Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 74



"Karena kamu dulu bukan suamiku. Jadi buat apa? Aku menyadarkan kamu dulu. Percuma kan ujung-ujungnya Jika kamu kakakku seperti Faris, aku bisa melepaskanmu dari masalah seperti ini. Tapi nyatanya Kamu bukan siapa-siapa aku pada waktu itu. Sekarang kamu suamiku. Suka tidak suka kamu harus lepas dari masa lalumu yang kelam itu. Aku adalah manusia biasa. Yang dimana ditakdirkan oleh Tuhan menjadi orang yang lebih baik lagi. Wanita mana jika suaminya mengingat masa lalu seperti itu? Pasti nggak ada yang mau. Nyesek iya. Terus Apakah aku harus diam lihat kamu seperti itu? Kalau aku diam, berarti aku telah menyiksa diriku sendiri. Aku nggak mau jadi wanita tersiksa seperti wanita yang suka ditinggal sama suaminya sendiri. Itulah aku. Jangan samakan aku dengan Kanaya atau lainnya. Adinda tetaplah Adinda. Adinda akan selalu berdiri di kakinya sendiri. Tanpa harus meminta tolong kepada orang lain. Apakah kamu paham soal ini?" Tanya Adinda yang membuat Budiman sedih.


Yang dikatakan Adinda adalah benar. Wanita mana melihat suaminya terhanyut masa lalu hingga detik ini? Pasti tidak ada yang mau. Kalau orang sudah menikah, orang itu harus berani komitmen terhadap pasangannya. Kalau tidak mending mundur saja. Itulah prinsip Adinda sebenarnya.


Perkataan Adinda membuat Budiman akhirnya sadar. Kenapa dirinya tidak menjadikan Adinda sebagai kekasihnya pada waktu itu? Kenapa dirinya memilih Kanaya ketimbang Adinda? Dua pertanyaan ini sangat sulit sekali baginya. Budiman harus sadar dari kebiasaannya. Tidak akan ada yang bisa membuat orang sadar. Kecuali dalam dirinya masing-masing.


Budiman segera mendekat lalu menarik tubuh Adinda. Ia memeluknya dan merasakan kehangatan yang tidak pernah dirasakan. Mulai detik ini, Budiman tidak akan menyia-nyiakan Adinda untuk kesekian kalinya.


"Sudahlah, jangan bersedih seperti itu. Kelak suatu hari nanti, kita bisa bahagia untuk selamanya. Janganlah kamu sia-siakan apa yang diberikan oleh Tuhan kepadamu. Tidak akan ada lagi kesempatan itu datang untuk kedua kalinya. Aku lelah. Ingin tidur. Obat yang diberikan oleh Kevin membuatku seperti orang mabuk," hibur Adinda sambil menepuk-nepuk punggung Budiman.


Entah apa yang dirasakan kali ini. Pria bertubuh kekar itu diam-diam menangis. Hatinya merasa tersentil oleh perkataan Adinda. Ia perlu memperbaiki diri untuk kedepannya.


Di tempat lain, Faris dan Herman sedang menunggu Adinda. Akan tetapi mereka mendapatkan pesan dari Tio. Agar mereka tidak perlu menunggunya. Dengan kesalnya kedua pria itu hampir saja membanting ponselnya masing-masing. mereka memutuskan untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat sampai pagi.


Pagi yang cerah di kota Jakarta. Orang-orang sudah terbangun dari mimpi indahnya untuk mempersiapkan diri. Mereka berbondong-bondong menuju ke tukang sayur. Sebagian ada yang berangkat ke sekolah. Ada juga yang berangkat kerja. Mereka tersenyum bahagia sambil menyambut hari ini.


Lain halnya dengan Adinda dan juga Budiman. Pasangan suami istri itu masih terlelap dalam mimpi. Mereka tidak mempedulikan orang berlalu lalang dan mencari sesuap nasi.


Tepat jam 09.00 pagi, Adinda mulai membuka mata. Ia melihat Budiman yang masih terlelap tidur. Ia kemudian memegang pipi Budiman.


Adinda mulai jahil dan memencet hidung Budiman. Namun Budiman sendiri tidak bangun juga. Ia bingung harus bagaimana.


Adinda merasakan tubuhnya sangat berat sekali. Ia melihat tangan Budiman sedang melingkari indah di pinggangnya. Ingin rasanya Adinda melepaskannya. Akan tetapi Budiman menahannya. Ia mulai mencari cara agar lepas dari tangan itu.


"Kalau kayak gini terus. Aku nggak bisa ngapa-ngapain. Ini jam berapa sih? Kok Sudah terang banget hari ini?" tanya Adinda sambil menggerutu hingga Budiman mendengarnya.


"Masih jam enam pagi," jawab Budiman dan masih menahan Adinda agar tidak lepas dari pergelangan tangannya.


"Kalau begitu lepaskanlah aku. Aku ingin memasak," pinta Adinda.


"Aku nggak akan melepaskanmu begitu saja. Kamu itu susah banget aku dapatkan. Lebih baik kita bobok lagi aja," ajak Budiman dengan penuh kekonyolan.


"Sakkarepmu Mas. Dadi wong kok bingungin. Awas ae ketok selingkuh. Tak babat entek mari ngene," kesal Adinda terhadap Budiman.


Budiman menatap wajah Adinda sambil tertawa. Ia sangat lucu ketika Adinda berbicara dengan dialek Jawa. Memang, Adinda adalah asli orang Jawa. Namun ia memiliki keturunan Belanda.


"Jangan gitu neng. Nanti neng nyesel. Neng nangis nggak berhenti-henti. Karena neng telah kehilangan cowok seganteng aku," ledek Budiman.


"Ganteng dari mana? Definisi ganteng itu memiliki sifat yang sangat baik sekali. Tapi kamu sangat berbeda sekali," ucap Adinda.


"Bedanya?" Tanya Budiman.


"Kamu itu adalah pria yang sangat unik sekali. Saking uniknya aku belum menemukan cowok seperti ini. Ya sudahlah. Aku ingin bangun dari sini. Aku ingin membuatkanmu sarapan," jawab Adinda yang menyuruh Budiman untuk melepaskannya.


"Kamu nggak usah kemana-mana. Perutmu masih ada lukanya. Kalau kenapa-napa nanti aku yang bingung.


"Nggak usah bingung seperti itu. Lebih baik lepasin aku. Aku ingin berjalan. Kalau aku nggak jalan tubuhku kaku semua," jelas Adinda yang mendapatkan persetujuan dari Budiman.


"Tapi, perut mah nggak apa-apa kan?" tanya Budiman sekali lagi.


"Sudah mending. Kata kak Kevin harus sering-sering diajak berjalan. Biar otot perutnya tidak tegang. Dan setelah ini aku akan patuh meminum obatnya," jawab Adinda.


"Terserah kamu. Aku akan pergi ke kantor setelah kamu. Setelah kamu sembuh Aku Yang akan menjagamu," jelas Budiman.


"Kenapa kamu harus menjaga aku?"


"Karena kamu adalah orang yang sangat unik sekali. Aku belum menemukan wanita sepertimu. Mungkinkah kita sudah ditakdirkan bersama sama ilahi."


"Tapi kamu jangan terlalu over protektif seperti itu. Aku sudah tidak apa-apa. Penyakit itu nggak boleh dimanja sama sekali. Apalagi kalau aku tidur terus-terusan. Badanku kaku dan tidak bisa bergerak sama sekali. Lebih baik aku akan bergerak pelan-pelan agar bisa menyesuaikan lukaku ini. Oh iya, aku belum tahu makanan favoritmu itu apa? Aku juga belum tahu kebiasaan pagimu itu apa? Bisakah kamu memberitahukanku semuanya?" Tanya Adinda dengan serius.


Budiman akhirnya menceritakan kebiasaannya ketika di pagi hari. Ia tidak menutupi apa saja kejelekannya. Ditambah lagi Budiman sendiri jarang sekali sarapan. Untuk makanannya, Budiman menceritakan apa saja yang bisa dimakan. Adinda mulai menyimpan semuanya di dalam otaknya. Jujur, Adinda sengaja mencatat itu semuanya. Hanya karena Adinda ingin mengabdikan dirinya sebagai seorang istri yang baik.


"Aku hanya makan dua kali sehari. Apapun yang dikasih oleh Tio itu yang aku makan. Aku sendiri nggak sempat untuk request makan siang dan makan malamku. Ketika berada di kantor. Yang penting di kulkas dalam kantorku itu tersedia air mineral. Aku hanya minum kopi atau teh sehari sekali. Udah itu saja informasi dariku," ucap Budiman dengan jujur.


"Kalau di rumah bagaimana?" tanya Adinda.