Alex yang sudah duduk dengan ia memeriksa kaki Alex. “ Kau benar tembakannya meleset dari kakimu.”


“ Jangan pikirkan yang dikatakan Bryan tadi.”


“ Sepertinya benar nama yang cocok untuk ku penghianat dan aku seharusnya tak ada disini, berada di tengah tengah dendam yang membara… " Ucapnya dengan nada sedihnya.