
Kedua mata wanita itu saat ini tengah saling berpandangan dengan arti yang berbeda. Mata wanita yang satunya memancarkan ketakutan sedangkan yang satu nya saat ini tengah meneliti wajah wanita yang ada di depannya.
Wanita yang hampir tua itu kini memegangi tangan wanita yang muda yang ingin memukulnya dari belakang. Jika saja dia tak bisa mendengar langkah kaki di belakangnya mungkin gagang sapu itu akan mengenai kepalanya.
Tetapi karena telinga wanita itu lebih peka maka sapu itu tak bisa menyentuh kepalanya sedikit pun. Kedua wanita itu masih bertatapan dengan jantung yang berdebar tak karuan. Jantung mereka terasa ingin lompat. Adrenalin mereka seakan di uji disini.
" Lepaskan!" Berontaknya dengan keras.
" Jadi kau yang tinggal bersama Bryan putraku…" Jawabnya dengan tersenyum.
Wanita yang ketakutan kini langsung melotot sempurna, dia tak menyangka bahwa wanita yang begitu cantik adalah ibu dari pemilik apartemen yang saat ini dia tinggali.
" Jadi anda-" Sarah tak bisa melanjutkan apa yang ingin dia katakan.
Valerie tersenyum tipis dengan merebut sapu yang ada di tangan nya, Sarah saat ini masih terpaku tak percaya dengan apa yang dia dengar.
" Duduklah! Jangan takut, aku tak akan menggigitmu…" Senyumnya dengan mengajak wanita yang terpaku itu duduk.
Sarah pasrah ketika tangan lembut wanita itu mengajaknya untuk duduk bersama. Sarah masih menahan rasa malunya dengan menutup wajah.
" Siapa namamu?" Tanyanya dengan menatap ke arah wanita itu.
" Sarah! Tante maafkan saya, saya tidak tahu jika anda adalah ibu dari Bryan, saya pikir anda penyusup yang masuk ke sini…" Sarah dengan cepat menjelaskan apa yang ada di pikirannya.
Dia sungguh tak tahu bahwa wanita yang dikira penyusup itu adalah penjahat yang ingin mengincar dirinya. Valerie hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh wanita itu.
Valerie menyentuh tangan Sarah yang dingin. Tangan nya begitu dingin dan berkeringat dia begitu gugup dan merasa bersalah karena tadi sempat ingin memukulnya.
" Tak apa Sarah jangan takut seperti ini. Aku bisa memahami apa yang kau rasakan ketika ada orang yang tiba tiba datang kemari tanpa permisi. Sebenarnya ini juga salahku karena tak memberi tau dulu tadi."
" Tetapi sama saja yang salah tetap saya Nyonya! Jika saja tadi saya mengenai kepala anda maka saya akan merasa sangat bersalah dan Bryan pasti akan sangat marah karena sudah mencelakai orang yang dia sayangi…" Mata wanita itu berkaca kaca, saat ini hatinya begitu merasa sangat bersalah andai tangan wanita tadi tak mencegahnya dapat dipastikan pukulan itu akan melukainya dengan cukup parah.
" Tak apa sayang! Ini hanya kesalahan paham. Jika begitu kita sama sama salah agar tak ada lagi perdebatan antara kita."
Valerie tersenyum ketika menyadari wanita muda yang didekati putranya begitu anggun. Sedangkan Sarah masih sangat tak enak hati kepada ibu dari laki laki yang sudah menolongnya.
" Nyonya ingin minum apa! Biarkan saya yang membuatkan!" Katanya dengan cepat agar tak ada kecanggungan diantara mereka.
" Jangan memanggil ku Nyonya, kamu bisa memanggilku Mommy seperti Bryan!"
Lagi lagi Sarah terpaku dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu, dia tak menyangka semua orang saat ini begitu baik kepadanya.
" Kenapa kau diam? Apa kamu tak mau menjadi bagian keluarga ku?" Tanyanya dengan sungguh sungguh.
Suara langkahnya pelan kini mendekati dirinya dengan pelan, dia sadar ada yang tak beres dari orang orang yang ada di sini. Tapi Antoni sungguh orang yang paham betul dengan gerak gerik yang mencurigakan.
Suara langkah itu menghilang tepat di sebelahnya saat ini. Matanya yang terpejam tetapi jangan di ragukan apa yang akan dia lakukan. Orang itu tiba tiba mengangkat tangannya dengan menunjukkan satu pisau kecil yang ada di tangannya.
Dengan senyum yang mengembang dan menganggap dia akan berhasil melukai laki laki yang saat ini dia kira tertidur pulas. Dengan sombongnya dia ingin melakukannya.
Bugh!! Tetapi sedetik kemudian lutut Antoni menghantam perut orang yang ingin menusuknya dengan pisau kecil tersebut. Orang itu terguling ke bawah dengan cepat dengan pisau yang terlempar ke bawah.
Semua orang yang merencanakan hal itu kini langsung terkejut ketika serangan dadakan terjadi di sana, mereka tak menyangka bahwa orang itu masih terjaga dengan langsung menghantam orangnya yang ingin melukainya.
Antoni langsung bangkit dari tidurnya dia berdiri dengan menginjak kaki orang itu dengan kencang. Orang itu berteriak pelan ketika kakinya di injak oleh Antoni.
" Kalian pikir aku tak tahu apa rencana kalian yang ingin mencelakai ku he?" Katanya dengan senyum tipis.
" Jangan merasa sok jagoan di sini!" Jawab orang itu dengan menahan rasa sakit.
" Jagoan? Kau ingin menantangku?" Antoni langsung menarik baju orang itu hingga orang itu bangun dari jatuhnya tadi.
" Kita lihat siapa yang jagoan! Aku atau kalian semua…" Tantang nya dengan rasa kesalnya.
Bug!
Antoni dengan cepat menghantamkan kepalanya dengan kepala orang itu, Antoni yang biasa tak merasakan sakit meskipun ada sedikit rasa pusing di kepalanya. Sedangkan orang itu kini langsung ambruk tak berdaya di bawah kakinya.
Orang orang yang ada di sana kini maju dengan menyerang Antoni tapi sepertinya lawan mereka salah. Antoni yang dari kecil sudah dilatih oleh Ayah nya merasa tak memiliki ketakutan sedikitpun ketika dia dikelilingi oleh orang orang yang ingin menghajarnya.
" Maju…" Ujarnya dengan cepat.
Mereka satu persatu maju dan satu orang kini juga dengan cepat lumpuh di kaki Antoni. Kini giliran satu orang lagi yang juga ingin membela temannya, dia yang maju hanya mendapatkan tendangan tepat di alat vita* nya juga sudah jatuh terguling dengan merasakan rasa sakit yang teramat.
Antoni tersenyum sinis ketika melihat tiga orang yang tak memiliki kekuatan malah ingin menyerangnya. Kini tinggal satu orang yang menatapnya dengan tajam dari tadi. Sepertinya dia laki laki yang menjadi pimpinan kamar tersebut.
Antoni bahkan tak getar sama sekali dia hanya bersikap tenang meskipun dia dipandang tajam oleh satu orang yang masih duduk di kasurnya. Antoni juga menatapnya dengan datar bahkan tak ada rasa ingin mundur.
" Hebat juga ternyata dirimu! Aku juga melihat temanmu yang bertarung dengan orang tadi. Kalian sama sama hebatnya…" Pujinya dengan berjalan.
" Aku tak butuh pujianmu…" Jawabnya dengan sinis. " Aku tak suka basa basi dengan kalian, katakan siapa yang menyuruh kalian untuk menyerang kami?"
Orang itu hanya tertawa keras ketika Antoni langsung bertanya tentang siapa yang menyuruh nya untuk menyerang malam malam.
Mince lagi sakit kepala dan badan masih belum bisa di ajak kompromi kalau bisa nanti up lagi ya 🙏🙏🙏