Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 99



Adinda yang baru saja menyelesaikan makannya langsung membereskan mangkoknya. Ia menatap Budiman dan juga Kamila dengan penuh kasih sayang. Merasa ditatap seperti itu, rasanya Budiman ingin menarik Adinda ke dalam kamar. Namun Budiman tidak akan melakukannya. Karena malam ini Adinda akan menjadi milik sang mama.


"Apakah kalian sudah selesai makannya?" tanya Budiman.


"Kami sudah selesai makan. perut Mama sangat kenyang sekali. Nanti malam Mama tidak akan makan lagi sepertinya," jawab Kamila sambil menatap Adinda.


'Apakah Mama tidak akan memasak malam ini?" tanya Budiman sambil menatapnya dengan sendu.


"Tidak. Mama tidak akan memasak untuk malam ini. Kalau kamu mau makan makan saja. Di lemari atas ada berbagai macam mie instan. Kamu boleh memasaknya," jawab Kamila yang membuat Budiman menjadi lesu.


"Kenapa Mama tidak memasak?" tanya Budiman.


"Siapa yang mau makan kalau mama masak malam-malam begini? Nda belum pulang. Papamu masih berada di Cina sana. Sementara hanya ada Adinda sama kamu. Adinda juga kalau malam jarang sekali makan," jawab Kamila yang membereskan tasnya.


"Sepertinya Mama tahu semua tentang Adinda. Rasanya aku akan belajar mengenal Adinda dari mama," celetuk Budiman sambil memberikan ponselnya ke Adinda.


"Bukan begitu kali konsepnya. Kalau kamu ingin mengenalku. Kamu harus memahami aku bagaimanapun caranya. Kamu bisa mengajakku mengobrol, bermain dan sebagainya. Nanti kamu akan tahu siapa diriku sebenarnya. Begitu juga dengan aku. Aku juga sedang memahamimu untuk saat ini. Aku tidak akan bertanya tentang kamu ke Mama. Biarlah ini semuanya menjadi rahasia semesta. Bukankah kita menikah diharuskan untuk saling mengenal satu sama lain?" jelas Adinda sambil tersenyum manis lalu meraih ponsel Budiman dan menaruhnya di dalam tas.


"Apa yang dikatakan oleh Adinda itu benar. Kamu harus mengenalnya melalui kontak bersama orangnya. jangan dengar dari orang. Apa yang kamu dengarkan dari orang juga belum tentu benar. Siapa tahu orang itu yang nggak suka sama Adinda. Bisa saja menutup kebaikan Adinda dan memutarbalikkan fakta sesungguhnya. Begitu juga dengan Mama. Pertama kali berkenalan dengan papamu itu sangat unik sekali. Papamu adalah orang yang pendiam. jarang banyak ngomong. bijaksana dan lainnya. Tapi awal-awal Mama mengenal papamu itu nggak langsung dari orangnya. Mama mengenalnya melalui dari teman. Terus temannya itu tidak suka sama dengan papamu. Segala cara orang itu mengatakan kebalikannya. kamu pasti paham kebalikannya seperti apa," tambah Kamila sambil memberikan kunci mobilnya kepada Budiman.


"Iya ma aku paham akan hal itu. Memang banyak orang seperti itu sekarang. Rasanya nggak afdol jika kita mengenal orangnya secara langsung. yah bagaimanapun juga. Adinda adalah istriku. Bukan musuhku melainkan teman curhat dan teman seumur hidup," ucap Budiman.


"Aku pun sama. aku juga tidak akan mencari informasi tentang dirimu melalui orang lain. Seiring berjalannya waktu kita bisa mengenal watak dari pasangan masing-masing. Nanti pasti akan ketahuan sifat baik dan buruknya ketika sudah bersama dalam jangka beberapa tahun kemudian," sambung Adinda.


"Sudah yuk kita pulang sekarang. Nanti terjebak macet kalau pulangnya kesorean," ajak Budiman sambil berdiri dan meninggalkan mereka.


Adinda dan Kamila langsung mengejar Budiman. mereka berjalan sejajar sambil menuju ke area parkir. Tak sengaja Gilang melihat Adinda lagi. Gilang merasa geli melihat Budiman berjalan sama Adinda. Gilang mengepalkan tangannya sambil menggerutu. Tanpa disadari Adinda, Gilang menyalahkan Kanaya. Kenapa Kanaya telat untuk menjadikan Budiman sebagai suaminya? Harusnya Kanaya menikahi Budiman bukan Adinda.


Satu kata buat Gilang yaitu kesal dan marah. rencananya kali ini gagal total. Seharusnya Kanaya mau bersanding dengan Budiman. akan tetapi prediksi Gilang salah besar.


Gilang mamang sengaja membuat skenario pernikahan Budiman dengan Kanaya. Di balik itu semuanya Gilang ingin merebut semua hak ahli waris. Namun Kamila dan Kartolo sudah mengetahui semuanya. Makanya mereka meminta Adinda untuk cepat-cepat dijadikan seorang istri buat Budiman.


Menyesal tidak ada di kamus Gilang. Gilang akan berusaha untuk merusak rumah tangga Budiman. Bagaimanapun caranya Budiman akan bercerai dari Adinda. Inilah yang berada di kepala Gilang untuk saat ini. Apakah Adinda tahu jika rumah tangganya sedang diincar oleh Gilang? Pasti tahulah. Adinda sudah mengetahui sepak terjang Gilang. Ia akan melakukan apapun demi menyelamatkan Budiman. Ia tidak boleh lengah sedikitpun. Karena bilang itu memiliki sifat licik sekali.


"Katanya kamu membawa mobil kesini?" tanya Adinda.


"Aku ke sini bersama Tio. Katanya Tio ingin bertemu dengan Herman. Makanya pas waktu pulang aku sengaja nebeng sama dia," jawab Budiman.


"Terus mobilmu ditinggal di kantor?" tanya Adinda lagi.


"Iya. mobilku memang sengaja aku tinggal. Kenapa juga kita jalan masing-masing ya ke rumah. Lebih baik satu mobil bertiga bersama barang-barang ini," jelas Budiman sambil mengulurkan senyumnya ke arah Adinda.


Sesampainya di area parkir, Budiman langsung mengambil mobil Kamila. Sedangkan Kamila dan Adinda menunggu di area pintu keluar. Kamila memegang pundak Adinda sambil berkata, "Terima kasih ya. Budiman ternyata sudah balik lagi ke mode awalnya. Mau nggak kamu jadi istrinya Budiman untuk selamanya?"


"Kenapa Mama bertanya seperti itu?" tanya Adinda. "Bukankah kita sudah menikah dengan resmi? Pernikahan ini sudah dicatat di agama maupun negara. aku tidak bisa membatalkannya begitu saja. Jika Kak Budiman tidak berubah juga. Aku akan memilih untuk bertahan. namun aku tidak akan melewatkan Kak Budiman. Melainkan menyelamatkan perusahaan Njawe Groups. Aku ikhlas melakukannya Ma. Bukan berarti aku mencari muka kepada Mama. Soalnya musuh yang kita hadapi itu adalah sama."


Mata Kamila mencoba mencari kebohongan di sudut mata Adinda. Akan tetapi Kamila tidak menemukannya sama sekali. Bahkan Kamila sendiri menemukan kejujuran di mata indah milik Adinda itu. Betapa bahagianya Kamila saat ini. Ia akan menunggu sang suami pulang. Lalu ia akan menceritakan semuanya perubahan Budiman sangat drastis sekali.


Tin..


Tin..


Suara mobil milik Kamila sudah datang. Kedua wanita berbeda generasi itu pun langsung masuk ke dalam mobilnya. Mereka segera meninggalkan pusat perbelanjaan itu. Untuk hari ini Kamila sangat lega sekali. Kamila berharap ingin menggendong seorang cucu dari Budiman. Bahkan di dalam mobil, Kamila memberikan peringatan, agar Adinda tidak boleh menunda kehamilannya. Budiman pun semakin semangat dan memikirkan banyak cara. Kemungkinan besar Budiman akan mencari informasi supaya Adinda hamil.


"Tuh yang... dengerin apa kata Mama. kalau kita memiliki anak dengan cepat. Kita tidak akan menua sebelum waktunya. bisa dipastikan wajah kita akan awet muda," jelas Budiman yang fokus pada mobilnya.


"Tapi kan kita belum dikasih. Terus kamu akan menyulapku agar aku berubah seperti ibu hamil itu ya?" tanya Adinda yang membuat Budiman bingung.


"Memangnya ada ya? Ilmu menyulap ibu-ibu langsung hamil?" tanya Budiman ke Kamila yang membuat Adinda kesal.