Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 46



"Iya... itu benar. Kamunya enggak membela adikmu. Sampai-sampai adikmu sangat ketakutan sekali jika harus bertemu dengan Kanaya," jawab Adinda yang membuat Budiman membelalak sempurna.


"Kenapa dia enggak meminta perlindungan sama aku sih?" tanya Budiman.


"Kamu gila kali ya! Kamu bisa ngomong seperti itu sekarang? Kamu kemana saja? Setiap adikmu mengadu tentang Kanaya. Kamu malah enggak percaya," kesal Adinda yang seakan ingin memukul Budiman sekarang ini.


"Maafkan aku," ucap Budiman dengan sendu.


"Kenapa coba minta maaf sama aku? Memangnya kamu pernah salah karena aku ya?" tanya Adinda yang bingung dengan keadaannya sekarang.


Budiman memilih untuk diam dan tidak bicara sama sekali. Ia tidak menyangka kalau dirinya mendapatkan informasi buruk. Sang adik kesayangannya telah diancam dihabisi oleh Kanaya. Kenapa dirinya sangat bodoh sekali? Kenapa juga dirinya terlalu percaya dengan Kanaya? Inilah yang membuat dirinya menyesal.


Menyesal sampai saat ini saja, bagi Budiman itu tidak cukup. Sebab kekasihnya itu sudah mengancam adiknya. Yang dimana dirinya harus melindunginya. Alana tetapi dirinya malah membiarkan menderita.


"Aku harus bagaimana Din?" tanya Budiman.


"Ya... kamunya bagaimana?" tanya Adinda balik.


"Aku ingin Andara baik-baik saja," jawab Budiman.


"Tapi aku harus bagaimana?' tanya Budiman yang bingung.


"Beberapa bulan lagi Andara akan ikut denganku. Dia akan mengambil pendidikan di Harvard S3. Aku harap kamu mengizinkan pergi bersamaku," jawab Adinda.


"Enggak bisa gitu dong! Kamu sendiri berangkat sama aku!" geram Budiman kepada Adinda.


"Memangnya aku mengajakmu?" tanya Adinda yang mengerutkan keningnya.


"Aku masih punya paspor Amerika. Kurang lebih tiga tahun lagi mati. Aku akan membiayai hidupmu. Aku tahu kamu sebentar lagi akan hamil. Apakah kamu mau tinggal bersama Andara ketika hamil?" tanya Budiman yang benar-benar menahan emosi.


"Apakah kamu sengaja mengambil kesempatan untuk ini?" tanya Adinda balik.


"Aku memang ingin melakukannya. Agar kamu tidak pergi!" bentak Budiman yang semakin frustasi.


"Kalau pun aku hamil. Aku masih bisa membiayai hidupku dan juga anakku. Kemungkinan besar, aku menjadi wanita mandiri," ucap Adinda.


"Semudah itukah kamu mengatakan seperti itu? Aku ini suamimu," jawab Budiman.


"Meskipun kamu milikku, apakah kamu pernah merasa jika aku hadir di dalam hidupmu? jawabannya tidak. Kamu terpaksa menikahiku hanya demi fasilitas dari papa," ucap Adinda. "Ya... sudah... lebih baik aku pulang ke rumah."


"Kamu enggak akan pernak kembali lagi ke rumah," ancam Budiman.


"Kenapa lagi sih?" tanya Adinda yang lama-lama jenuh melihat Budiman.


"Karena aku berhak atas hidupmu," ucap Budiman.


"Lalu?' tanya Adinda.


"Lama-lama aku harus mengurungmu," kesal Budiman.


"Dimana ponselku?" tanya Adinda.


"Ponselmu sudah aku buang," jawab Budiman yang cengengesan.


"Apa?" pekik Adinda. "Kamu membuang ponselku?"


"Iya... kamu tahu... ponselmu itu mengganggu kita berdua semalam. Makanya aku buang," jawab Budiman yang tidak merasa bersalah sama sekali.


"baiklah. kamu memang brengs*k!" bentak Adinda.


"Lumayanlah. bisa menyekap kamu di apartemen mewahku," ujar Budiman yang tidak merasa bersalah sama sekali.


"Terserah apa katamu!" kesal Adinda yang malas berdebat lagi dengan Adinda.


Adinda hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Ia tidak habis pikir karena ulah sang suaminya itu. terpaksa dirinya mengalah.


Di tempat lain, Herman sedang mencari keberadaan Adinda. Pria muda itu sangat frustasi sekali. Ia sudah menerjunkan beberapa pengawal untuk mencari keberadaan Adinda ke penjuru arah. Namun dirinya tidak menemukan Adinda.


Tak lama datang Andara. Gadis bertubuh mungil itu mencari keberadaan Adinda. namun dirinya tidak menemukannya sama sekali. Hingga akhirnya ia menatap wajah Herman sedang gelisah.


"Paman," panggil Andara.


"Nda," sahut Herman.


Nda adalah panggilan kecil Andara. Setiap orang yang mengenalnya termasuk Adinda dan juga Herman, jika bertemu dengan Andara. Mereka selalu memakai nama Nda.


"Dia belum kembali," jawab Herman. "Sedari tadi dia belum pulang ke rumah. "Memangnya dia kemana?"


"Pas aku di rumah bersama Andara datang bang Budi. Terus Adinda dan Bang Budiman berantem kakak masalah Kanaya. Akhirnya Adinda memberikan bukti kalau Kanaya bersama Gilang. Habis gitu dia enggak balik Samapi sekarang,' jawab Andara.


"Apa yang kamu katakan itu benar?" tanya Herman.


"Serius," jawab Andara yang berkata jujur.


"Jadi Budiman mengajak Adinda pergi?" tanya Herman sekali lagi.


"Iya itu benar. Sampai sekarang. Dia enggak balik lagi," jawab Andara.


"Apakah kamu tahu keberadaan Abangmu itu?" tanya Herman.


"Aku sendiri enggak tahu. Bukannya Paman sendiri yang tahu keberadaan Abang?" tanya Andara.


"Sebentar, aku akan menghubungi temen-temenku. Kemungkinan besar mereka akan mengetahui Di mana keberadaan Budiman," jawab Herman yang merayu ponselnya lalu mengirim pesan ke teman-temannya.


Sebenarnya Anggara sangat ketakutan sekali. Jika Adinda berada di tangan Budiman. Ia takut jika Budiman menyakitinya apalagi secara verbal maupun fisik. Semalam hingga detik ini Andara selalu berdoa atas keselamatan Adinda. Ia berharap Kalau Adinda baik-baik saja.


10 menit kemudian, Herman yang sedang duduk di kursi kebesarannya itu, menunggu pesan dari teman-temannya masuk. Tak lama Herman mendapatkan balasan dari teman-temannya itu. Mereka mengatakan tidak melihat Budiman beberapa hari yang lalu. Herman merasakan Kalau Adinda sedang dalam bahaya.


"Bagaimana paman? Gimana kabarnya Abang Budiman?" tanya Andara.


"Mereka tidak mengetahui keberadaan Budiman. Mereka bilang kalau Budiman tidak pernah muncul dalam waktu beberapa hari," jawab Herman.


"Apa yang harus kita lakukan? Aku sih nggak masalah dengan abangku. Mau melakukan apapun terserah dia. Tapi aku nggak mau Adinda kenapa-napa. Yang kita tahu abangku memiliki sifat temperamental yang cukup kuat. Bahkan Budiman tidak segan-segannya untuk memukul seseorang," ucap Andhara.


"Kamu tenang saja. Jangan berpikiran yang macam-macam. Kalau Adinda terluka, akulah orang yang pertama kali menjebloskan abangmu dalam penjara. Paman tidak takut dengan ancaman kedua orang tuamu itu. Paman malah pengen Adinda selamat," jelas Herman.


Meskipun hatinya was-was, Herman sangat mempedulikan keberadaan Adinda. Iya tidak ingin melihat keponakannya terjadi apa-apa. Iya berhak untuk melindunginya sama seperti Faris sang keponakan satunya lagi. Kalau seperti ini caranya, Budiman akan menjadi bulan-bulanannya Herman.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Seorang pria berbaju hitam masuk ke dalam ruangan. Pria itu menghadap ke arah Herman. Sebelum berbicara pria itu membungkukkan badannya sambil menyapa, "Selamat sore tuan."


"Ada apa? Apakah kamu sudah mengetahui keberadaan Adinda sekarang?" tanya Herman.


"Sampai saat ini nona Adinda belum diketemukan. Saya bisa pastikan kalau nona masih berada di kota Jakarta ini," jawab pengawal itu.


"Cari sampai ketemu!" titah Herman.


Pengawal itu menganggukkan kepalanya lalu berpamitan. Ia segera keluar dari ruangan itu untuk mencari keberadaan Adinda. Herman yang sudah gerah dengan Budiman langsung menghubungi ponselnya. Akan tetapi ponsel Budiman tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Kamu pulang sama aku saja. Kamu nggak boleh pulang dengan memakai mobil online. Kamu tahu kan Kanaya Bagaimana orangnya!" perintah Herman yang memperingatkan Andara pada Kanaya.


Akhirnya Andara mengalah dan pulang bersama Herman. Sore itu juga Herman memutuskan untuk kembali ke rumah utama. Ia sengaja pulang dengan cepat agar bisa mencari keberadaan Adinda. Sepanjang perjalanan Herman dan Andara tidak menemukan Budiman atau Adinda sama sekali. Malahan mereka menemukan sesuatu yang tidak mereka duga-duga. Mereka tidak sengaja bertemu dengan seseorang bersama preman jalanan.


"Paman," panggil Andara.


"Ada apa memangnya?" tanya Herman.


"Apakah dia adalah Kanaya?" tanya Andara sambil menunjuk ke arah perempuan itu.


"Kamu benar. Dia adalah Kanaya. Aku nggak tahu apa yang dilakukan oleh dia di jalanan seperti ini. Padahal dirinya sangat anti sekali dengan kehidupan jalanan. Bahkan dia sendiri pernah mengakui kalau dirinya tidak mau bergaul dengan orang-orang jalanan itu," jawab Herman.


"Apa yang harus kita lakukan? Sepertinya dia memiliki rencana," tanya Andara.


"Kamu benar. kalau dia sudah berhubungan dengan preman-preman jalanan. Kemungkinan besar dia akan melancarkan sebuah aksi. Yang di mana aksi itu akan menimbulkan kekerasan. Bahkan dia sangat pandai untuk memprovokasi keadaan. Sudah banyak sekali korban-korban yang ditimbulkannya," jawab Herman yang mengambil air mineral dan meminumnya.


"Apakah paman tidak menyelidikinya?" tanya Andara.


"Bagaimana bisa aku menyelidikinya. Aku nggak tahu siapa yang akan diserangnya itu?" tanya Herman balik.


"Apakah Paman tidak memakai cara Adinda? Adinda memakai cara yaitu mendekatkan diri dengan mereka," tanya Andara lagi.


Herman teringat kalau dirinya adalah seorang pengacara. Kenapa dirinya tidak memakai hukum untuk mendekati mereka? Tapi Herman tidak akan melakukannya. Sebab belum ada korban yang berjatuhan. Jika sudah ada korban, maka Herman akan turun tangan untuk menumpas mereka semua.


Di sisi lain Andara merasakan ada sesuatu yang tidak enak. Selesai melihat preman itu, Andra teringat pada Adinda dan juga abangnya. Apakah ini pertanda mereka akan menyerang Budiman? Lalu sekarang masalahnya apa? Jika mereka menyerang Budiman. Jujur Andara masih bertanya-tanya dalam hati. Bahkan dirinya masih bingung dalam pertanyaannya Ini.


Melihat Andara yang bingung, Herman tiba-tiba saja bertanya, "Kenapa kamu bingung seperti itu?"