Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 131



"Aku takut menjadi pengangguran. Bagaimana jika aku menganggur terus kamu mau makan apa? Aku tidak akan bisa membiayai hidupmu jika tidak bekerja. Itulah yang sedang aku pikirkan untuk sekarang ini. Nanti dikira aku hanya menumpang di hidupmu saja," jawab Budiman.


"Kamu itu ada-ada saja. Yang enggaklah. Seluruh keputusan untuk perusahaan itu adalah pemegang sahamnya yang paling besar aku. Mulai saat ini kamu harus bekerja dengan baik dan benar. Tapi percuma saja ya. Kita tinggal di Jakarta hanya beberapa minggu saja. Nggak usah dipikirkan soal itu. Pikirkanlah Bagaimana cara kamu menghamiliku?" tanya Adinda sambil berbisik di telinga Budiman.


Dengan semangat Budiman menarik tangan Adinda lalu memeluknya. Ia memandang wajah sang istri sambil tersenyum manis. Kemudian Budiman menjawab, "Kalau kamu mau... Kenapa tidak. Aku ingin memiliki bayi agar kamu tidak pergi dari hidupku."


"Terserahlah apa katamu. Aku ingin berdandan Jangan ganggu aku," pinta Adinda yang melepaskan dirinya dari Budiman.


"Nggak usah berdandan. Aku nggak mau kecantikanmu yang Paripurna itu dilihat banyak orang. Para pria yang bekerja di sana adalah pria hidung belang semuanya. Banyak sekali yang mengincarmu untuk dilahap habis-habisan," ucap Budiman yang melarang Adinda untuk tidak berdandan.


"Kamu itu ada-ada saja sih. Orang-orang kayak gitu pasti takluk di tanganku. Kalau nggak mereka akan masuk ke rumah sakit karena pukulanku," ujar Adinda yang menghempaskan bokongnya lalu duduk di depan kaca.


"Untung saja aku tidak. Kalau sampai terjadi maka aku bisa opname berhari-hari," celetuk Budiman yang membuat Adinda tersenyum.


"Lagian aku masih sabar menghadapimu saat itu. Coba saja kalau nggak sabar maka habislah dirimu ini. Karena kamu adalah suamiku. Bisa-bisa kamu menuduhku sebagai istri yang memiliki temperamen keras," jelas Adinda.


"Yang nggak seharusnya begitu. Kamu memang benar jika melakukan KDRT kepadaku. Soalnya dengan KDRT itu kamu bisa mengingatkanku akan satu hal. Yaitu aku sudah menikah denganmu. Nggak seharusnya aku melakukan hal-hal konyol seperti kemarin," udah Budiman yang meraih ponselnya dan mengecek harga saham gabungan.


"Kamu pergi saja dulu ke perusahaan. Meeting jam sepuluh pagi. Aku ingin pergi ke perusahaanku dan mengecek apa saja yang harus diserahkan kepada Kak Faris," jelas Adinda.


"Kamu naik apa?" tanya Budiman. "Jam segini macetnya minta ampun. Apakah kamu berangkat sendirian?"


"Naik Transjakarta lah. Di depan sana ada halte TransJakarta. Kenapa takut untuk berangkat sendirian? Lagian di sana setiap beberapa menit sekali Armada akan datang," jawab Adinda.


"Ya sudah kalau begitu. Nanti akan aku isi saldonya jika kehabisan," ucap Budiman.


"Ngapain juga kamu ngisi saldo tersebut? Aku memang punya tapi jarang memakainya. Kamu tenang saja aku tidak akan kehabisan uang di jalanan. Kamu tahu sendiri kan kalau aku adalah seorang perempuan yang suka berpetualangan ke mana-mana. Kalau sudah di jalanan aku sudah aman," beber Adinda agar Budiman tidak terlalu khawatir.


Budiman tidak menjawab namun hatinya kegirangan. Masalahnya bukan Adinda terlalu mandiri. Di matanya Budiman membutuhkan wanita yang sangat mandiri seperti Adinda. Karena ia sendiri memiliki banyak pekerjaan yang harus diimbangi oleh sang istri.


"Ya sudah kalau begitu. Berangkat saja sana. Aku takutnya nanti kamu terlambat masuk ke dalam kantor," ucap Budiman.


"Lalu kamu berangkat sama siapa?" tanya Adinda.


"Berangkat sama Andara dan juga Tio. Tapi jangan lupa kamu sarapan terlebih dahulu," jawab Budiman yang menyuruh Adinda untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat.


"Kalau begitu ayo kita sarapan. Sepertinya Mama dan Papa masih tidur. Aku sudah menceritakan masalah ini dan mereka paham. Semoga saja Paman Herman mendapatkan jodoh yang lebih baik lagi," ucap Adinda yang mendoakan secara tulus ke Herman.


.


"Jam segini kan macet Din. Lebih baik kamu ikut kami saja berangkat ke kantor," ajak Herman.


"Terus jam sepuluh pagi nanti ada meeting di perusahaannya Kak Budiman," sahut Adinda.


"Pakai saja mobilku," ucap Herman.


"Nggak usah. Mobilnya Adinda ada di kantorku. Nanti berangkatnya dari perusahaan SM company naik Transjakarta. Habis itu turun di depan perusahaanku. Pulangnya bareng aku," jelas Budiman.


"Bener juga. Mobilku menyangkut di kantornya Kak Budiman," ujar Adinda yang duduk di hadapan Budiman.


"Bagaimana nasibnya Andara nanti?" tanya Tia yang memikirkan nasib Andara.


"Nanti aku pulangkan saja ke rumah bersama Tio. Aku tidak bisa tidur bersama Adinda," jawab Budiman yang membuat mereka tersentak kaget.


Andara segera meminum airnya terlebih dahulu. Setelah meminum air Andara tertawa habis-habisan. Entah kenapa jawaban Budiman sangat menggelitik di telinganya. Bahkan Andara sendiri tidak langsung mengejek Budiman.


"Tuh kan yang namanya sudah bucin. Orang tidur terpisah semalam saja ngomongnya nggak bisa tidur. Dasar Budiman posesif," kesal Malik terhadap sang menantunya itu.


"Itu benar ayah. Aku sudah merasakan tadi malam. Makanya aku ingin meminta Adinda agar tidak bekerja dan menemaniku sepanjang hari di kantor maupun di rumah," terang Budiman.


"Awal bertemunya berantem. Eh ujung-ujungnya kalau ketemu udah kayak Tom and Jerry. Sekarang lengket kayak perangko yang nggak bisa dipisahkan dari lemnya yang rekat itu," kesal Herman yang diiringi gelak tawa mereka.


"Cepetan punya anak. Agar kalian gak terpisahkan lagi oleh apapun itu. Soal Kanaya semuanya sudah jelas akal bulusnya. Orang yang ingin berbuat jahat dalam suatu hubungan berpacaran. Tidak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan sesungguhnya. Dan itu sudah terlihat jelas di mata Kanaya," tutur Tia dengan lembut.


"Lalu bagaimana dengan Netty Bu? Dia juga berbuat jahat kepada paman. Jangankan paman, Kak Adinda juga jahat," tanya Faris.


"Semuanya sudah terlihat jelas. Teman sebaik apapun akan menikam dari belakang. Aku sih sendiri nggak jadi masalah soal Netty. Aku sudah melupakannya dan mencoretnya sebagai teman baikku. Aku berharap tidak akan adanya Netty lagi di belakangku. Kalau nggak suka mending ngomong saja nggak usah dipendam seperti itu," jawab Adinda yang tidak mempermasalahkan kehilangan teman yang sudah mengkhianatinya itu.


"Semuanya itu akan menjadi indah pada waktunya. Ibu juga terkejut atas pernyataan dari Adinda semalam. Untung saja Adinda bilang duduk perkaranya terlebih dahulu sebelum kejadian siang kemarin. Jadi ibu bisa menyimpulkan kejahatan hati sebenarnya," jelas Tia sambil menatap wajah Herman.


"Ya sudah. Masalah ini selesai. Dinda kamu harus urus semua perjalananmu ke London. Cepat atau lambat Budiman akan berangkat ke London," suruh Malik agar Adinda mempersiapkan dokumennya.


"Baik yah.. hari ini aku pergi ke perusahaan untuk menyerahkan beberapa dokumen. Setelah itu aku meminta pihak HRD untuk mem-blacklist nama Netty. Agar Netty tidak datang ke kantor lagi. Alias aku memecatnya," jelas Adinda yang bersikap tegas terhadap Netty.


"Laksanakanlah segera. Jangan buang-buang waktumu. Karena waktumu di Indonesia sudah tidak banyak lagi," perintah Malik.


"Baik yah," balas Adinda dengan tegas.