Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 200



"Apakah itu benar?" tanya Budiman yang tidak mengetahui berita tersebut.


"Sudah bukan menjadi rahasia besar. Di kalangan pebisnis Asia, mereka adalah seorang penipu. Mereka sering banget melancarkan aksinya untuk menghancurkan banyak orang dengan motif kerjasama. Sekalinya Serang mereka bisa menghancurkan banyak orang. Untung saja aku mendapatkan informasi ini dari kekasihku sendiri. Dia juga pernah berhubungan langsung dengan hilang ketika mengajaknya kerjasama," jelas Alexandro.


"Apakah kekasih terjerat dalam lingkaran hitam Gilang?" tanya Budiman.


"Nggak sampai sih. Kakaknya kekasihku itu sudah memberitahukan ketika ingin menandatangani kontrak tersebut. Dia bisa diselamatkan dengan cepat agar tidak merugi terlalu banyak," jawab Alexandro sambil memberikan kode agar para karyawan mengeluarkan banyak gaun.


"Syukurlah kalau begitu. Aku jadi lebih mendengarnya," sahut Adinda.


"Apakah kamu sudah mempersiapkan baju yang aku minta?" tanya Budiman.


"Sudah. Gaun itu tertutup tapi elegan dan mewah. Aku sangka gaun itu dipakai kekasihmu yang baru itu," celetuk Alexandro.


"Kekasih yang mana? Seumur hidup aku nggak memiliki kekasih. Hidupku dibuat hanya untuk bekerja siang dan malam. Untung saja aku memiliki otak yang waras ketika berada di kantor," kata Budiman dengan jujur.


"Kalau begitu karyawatiku sedang mengambil beberapa gaun yang sudah kamu pesan," ucap Alexandro yang berdiri dan mendekati beberapa karyawati itu sedang membawa banyak manekin.


"Apakah Andara dan Tio sudah ke sini?" tanya Budiman yang sudah di tadi tidak menemukan Andara maupun Tio.


"Sepertinya belum," jawab Alexandro. "Memangnya mereka berpacaran?"


"Iya. Mereka sedang berpacaran. Mama dan papa menyuruh mereka cepat-cepat menikah. Agar tidak terjadi fitnah diantara para tetangga. Apalagi mereka sudah satu rumah," jawab Budiman.


"Mereka memang satu rumah. Tapi kan beda tempat. Tio berada di rumah belakang. Sedangkan Andara berada di rumah utama. Kalau menurutku sih mereka tidak ngapa-ngapain kalau berada di rumah sendirian," ucap Adinda yang membela Andara dan juga Tio.


"Bukannya begitu. Lebih pedas ketimbang sambil terasi buatan Mbok Jem. Tetanggaku itu kalau ngomong pedasnya minta ampun. Makanya aku sendiri tidak kuat mendengarnya. Berhubung tetanggaku bermulut pedas aku memutuskan untuk pindah ke apartemen. Itulah kenapa Aku jarang sekali tinggal di rumah. Karena mereka sudah mencap aku sebagai bujang lapuk," jelas Budiman.


"Bujang lapuk dari mana? Usia baru dua puluh delapan tahun saja dibilang bujang lapuk," kesal Adinda yang beranjak berdiri dan mendekati beberapa gaun pakaian.


"Aku setuju dengan pendapat Adinda. Gara-gara belum menikah saja pada tetangga sudah heboh. Mulai ngomongin dari a sampai z. Aku sendiri saja masih bingung dengan kata-kata bujang lapuk," kesal Alexandro.


"Itulah namanya orang bertetangga. Nggak semuanya kita bisa terima omongan mereka. Kalau aku sih memilih lebih baik damai ketimbang harus ribut. Lagian juga aku makan tidak meminta mereka," ujar Budiman.


"Apa yang kamu katakan itu benar. Aku juga tidak pernah memikirkan akan hal itu. Kalau begitu ya sudahlah," jelas Adinda yang tidak sengaja memegang gaun berwarna biru laut.


"Apakah ini bagus?" tanya Adinda sambil menatap Budiman.


"Itu bagus sekali. Warnanya juga memberikan kedamaian yang nyata. Kalau bisa sih kamu mengambil itu saja. Modelnya juga tidak terlalu tertutup dan tidak terbuka. Jadinya cocok sama kamu," jawab Budiman.


"Atau coba yang lainnya?" Tanya Alexandro.


"Aku sangat menyukai ini," jawab Adinda dengan jujur.


Alexandro tidak sengaja melihat kesamaan Adinda dan juga Budiman. Pria yang berkebangsaan Amerika itu memang bisa membaca gerak-gerik Adinda bersama Budiman. Sedari dulu mereka memiliki hobi yang sama. Yang di mana hobi itu bisa membuat mereka menyatu.


"Dua jam lagi acaranya akan berlangsung. Apakah kalian tidak ke salon?" tanya Alexandro yang menawarkan Adinda untuk pergi ke salon.


Namun sebelum mengiyakan, Andara dan Yuki segera mendekati Adinda. Dengan cepat kedua wanita itu menarik tangan Adinda


"Maaf Kak, aku bawa dulu Kak Adinda," seru Andara yang segera membawa Adinda pergi ke salon.


"Mau ke mana?" Tanya Budiman.


Mereka tidak menjawab langsung pergi meninggalkan butik tersebut. Tiba-tiba saja datang Tio dan juga Rizal. Kedua pria itu mendekati Budiman. Lalu mereka menghempaskan bokongnya sambil menatap Alexandro.


"Oh iya Ndro. Ponselmu yang ke hack gara-gara Gilang itu, sudah aku perbaiki dan kembali ke awalan pertama. Untung saja kamu lapor pada waktu itu," ucap Rizal sambil meraih ponselnya itu.


"Jadi kalian sudah sering bertemu?" tanya Budiman yang mulai curiga kepada mereka berdua.


"Aku sering bertemu dengan Rizal ketika dirinya menjadi polisi dengan pangkat terendah. Dia juga menceritakan Bagaimana kejadian Kanaya sudah membunuhnya. Soalnya aku sering banget bolak-balik dari Asia ke Amerika dalam waktu berdekatan. Itulah kenapa aku sudah tidak canggung lagi ketika bertemu dengan Rizal," jelas Alexandro.


"Ke mana mereka bertiga?" tanya Budiman.


"Ke salon yang berada dekat sini," jawab Rizal.


"Bener juga sih," ucap Budiman.


"Apa rencana lu selanjutnya?" tanya Alexandro.


"Sebenarnya masih pengen mengurus perusahaan dan beberapa pusat perbelanjaan yang sudah aku dirikan di negara Asia. Tapi aku berhenti dulu saja. Beberapa bulan kedepan aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah bersama Adinda," jawab Budiman.


"Apakah kalian tidak berencana ingin memiliki anak?" tanya Rizal.


"Setiap pernikahan pasti ingin memiliki seorang anak atau beberapa. Mumpung belum dikasih lebih baik aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku terlebih dahulu. Hal ini dapat menunjang karirku ke depannya," jawab Budiman sambil melihat satu pesan dari Adinda.


"Syukurlah kalau begitu. Masih di Inggris?" Tanya Alexandro.


"Masih. Pengennya sih ke Harvard university. Berhubung kemarin ada kejadian Gilang bekerjasama dengan mafia. Aku putuskan memboyong Adinda ke London. Lagian ayah dan Herman sudah mendaftarkan kami ke sana," jawab Budiman.


"Oh iya, kabar Gilang dengan mafianya itu bagaimana?" tanya Tio Yang benar-benar penasaran.


"Mafianya sudah tertangkap polisi terlebih dahulu. Bukan aku yang menangkapnya tapi para jenderal. Mafia itu sudah sering melakukan banyak masalah di negara Amerika. Mau tidak mau pihak kepolisian menangkapnya dan menjebloskan ke penjara khusus," jelas Rizal. "Setelah mafianya tertangkap, Aku disuruh komandanku untuk memburu Gilang dan juga keluarganya. Aku juga menyuruh salah satu anggota ku menyusup masuk menjadi pengawalnya. Jadi setiap yang direncanakan aku tahu semuanya."


"Nyalimu ternyata berani juga," puji Budiman.


"Ya mau bagaimana lagi. Mau nggak mau aku harus melakukannya demi mendapatkan informasi dan mengumpulkan banyak data. Bahkan aku juga tinggal di Indonesia hanya beberapa bulan saja demi mengikuti keberadaan Gilang," ucap Rizal dengan serius.


"Jangan-jangan kamu juga menghack seluruh ponselnya?" Tanya Tio yang menatap ke arah Rizal.


"Gue terpaksa melakukannya demi mencari seluruh transaksi yang dilakukan oleh Gilang Untuk menghabisi banyak orang di Amerika. Gara-gara ponselnya Gilang, maka mafia tersebut sudah tertangkap terlebih dahulu," jawab Rizal.


"Menghabisi berarti membunuh?" tanya Budiman yang bingung dengan pernyataan Rizal.