Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 102



"Kamu harus berjanji dengan dirimu sendiri. Kalau kamu harus menuruti apa kataku. Mulai sekarang aku yang akan mengontrolmu makan. Aku tidak mau kamu jatuh sakit hanya karena membela pekerjaan. Aku tidak akan menuntut uang bulanan terlalu besar. Terserah kamu memberiku berapa. Aku ingin lihat kamu sehat dan tetap bahagia. Hidup di dunia ini, bukan untuk mencari kesedihan. Buatlah hidupmu bahagia. Jangan pernah apa yang telah kamu ambil. Oh ya satu lagi. Lupakanlah semuanya. Ayo kita membuka lembaran baru dimulai hari ini. Kalau kamu menyuruhku tinggal di sini. Tidak apa-apa. Kalau kamu ingin tinggal di rumah. Tidak apa-apa. aku akan menuruti keinginanmu. Asalkan kamu nyaman berada di sampingku. Sekarang pergilah mandi. Aku tahu cuaca hari ini sangat panas sekali," jawab Adinda yang membuat Budiman tersenyum renyah.


Dengan senyumnya yang nakal, Budiman langsung menarik tangan Adinda. Ia sengaja menarik tali baju Adinda. Lalu Budiman perlahan melepaskan kancing baju tersebut sambil menikmatinya.


"Ngapain kamu? Kok buka baju aku segala?" tanya Adinda yang membiarkan Budiman melakukan apapun.


"Katanya mau mandi. Ayo kita mandi sekarang," jawab Budiman sambil mengajak Adinda.


"Astaga nih bocah. Kok gue yang terjebak sama orang gila ini. Aku mau turun ke bawah. Ingin membantu mama merapikan belanjaannya," ucap Adinda.


"Nggak bisa Yang. Kamu harus ikut mandi bersamaku. Aku akan memberikanmu sensasi yang hebat," jelas Budiman.


"Masih siang. Kok pikirannya ngeres mulu nih orang. Katanya kayak es batu. Eh tiba-tiba saja otaknya sudah nggak beres. Mandi dulu sana. Jangan sampai aku memandikanmu seperti anak kecil," kesal Adinda.


"Nggak ngeres kali Yang. Mandi bersama itu berguna buat pasangan suami istri. Coba deh kamu rasakan sensasi yang belum pernah ada. Hubungan kita akan semakin kuat. Kita bisa melakukannya tanpa harus jeda sedikitpun. Apalagi kamu itu memiliki tubuh yang sangat aku sukai. Makanya itu aku mengajakmu mandi," jelas Budiman mencoba untuk mencari alasan agar Adinda ikut mandi.


"Teori dari mana itu? Aku sepertinya terjebak," tanya Adinda yang bingung dengan Budiman.


"Ayolah. Kita mandi sekarang. Nanti malamnya nggak usah mandi. Aku akan memberikan kamu servis terbaik," rayu Budiman sambil menahan tawanya.


plakkkkkkkkk!


Adinda mulai marah dan meninggalkan Budiman. Bagaimana tidak dirinya mandi bersama Budiman pada sore-sore begini. Ia akhirnya keluar dari kamar lalu mencari keberadaan Kamila. Sedangkan Budiman tertawa terbahak-bahak melihat Adinda sedang marah. Ia memang tidak serius melakukannya. Ia hanya menggoda sang istri karena menurutnya sangat lucu sekali.


"Ternyata istriku sangat lucu sekali. sering sekali dia marah-marah tak jelas. Tapi amarahnya itu bukan membuatku menderita. Malah membebaskanku dari jeratan wanita ular itu. Kenapa aku nggak sadar? Kenapa aku harus berbohong? Demi wanita ular itu, aku telah menyakiti kedua orang tuaku. Memang aku pria bodoh. Aku sudah tidak mau lagi mengingat Kenangan-kenangan bersama Kanaya. Aku akan hidup bersama Adinda untuk merajut benang kasih. Semoga saja Adinda mau bersamaku selamanya. Kalau nggak mau gimana ya? Aku sendiri takut sama Adinda. Adinda lebih mengerikan ketimbang Kanaya. Jujur Adinda nggak jahat sebagai orang. Namun dia memiliki prinsip yang cukup kuat. Aku sangat menyukainya. Apalagi dia memintaku untuk memberikan uang bulanannya berapa saja. Apakah aku harus menceritakan ini ke mama? Soalnya aku sendiri masih bingung. wanita itu perlu diberikan uang bulanan. Agar semakin cantik dan menarik. Lalu, Berapakah uang yang harus aku berikan? Aku ingin dia tampil cantik dan menarik. Tapi kalau cantik dan menarik. Banyak pria yang sengaja meliriknya. Argh... Rasanya aku seperti orang gila saja. Dia nggak boleh dilihat oleh pria hidung belang. Dia hanya milikku selamanya. Ya sudah deh kalau begitu. solusi utamanya adalah bertanya kepada Mama," batin Budiman yang sebenarnya bingung dengan Adinda.


Memang Budiman tidak tahu berapa besarannya uang bulanan buat Adinda. Kalau soal belanja Budiman sudah memberikannya dalam bentuk mingguan. Bagi Budiman uang bulanan itu sangat penting sekali. Uang bulanan adalah bisa memenuhi syarat pernikahan. Meskipun Budiman orangnya sangat nakal. Namun ia paham dengan norma-norma kehidupan.


Sementara itu Adinda langsung mencari keberadaan Kamila. Ia pergi ke dapur dan melihat Kamila bersama para pelayan membereskan belanjaannya. Adinda masuk ke dalam sambil menyapa mereka satu persatu. Para pelayan itu berteriak kegirangan karena melihat Adinda. Jujur Adinda sangat akrab sekali dengan mereka. Bahkan kalau di rumah Budiman, Adinda sendiri sering menyapa mereka satu persatu dan mengajaknya makan rujak bersama-sama. Meski sederhana, Adinda sangat menyukainya.


"Kamu belum tahu ya Lia? Kalau sekarang Adinda adalah menantuku," sahut Kamila yang tiba-tiba saja membuat mereka berteriak kegirangan.


"Apakah itu benar Bu?" tanya mereka dengan serempak.


"Itu benar. Mudah-mudahan Adinda sering ke sini dan menginap di rumah ini," jawab Kamila.


"Jika dia menantu ibu. berarti Adinda menikah dengan siapa? Perasaan saya Ibu memiliki seorang putri deh," tanya Wati yang bingung dengan status Adinda.


Kamila hanya terkekeh mendengar pertanyaan Wati. Memang, ketika Wati masuk, Wati tidak mengetahui kalau Kamila memiliki seorang putra. Pasalnya Budiman saat itu tidak pernah di rumah sama sekali. Ia jarang sekali pulang ke rumah. Banyak yang beranggapan kalau Budiman itu bukan anak dari Kamila maupun Kartolo.


"Aku masih memiliki seorang putra. dia bernama Budiman. Budiman jarang sekali ke rumah jika tidak ada perlunya sama sekali. Sering sekali Budiman tinggal di apartemennya yang berada di Bekasi. Jarak antara pabrik dan apartemen sangatlah dekat. Makanya Budiman tidak pernah menampakan dirinya. Kalau Andara sering sekali pulang ke rumah. jadinya kalian hanya bisa melihat Andara ketika berada di rumah," jelas Kamila yang membuat mereka paham dengan keluarga sang majikan.


Para pelayan itu langsung menyerbu Adinda. Mereka mengucapkan selamat atas pernikahannya. Mereka langsung meminta traktirannya kepada Adinda. Adinda pun mengiyakan dan akan merayakannya secara sederhana di rumah ini.


Pernikahan ini adalah pernikahan rahasia antara Budiman dan juga Adinda. Kedua belah pihak memang sengaja tidak mengekspos kabar bahagia ini hingga keluar. Mengingat pernikahan ini adalah pernikahan paksa. Yang membuat Adinda harus menuruti keinginan keluarga Budiman. Mulai saat ini Kamila akan perlahan mengekspos pernikahan Budiman ke media sosialnya. Sebelum melakukannya, Kamila akan meminta izin dulu kepada Budiman. Agar mereka tetap nyaman menjalani pernikahan ini meskipun banyak orang tahu.


"Sepertinya, kita harus membuat syukuran deh di rumah ini atas pernikahan kamu dengan Budiman," ucap Kamila.


"Semuanya terserah Mama saja. Aku hanya menurutinya dan menyediakan dana bersama," sahut Adinda dengan penuh senyuman.


"Masalahnya gini Din. Kalau kamu hamil pasti tubuhmu berubah drastis. Nanti banyak orang ngomongin kamu yang nggak-nggak. Kamu tahu kan mulut mereka itu sangat pedas sekali. Apalagi mereka sering menghujatmu di media sosial hanya karena memakai pakaian sederhana," saran Kamila kepada Adinda.


"Sebenarnya itu tidak perlu ma," sahut Budiman yang berdiri di ambang pintu.


"Kenapa nggak perlu sayangku?" tanya Kamila.