
“ Bryan awas...” Sarah yang berteriak kencang membuat Bryan langsung menoleh kebelakang.
Dengan ia menahan sesuatu di tangan nya, James yang dikira sudah tak bisa berbuat apa apa kini malah terbangun dengan sebuah pisau di tangan nya. Bryan yang cepat kini menahan pisau itu dengan tangan. James yang ingin menusuknya kini tak bisa karena pisaunya berada di tangan Bryan.
Mata mereka saling bertatapan tajam. Darah segar terus mengalir dari tangan Bryan tapi Bryan tak peduli. Dengan rasa amarah yang tinggi mereka saling bertatapan seakan mereka saling ingin menjatuhkan satu sama lain.
Bugh!!
Bryan yang kini menendang James membuatnya langsung tersungkur lantai dengan cukup keras.
Jlep!!
James melotot dengan menahan rasa sakit ketika pisau itu kini di tancapkan tepat di dada bagian kiri tubuh James. Bryan yang sudah tak bisa mengendalikan dirinya menarik pisau tersebut lalu menusuknya lagi berulang kali hingga darah mengenai wajah nya begitu saja.
Dengan nafas yang tak beraturan dia melihat James yang sudah kehilangan nyawa nya karena dirinya kini langsung membuang pisau tersebut. Menatap kedua lawan nya yang sudah tak bisa bergerak lagi. Dengan kaki yang lemas dia terjatuh dengan air mata yang menetes ke pipinya.
Dia tak menyangka bahwa ia begitu cepat membunuh kedua orang yang sempat ia kenal. Bryan tau ini bukan salah mereka tapi mereka yang tak bisa menentukan pilihan untuk maju atau mundur dan nyatanya mereka memilih untuk maju dan menyerang Bryan sebagai musuh yang harus mereka bunuh.
“ Bry kamu tida-“
“ Aku baik.. aku baik-baik saja...” Bryan sekuat hatinya tetap tenang meskipun dirinya sebenarnya sedikit terguncang atas perbuatannya sendiri yang sudah membunuh orang yang ia kenal untuk beberapa bulan ini.
“ Bry?” Guncangan pada tubuhnya membuat ia tersadar dari rasa bersalahnya.
Mungkin dia sempat lupa bahwa peperangan pasti ada yang harus mati. Membunuh atau terbunuh itu adalah hal yang wajar dalam perang.
“ Kita harus pergi dari sini...” Bryan segera berdiri. Menatap kedua orang yang baik telah mati dalam keadaan yang juga mengenaskan.
Bryan menutup matanya sebentar lalu menghampiri laki tua yang saat ini sudah tergeletak tak bernyawa. “ Maafkan kami. aku datang terlambat. Mungkin jika aku datang cepat kalian tak akan menjadi korban seperti ini.”
Bryan dengan segera mengeluarkan kedua orang yang saat itu sudah memberikan pertolongan bahkan dengan rela mengorbankan nyawanya demi melindungi dirinya dan sang wanita. Sarah hanya menatapnya dengan bingung.
“ Kau buka pintu mobil itu!”
Sarah dengan perasaan tanda tanya dia tetap membuka pintu mobilnya. “ Bry apa yang kau lakukan? Kau ingin membawa mereka kemana?”
Bryan tak menjawabnya ketika ia sudah berhasil membawa masuk kedua orang yang sudah menolongnya kedalam mobil miliknya. Bryan kini malah masuk kembali ke dalam kabin menatap tajam kearah kedua orang yang juga sama sudah tak bernyawa. Bryan dengan cepat berlari ketika ia berhasil melemparkan korek api ke dalam kabin yang sudah basah karena bensin yang telah di siram ke dalam kabin.
“ Apa ya-“ Sarah menutup mulutnya tak percaya ketika melihat kabin itu kini berkobar api yang sudah menjulang dengan cepat.
“ Masuk!” Perintahnya.
Tanpa banyak kata dan banyak bicara Bryan membawa mobil tersebut dengan cepat. Bryan yang belum puas kini masih ingin mencari jalan menuju ke markas orang orang yang sudah membunuh pasangan suami istri yang tak bersalah dalam hal ini.
Ceklek!!
“ Angel kamu tak apa? Apa kamu lapar?” Alex yang secara diam diam masuk kini langsung bertanya kepada wanita yang menatapnya dengan tajam.
“ Untuk apa kau datang kemari? Pergilah. Aku tak butuh bantuanmu...” Usirnya dengan sinis.
Alex menghela nafasnya dengan berat.” Angel maafkan aku. Aku tak bisa berbuat banyak. Aku tak bisa untuk tak menuruti perkataan kakek.”
“ Kau tak bisa menuruti perkataan kakek mu. Tapi aku bisa tak mendengarkan apa yang dikatakan orang orang tentangmu. Sekarang aku tahu bahwa kau tak akan pernah berubah. Dalam kehidupan ku selama ini, baru kali ini aku menyesal menolong seseorang...” Senyumnya dengan sinis.
“ Maafkan aku. Aku tahu aku salah, tapi aku juga tak bisa berbuat apa apa. Aku hanya minta kau berkata jujur untuk mengatakan siapa Bryan ini.”
“ Sudah berapa kali harus aku katakan bahwa aku memang tidak tahu siapa Bryan ini. Kenapa kalian masih saja tidak percaya. Aku memang tidak tahu siapa Bryan. Aku hanya mengenal Nathan yang sebagai atasan ku dan Bryan sepupunya. Hanya itu tak lebih.”
“ Kenapa kau sulit sekali untuk mengakui nya...” Alex yang tadi berjongkok kini berdiri dengan menatap Angel dengan tatapan yang berbeda.
“ Meskipun kalian membunuhku sekarang pun sekali aku mengatakan aku tidak tahu maka jawaban ku sama tidak tahu.”
“ Jadi kau memilih untuk di siksa?”
“ Lebih baik kau siksa aku, agar aku sadar bahwa apa yang aku lakukan salah. Meskipun kalian menyiksa ku jawaban ku tetap sama karena aku memang tidak tahu...”Ujar nya dengan menatap Alex.
Kedua mata itu saling bertatapan dengan pandangan yang berbeda. Angel saat ini menatapnya dengan tatapan kebencian sedangkan Alex menatapnya dengan pandangan kata ‘maaf’ tak ada yang bisa mereka lakukan selain hanya bisa mengikuti alur cerita yang mereka buat sendiri.
“ Kau yang memilih jalanmu sendiri maka jangan salahkan aku jika aku tak bisa membantumu keluar dari sini.”
“ Aku tak masalah tak bisa keluar dari sini. Mungkin memang sudah tak takdir ku jika aku harus mati di tangan orang yang sudah aku tolong...” Angel tersenyum kecut dengan kata kata nya sendiri.
“ Bagaimana bisa orang yang sudah aku perjuangkan hidupnya, orang yang membuatku melepaskan semuanya, orang yang sudah aku pertaruhkan nyawa ku, kini dengan sengaja ingin membunuhku. Aku tak menyangka Tuhan begitu cepat membalas perbuatan ku...” Sambungnya dengan lirih penuh dengan kekecewaan.
“ Angel.”
“ Sudahlah sebaiknya kau pergi dari hadapanku karena aku sendiri tak ingin melihat wajahmu...” Usirnya dengan mata yang berkaca kaca. Orang yang sudah dianggap seperti keluarga kini malah tega menghancurkan dirinya seperti ini.
“ Aku minta-“
“ Aku tak butuh permintaan maafmu. Sebaiknya kau pergi dari sini karena kita bukan orang yang dekat seperti dulu. Mungkin aku orang yang terlalu ‘naif’ dan terlalu baik hingga aku tak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk seperti mu.”
Alex hanya bisa diam ketika Angel berkata kasar tentang dirinya. Apa yang dikatakan nya memang benar karena dia sendiri tak bisa berbuat apa apa selain hanya bisa melihat orang yang dicintainya kini malah tersiksa karena dirinya.