Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Balas Dendam 7



Flashback On


" Tuan Al kita mendapatkan tawaran yang sangat bagus!" Asisten laki laki itu masuk dengan wajah sumringah bahkan dia juga tak lupa membawa sebuah tablet di tangannya.


Albert yang bergelut di depan layar hanya bisa melirik ketika sang asisten masuk dengan wajah senangnya. 


" Tuan saya baru mendapatkan laporan dari cabang yang ada di Negara A, bahwa ada seorang pebisnis meminta kita untuk menangani sebuah kasus."


" Lalu apa hubungannya dengan kita? Bukannya di sana sudah ada yang bagus. Serahkan saja kepada nya jangan semuanya harus meminta persetujuan dengan ku… " Katanya dengan dia yang tak peduli dengan kabar yang di bawah oleh sang asisten.


Sang asisten hanya menghela nafasnya karena bosnya belum sepenuhnya mendengar apa yang ingin dikatakan olehnya.


" Kenapa masih di sini? Sana pergi!" Ujarnya dengan dingin.


" Tuan Al dengarkan saya dulu! Cabang kita memang sudah menyetujui untuk membantu klien ini hanya saja-"


" Hanya saja?" Potongnya dengan cepat.


" Hanya saja kasus yang awalnya ingin di serahkan di cabang kita dan orang orang kita sudah mempelajari kasusnya dan klien tersebut baru mengatakan bahwa kasus nya ada disini dan menjadi perbincangan di kota kita."


Albert mengerutkan keningnya mendengar penjelasan sang asisten seketika dia menghentikan aktivitasnya dia menatap sang asisten dengan mengingat bahwa kasus apa yang tengah ramai di kota ini.


" Klien tersebut juga mengatakan akan membayar lebih dari harga yang biasanya, dia bahkan mampu dan memberikan apa yang kita butuhkan asal kasus ini bisa anda tangani."


" Mereka tinggal di Negara A dan memiliki kasus disini?" Ulanginya.


" Iya Tuan! Tadi saya sudah sempat mengobrol dengan asisten orang tersebut dan saya sudah menanyakan hubungan mereka apa? Tapi mereka masih belum memberikan jawaban nya. Dia hanya bilang jika waktunya tepat aku akan memberitahu hubungan kami."


Albert mengangguk. " Berarti ada saudaranya yang tertimpa masalah di sini dan mereka yang ada di sana ingin meminta kita menanganinya…" Sang asisten mengangguk.


" Baiklah berikan dulu berkasnya biar aku yang mempelajarinya dan katakan pada orang orang kita yang ada di cabang jangan ada yang pernah mau menerima sepeser pun pemberian mereka."


" Tapi orang orang kita sudah menandatangani berkas menjadi pengacara mereka Tuan?"


" Apa?" Al terkejut. " Apa mereka yakin bahwa orang yang ingin mereka bela orang tak bersalah?" Nadanya langsung naik tinggi. " Serahkan berkasnya aku akan mempelajarinya dulu dan katakan pada mereka keputusan ada ditanganku."


 


" Baik Tuan!" Sang asisten mengangguk mengerti bosnya tak akan bisa dibantah jika sudah berkata. Dia segera pergi dan meninggalkan bosnya yang ingin mempelajari berkas yang tadi diberikan kepadanya.


Flashback Of 


***


" Saya ingin bicara dengan Tuan Albert! Apa saya bisa bicara dengannya?" Seorang yang berbicara di seberang ujung telpon.


" Maaf Tuan tapi Tuan Al menolak untuk menjadi pengacara anda!" 


" Saya sudah diberi tahu oleh orang cabang sini!" Katanya dengan sinis. " Saya hanya ingin tau alasan nya kenapa dia menolak kasus ini? Apa bayaran yang kami berikan kurang? Aku bisa memberikan cek kosong untuk kalian."


" Tapi maaf Tuan ini bukan masalah nominal nya-"


Asisten dari Albert hanya menghela nafasnya dengan berat dia juga tak tahu kenapa alasan bosnya tak ingin menerima tawaran besar ini. 


" Saya akan datang kesana untuk menemui bos mu! Katakan pada Tuan Albert bahwa dua hari lagi kami akan menemuinya…" Asisten dari Aaron langsung memutuskan panggilan tersebut.


Sedangkan asisten dari Albert kini segera masuk ke dalam ruangan bosnya untuk mengatakan kepadanya. " Tua Al Klien yang anda tolak kemarin dua hari lagi ingin bertemu dengan anda."


" Aku tak ingin bertemu dengannya!" Tolaknya dengan tegas.


" Tapi mereka sepertinya memaksa Tuan! Apa tidak sebaiknya anda menemui mereka dulu karena tak pantas menolak tamu yang sudah datang jauh jauh kemari…" Ucapnya dengan hati hati.


" Kau sedang memberitahu atau sedang mengajariku?" Albert menaikan nada suaranya membuat sang asisten langsung menunduk.


" Maaf Tuan! Tapi mereka ingin sekali bertemu dan meminta anda menjelaskan alasannya kenapa anda menolaknya. Padahal cabang kita sudah menandatangani nya…" Sang asisten masih menunduk dia tak berani menatap bosnya.


" Sudah berapa kali aku bilang bahwa aku tidak akan pernah membela orang yang salah! Kau dengar aku?" Dia menekan kata katanya agar sang asisten tahu.


" Maafkan aku Tuan!" 


" Kasus yang ingin kalian bela itu adalah kasus yang menjadi bahan perbincangan di kota ini dan dia sudah menghilangkan nyawa orang banyak, dia mengorbankan bawahannya. Bagaimana bisa aku membantunya membebaskan dia dengan jaminan berapapun yang seperti dia katakan. Apa mereka pikir hanya dengan uang semua masalah selesai? Tidak! Ini nyawa orang bukan sebuah mainan yang harus diganti dengan uang."


" Saya tau Tuan tapi apa yang dia lakukan juga adalah tugas yang memang kadang wajar bahwa seorang prajurit akan gugur di sebuah medan perang!" Nampaknya sang asisten masih tak mengerti kenapa bosnya menolak tegas tawaran yang bagus ini.


Albert bersandar di kursinya melipatkan tangannya menatap tajam kearah asisten tersebut. " Sekarang aku balik! Kasus ini ada di tanganmu. Orang yang meninggal adalah salah satu keluargamu bahkan orang yang kau sangat cintai. Apa kau akan mampu melihat orang yang seharusnya bertanggung jawab atas kematian saudaramu berkeliaran bebas dan kau meratapi kepergian nasib saudaramu."


Sang asisten hanya diam dia tak bisa berkata apa apa. " Jawab kenapa kau hanya diam?" 


" Maaf Tuan!" 


" Semua orang prajurit memang terkadang mati di medan perang itu adalah hal yang sangat wajar tapi kasus ini berbeda. Mereka semua tak sedang perang tak membela Negara tidak membela siapapun bahkan surat izin untuk berangkat tidak ada, surat penggeledahan rumah tersebut juga tidak ada. Apa itu kau anggap benar? Itu semua adalah kecerobohan yang pantas untuk mendapatkan hukuman yang setimpal."


" Maafkan saya Tuan Al, saya akan membatalkan janji temu anda dengan mereka…" Asisten langsung pergi dengan cepat ketika dia sekarang tahu alasan bosnya menolak klien besar ini.


Brak!!


" Kau bilang apa? Dia menolak kita? Dia pikir dia siapa?" Aaron langsung marah dan kecewa harapan satu satunya juga hilang.


" Mereka juga tak memberikan alasan yang pas untuk penolakan kasus ini Tuan!"


" Lalu apa yang kau katakan kepada mereka?" Nafasnya memburu marah.


" Aku membuat janji dua hari lagi dengan Tuan Albert. Kita akan kesana Tuan."


" Dia tak akan mampu menolak setelah tau kita siapa. Aku akan mengatakan kepadanya siapa kita dan siapa Alex bagi kita…" Ucapnya dengan yakin.


" Saya akan segera menyiapkan semuanya Tuan!" Aaron mengangguk dengan cepat.


Bersambung ya masih di nikahan saudara 😁 vote dan like serta hadiah jangan lupa ya makasih 🥰