Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Arya Brotherhood 1



" Kenapa dipindah keruangan sini?" Bariton dari seorang yang berada di ambang pintu membuat mereka menoleh secara bersamaan.


" Tidak! Tadi kami pikir ada orang asing yang masuk karena tak ada yang memberi kabar bahwa ada yang akan datang kemari tapi ternyata Nona Sarah dan Tuan Antoni yang datang…" Jawab salah satu dari mereka.


" Untuk apa kau datang kemari?" Antoni bersikap sinis kali ini. Dia tak akan ramah tamah kepada orang yang tidak disukai oleh bosnya meskipun mereka adalah satu tim.


" Aku hanya kebetulan lewat sini dan aku mampir…" Elaknya. 


Sebenarnya dia ingin tahu perkembangan kasus yang saat ini sedang ditangani oleh mereka tapi tak disangka bahwa dia malah bertemu dengan kedua orang yang juga berada disana.


" Dingin…" Teriakan yang keras membuat semua orang yang ada di sana kini menoleh ke arahnya kembali.


" Mari sebaiknya kita keluar jangan berada di sini! Dia bisa mendengar kita bicara…" Semua orang mengangguk.


Sarah sebenarnya tak ingin pergi dia masih ingin melihat apa yang terjadi kepada Nicolas tapi dia juga tak bisa membantah apa yang disuruh oleh mereka saat ini.


" Kalian tadi menyuntikan apa kepada tubuhnya? Kenapa dia sangat kesakitan seperti itu!" Sarah bertanya karena dia memiliki rasa begitu penasaran apa yang terjadi.


" Bukan apa apa Nona hanya obat penenang saja!" Elaknya dengan cepat.


" Kalian membohongiku! Mana mungkin obat penenang seperti itu. Meskipun aku bukan dokter aku tahu mana obat untuk menenangkannya atau tidak…" Nadanya berubah menjadi sinis. Dia ingin tahu apa yang di suntikan mereka tadi.


" Nona kadang ada hal yang tak bisa kami beri tahu kepada anda, ini rahasia dari kami."


" Tapi aku juga tim kalian-"


" Nona Sarah maaf!" Antoni segera memotong dengan cepat. " Apa yang dikatakan oleh mereka benar, tidak semua yang mereka kerjakan anda harus tahu, semuanya ada porsi nya masing masing dan tugas masing masing. Hanya mereka yang tahu apa tugas mereka Nona."


" Kalian tidak sedang meracuni nya bukan?"


Ketiga orang itu kini tertawa mendengar tuduhan yang secara langsung untuk mereka. " Nona Sarah maaf sekali lagi, kami tak berkewajiban menjawab pertanyaan anda…" Mereka tetap tak ingin membuka satu saja yang melegakan hati Sarah.


" Sarah sebaiknya kamu jangan tanya lebih detail lagi, mereka tidak akan menjawab pertanyaan yang tak seharusnya mereka jawab."


" Tapi Cris-"


" Kenapa kalian berdebat?" Suara yang tak asing itu membuat Sarah terdiam dan tak melanjutkan apa yang ingin dikatakan lagi. " Antoni kau sudah datang kemari?"


" Tuan Bryan kami baru saja datang!" 


" Sarah aku dengar suaramu paling kencang ada apa? Kau punya masalah disini atau mereka tak sopan kepadamu?" Bryan menyilangkan tangan nya ke dada menatap Sarah dengan serius.


" Tidak! Tuduhan-"


" Nona Sarah hanya ingin tahu apa yang kami suntikan kepada Nicolas Bos."


" Nona juga menuduh kami meracuni nya!" 


" Suntikan! Meracuni! Sarah apa yang terjadi?" 


" Jika kamu tak bisa menjelaskan nya maka Antoni yang menjelaskannya!" 


" Tidak aku yang akan menjelaskannya…" Sarah dengan cepat mengatakan apa yang terjadi dan apa yang dia lihat dia juga mengatakan apa yang dilihat olehnya.


Bryan menampakkan wajah yang tak bersahabat bahkan dia menatap datar ke arah Sarah. Mereka semua diam ketika melihat wajah gelap dari Bos nya saat ini.


" Aku tak bermaksud apa-apa hanya saja aku ingin tahu apa yang sedang disuntikan oleh mereka itu saja…" Sambungnya lagi.


" Kita memang satu tim tapi tidak semua apa yang kita kerjakan kau harus tahu. Mereka sudah tahu mana yang bahaya dan mana yang tidak, jika mereka meracuni Nicolas mu itu maka dapat dipastikan dia sudah mati dan tak akan berteriak seperti sekarang…" Ujarnya dengan sinis.


" Semua yang bekerja disini adalah orang yang sudah ahli dan mereka sudah mendapatkan tugas nya masing masing tanpa perlu kau tahu semua tugas itu. Jadi berhenti berdebat dengan hal yang tak pasti…" Sambungnya.


Sarah menghela nafasnya berat dia sudah yakin ini akan terjadi. Pertengkaran dan cemburu akan berbuntut panjang setelah ini.


" Aku minta maaf! Lain kali aku tak akan bertanya apa apa lagi kepada kalian…" Jawabnya dengan masih rasa penasaran.


Meskipun dia menyerah tapi dia juga masih memiliki rasa penasaran itu tapi sayangnya dia tak memiliki keberanian untuk melanjutkan apa yang ada di otaknya.


" Cristian ada perlu apa kau datang kemari?" Kini dia beralih kepada sosok laki laki yang ada di sebelah Sarah.


" Tidak ada aku hanya ingin melihat perkembangan nya, apa dia sudah membuka suara atau tidak."


" Lain kali Kau tak perlu repot-repot datang kemari! Kau hanya bisa menghubungi William atau aku bertanya tentang perkembangan kasus ini. Semakin banyak yang sering melewati daerah sini maka membuat ini semua tak aman. Kita belum mendapatkan bukti apapun tentang pelakunya jadi jangan membuat kecurigaan apapun…" Peringatan pertama yang dilayangkan oleh Bryan kepada Cristian.


" Baiklah lain kali aku akan lebih hati hati dan akan ku lihat kondisi nya jika datang kemari."


" Aku tak menyuruhmu untuk melihat kondisi dan berhati-hati jika datang kemari. Aku menyuruhmu untuk menghubungi kami lewat ponselmu! Apa kau tuli tidak bisa membedakan apa yang aku katakan dengan apa yang kau sangka barusan…" Bryan menekan kata kata nya.


Dia yang berkuasa saat ini semua orang yang berada di bawah pimpinan nya harus menurut kepadanya karena demi kebaikan mereka semua.


" Apa ada yang salah jika aku datang ke-"


" Ada seorang yang ingin mengetahui keberadaan Nicolas jadi kita harus lebih hati-hati sekarang. Aku tak ingin semuanya terbongkar sebelum kita mendapatkan bukti bahwa kita menyekap Nicolas di sini. Semakin sering ada orang yang melewatinya maka semakin membuat orang curiga dengan markas ini."


" Baiklah aku tak akan datang jika begitu, lain kali aku akan menghubungi William saja jika ingin bertanya…" Cristian tak bisa mendebatnya saat ini.


" Bagus jika kau mengerti apa yang dimaksud…" Bryan melirik kearah Sarah yang dari tadi hanya diam seribu bahasa setelah berdebat sedikit dengan nya. 


Sarah hanya menunduk dia tak berani menatap wajah Bryan dia tahu laki laki itu hanya akan marah kepadanya.


" Apa dia masih mau mengakui kesalahannya?" 


" Belum Bos bahkan dia memberontak ketika kami semua semakin memaksa nya untuk mengakui semuanya."


" Lakukan apa saja asal kita mendapatkan bukti bahwa dia pelaku utama yang membunuh Amel dan Pamannya."


" Baik Bos."