Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 53



"Enggak usah ngapa-ngapain," jawab Adinda.


"Ya... maaf... kalau aku salah selama ini," ucap Budiman yang menyesal menunduk.


"Sudah makan apa belum?" tanya Adinda.


"Aku belum makan dari semalam," jawab Budiman dengan jujur.


"Kamu gila ya! kamu ingin bunuh diri ya?" bentak Adinda yang benar-benar kesal terhadap Budiman.


"Aku memang belum makan. Aku ingin melaksanakan keinginanku terlebih dahulu. Lagian juga aku sering makan sehari sekali," jawab Budiman.


"Badan kamu itu badan manusia. Kamu enggak makan hanya untuk mencari perhatianku ya? Aku bukan tipe wanita yang perhatian tapi peduli. Kalau kamu enggak makan... terus opname beberapa hari di rumah sakit. Siapa yang mau merawatmu? Kanaya? Dia tidak mungkin akan merawatmu. Jika dia merawatmu itu sebuah keajaiban yang nyata," kesal Adinda.


"Iya ma," jawab Budiman yang menunduk seperti anak kecil sedang dimarahi oleh ibunya.


"Sekarang kamu pesan makanan sana. Aku enggak mau ada lagi drama seorang Budiman tidak makan," ucap Adinda yang sangat perduli pada Budiman.


Budiman segera memesan makanan. Ia memang belum makan semenjak minum susu dan memakan telur semalam. Ia akhirnya mengalah ketimbang melihat Adinda marah.


"Maafkan aku," uap Budiman yang menyesali perbuatannya.


"Kamu enggak perlu minta maaf sama aku. Memangnya aku memiliki tubuh? Kerja boleh saja keras. Tapi jagalah kesehatan sebelum sakit. Memangnya kalau sakit bisa menyelesaikan masalah?" tanya Adinda.


"Bukan menyelesaikan masalah. Tapi kamu malah menambah masalah," jawab Budiman.


"Kamu tahu sendiri. Makanya jaga kesehatan kamu," ujar Adinda.


"Sekarang kamulah yang akan menjaga tubuhku ini. Karena mulai sekarang aku menyerahkan tubuhku ini ke kamu," pinta Budiman.


"ADa-ada saja kamu," kata Adinda.


"Beberapa bulan kemudian aku sama kamu akan pergi ke New York," ucap Budiman yang meyakinkan Adinda.


"Aku disana sekolah. Bukan macam-macam. Aku ingin mengambil S3," jelas Adinda.


"Tapi aku harus ikut dengan kamu. Papa dan ayah sudah merestui kita," ujar Budiman.


"Awas saja kamu disana macam-macam," gertak Adinda.


Aku tidak macam-macam. Ake berjanji. Aku akan tidur seranjang sama kamu. Aku akan melakukannya sama kamu. Aku sekarang tidak akan memanggil Kanaya. Ngapain juga mengajak Kanaya? Lagian juga aku enggak punya uang," jawab Budiman.


"Ya.... terserah kamu," ucap Adinda.


"Aku ke Amerika tidak akan membawa uang. Aku disana akan mencarikan uang buat kamu. Agar aku bisa mandiri membiayai hidupmu. Aku juga tidak mau memakan uang kamu. Aku ingin membangun rumah tangga ini mulai dari nol," ujar Budiman.


"Apakah kamu serius?" tanya Adinda.


"Ya... sudah... aku pegang omonganku. Aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik," ucap Adinda.


Budiman menganggukan kepalanya tanda setuju. Ia berharap bisa hidup mandiri. Begitu juga dengan Adinda,ia sebenarnya sudah hidup mandiri selama SMA. Karena pada waktu dulu, kedua orang tuanya sering bepergian ke luar negeri demi mengembangkan bisnis keluarga.


Di tangan dingin Malik, SM Company semakin lama semakin besar. Meskipun Tia adalah ibu rumah tangga, namun ia turut andil dalam perusahaan. Ditambah lagi dengan kecakapan dalam berkomunikasi, Tia mampu menggaet para investor dalam maupun luar negeri.


Malam pun tiba. Adinda yang masih terbaring merasakan perih. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Untung saja saat si kepala preman itu tidak menusuk jantungnya.


"Oh... ya... orang menusukmu sudah tertangkap bersama pisaunya. Kasus ini akan ditangani oleh Paman Herman. Kamu tenang saja. Mereka sudah mengakui perbuatannya," uap Budiman yang duduk di tepi ranjang Adinda.


"Syukurlah. terus bagaimana?" tanya Adinda.


"Ceritanya dia ingin menusuk aku. Tapi kamunya yang kena," jawab Budiman.


"Terus... apakah mereka jujur? Siapa yang menyuruhnya?" tanya Adinda.


"Enggak," jawab Budiman.


"Mereka memang sangat licik sekali. Pasti Gilang membayarnya lebih banyak agar mereka tutup mulut," ujar Adinda.


"Apakah kamu yakin kalau Kanaya yang melakukannya?" tanya Budiman.


"Aku yakin itu. Setiap ada masalah yang berhubungan dengan kamu atau aku. Kanaya sering banget menyewa banyak preman. Setelah itu mereka menjalankan misi agar bisa melakukannya," jawab Adinda. "Kalau enggak percaya, hubungi Paman Herman. Kamu tanya dia secara mendetail."


"Sadis juga," ucap Budiman.


"Memang sadis. Dia juga sering playing victim. Kamu tahukan soal teror kepala boneka yang berlumur darah. Itu dia yang melakukannya. Kenapa kamu malah menuduhku? Pekerjaan aku banyak banget. Bangun tidur sampai tidur lagi. Enggak ada hentinya. Jika aku melakukan itu buat apa? Kardus itu datangnya pagi dan ada nama pengirimnya. Sayangnya surat dari Kanaya aku simpan," jelas Adinda.


"Jadi aku selama ini?" tanya Budiman.


"Ya salah. Otak kamu sudah dipengaruhi oleh Kanaya. Kalau cinta ya cinta. Jangan sampai kamu berbuat gila. Jangan sampai kamu dijadikan sebagai boneka. Kalau sudah dijadikan boneka, kasihan Mama dan papamu. Mereka selalu saja memintaku untuk menyadarkanmu. Kalau kamu nggak sadar ya mau gimana lagi. Aku akan melepasmu. Dan aku juga tidak akan mengusikmu lagi," jawab Adinda dengan jujur.


"Ya kamu harus mempertahankan aku. Aku adalah suami kamu," sahut Budiman.


"Sekarang masalahnya gini... Kamu menyuruhku untuk mempertahankanmu. Terus kamu masih hidup bersama dengan Kanaya. Habis gitu kamu tindas aku seperti cerita-cerita di TV itu kan?" tanya Adinda.


"Ya pokoknya kamu harus mempertahankan aku," jelas Budiman.


"Ya nggak bisa gitu lah. Kamu sudah bersama Kanaya. Terus kamu ingin aku. Yang jadi korban itu bukan Kanaya. Yang jadi korban itu aku. Tapi aku bukan wanita yang gampang ditindas. Bisa saja aku mengusir Kanaya dari hidupmu. Atau juga Kanaya menindasku. Budiman, Aku bukan wanita yang lemah. Aku juga bukan wanita yang gampang dipermainkan. Aku punya prinsip hidup yang kuat. Yang di mana prinsip itu jarang sekali wanita memegangnya. Aku juga bukan orang yang suka nangis. Aku juga bukan orangnya yang kecewa. Kalau aku kecewa maka hancurlah hidupmu. Itu prinsipku. Dan satu lagi. Aku bukan wanita bodoh yang kamu kira. Aku juga tidak akan tunduk kepada suami kurang ajar sepertimu. Nggak ada yang namanya Adinda tunduk kepada pria yang menginjak-injak harga dirinya. Itulah kenapa aku seorang wanita yang benar-benar tangguh," jelas Adinda yang blak-blakan berbicara kepada Budiman.


"Kamu benar. Nggak seharusnya aku bilang begitu sama kamu. Tapi aku memang sangat membutuhkanmu. Jika kita sudah dijodohkan. Kenapa kita tidak meneruskannya? Bukankah cinta itu hadir setelah pernikahan?" tanya Budiman.


"Nggak semudah itu yang kamu bicarakan kepadaku. Cinta itu memang hadir. Tapi kalau kamu memperlakukanku sangat istimewa. Jika kamu tidak memperlakukanku seperti itu. Terus kamu masih dengan Kanaya. Ya sudah.... Jujur saja aku akan melepaskanmu," sambung Adinda.


"Kalau aku tidak melepaskanmu bagaimana?" Tanya Budiman.