
"Aku takut kamu marah sama aku hanya karena menyebut sang mantan," jawab Budiman.
"Nggak apa-apa lagi. Bukankah seorang istri berhak tahu tentang masa lalunya si suami," ucap Adinda.
"Aku sering sekali mendengar seorang istri marah karena suaminya. Bahkan bercerai hanya karena sang suami mengingat mantannya," jelas Budiman.
"Lalu? Apakah aku berhak memarahimu ketika kamu sedang menyebut mantan pacarmu? Ya enggaklah. Aku malah bahagia ketika mengetahui masa lalu kamu. Jadi kalau memiliki hubungan seperti ini harus jujur," tutur Adinda dengan lembut.
"Beneran ini? Kamu enggak marah sama sekali?" tanya Budiman.
"Aku enggak marah sama sekali. Aku memang sudah mempersiapkan diri untuk mengenal masa lalumu," jawab Adinda.
"Ayolah kalau begitu," ajak Budiman.
Sebelum pergi Adinda mencari orang yang berada di taman itu. Ia mengenal beberapa pemulung sedang bersantai duduk di sana. Dengan rasa bahagianya, Adinda memberikan kantong kresek itu kepada mereka. Mereka langsung mengucapkan terima kasih.
Budiman melihat Adinda sangat bersyukur sekali. Ia tidak menyangka kalau sang istri memiliki kemurahan hati yang baik kepada setiap insan manusia. Setelah selesai membagikan makanan itu, Adinda mengajak Budiman pergi meninggalkan mereka.
Di rumah utama, Herman yang berada di kamar menganalisis pesan dari Adinda. Ia langsung meminta seseorang untuk mencari informasi tentang Mila. Ia sengaja memberikan waktu selama dua jam.
Selama ini para tetangga sering membicarakan dirinya. bahkan yang lebih parahnya lagi, Herman disebut benalu. Ia sangat geram akan hal itu. Ia memang bukan benalu. Ia memang sengaja disuruh tinggal atas permintaan Malik dan Tia. Karena Herman sendiri adalah adiknya Malik yang paling kecil.
Memang sedari dulu, Malik sangat menyayangi adiknya itu. Malik tidak ingin terpisah dari Herman. Ia memang sengaja memfasilitasi hidup Herman hingga sukses. Namun Malik disini juga sudah mengambil keuntungan atas kecerdasan Herman.
Begitu juga dengan Herman, Herman sendiri ingin mendedikasikan hidupnya buat Malik dan keluarganya. Ia juga tinggal di sana ingin dekat dengan sang kakak dan keluarganya. Mereka juga tidak menjadi masalah sama sekali. Bahkan Adinda dan Faris mau menerima Herman sebagai kakaknya.
Dua jam berlalu, Herman langsung mendapatkan informasi itu. Ia membaca dan mencocokkan semuanya dengan apa yang diterimanya dari Adinda. Ia baru paham apa yang telah terjadi saat ini.
"Selama ini dugaanku benar. Aku tidak menyangka kalau Mila telah berbuat yang tidak baik. selama ini setiap pembicaraan apapun selalu bocor ke tetangga. terutama ke Bu Diana. Yang dimana Bu Diana adalah musuh bebuyutannya Adinda. Jika Adinda tahu soal ini, Mila akan habis di tangannya," batin Herman yang meraih ponselnya lalu menghubungi Budiman.
Sebelum sampai ponsel Budiman berdering. Budiman yang sedang menyetir meminta Adinda untuk bertemu. Adinda menatap Budiman langsung mengiyakan. Selesai mendapatkan persetujuan dari Adinda. Saat itu juga Herman langsung pergi meninggalkan rumah dan menghubungi Malik. Ia akan mengadakan pertemuan di sebuah kafe. Yang dimana kafe yang sedang dituju Budiman adalah milik Tia.
Mereka pun setuju. Malik langsung mereservasi tempat khusus di ruangan private. Sang kepala pelayan langsung menyetujuinya.
Tepat jam lima sore, mereka sudah sampai. Adinda terkejut dengan kafe yang dimaksud oleh Budiman. Ia melihat Budiman sambil berkata, "Ini kafe adalah milik Mama. Tapi akulah sang investor utama."
"Apa?" pekik Budiman. "Apakah itu benar?"
"Ya itu benar. Aku menyuruh Mama untuk membuka kafe baru. Kafe itu ada campur tanganku," jelas Adinda.
"Bener-bener ya kamu. Terbuat dari apa otakmu itu?" tanya Budiman yang tersenyum manis.
''Pasti membahas tentang Mila?' tanya Budiman.
"Ya... mau bagaimana lagi. Mila sudah keterlaluan sekali. Dia sangat menginginkan keluarga ini dipermalukan di tempat umum. AKu tidak tahu apa yang harus dilakukan sekarang," jawab Adinda dengan pasrah.
"Yang berbuat salah siapa? Kamu yang menandai gelisah. Kamu itu sangat aneh sekali," kesal Budiman yang melihat sang istri terlalu baik kepada orang lain.
"Kok kamu yang kesal seperti itu?" tanya Adinda.
"Gimana enggak kesal? Kamu itu terlalu baik sama seseorang," jawab Budiman yang membuka pintu mobil.
"Kamu tahu? Kalau aku lebih mementingkan kemanusiaan ketimbang yang lainnya. Jika Mila dipecat, nanti keluarganya makan apa?" tanya Adinda.
Budiman tidak menjawab apa-apa. Ia sangat kesal terhadap sang istri. Perasaan Budiman sepertinya Mila menyembunyikan sesuatu. hatinya Budiman serasa tidak nyaman terhadap Mila. Bisa jadi keluarga sang istri sedang dalam bahaya.
Budiman berjalan duluan dengan dikejar oleh Adinda. Mereka segera masuk dan disambut sama para penjaga toko sana. Adinda tersenyum manis sambil menganggukan kepalanya lalu mengajak Budiman pergi ke rooftop secara langsung.
"Apakah kamu yang membuat desain seperti ini?" tanya Budiman.
"Sebagian besar ayah yang mendesain sendiri. Sebelum mendesain, ayah bertanya kepada anak didiknya apa yang menarik untuk saat ini. Kalau aku hanya makanan saja. Sering banget aku mengkombinasikan beberapa makanan kaleng dengan makanan yang sedang happening banget," jelas Adinda yang membuat Budiman takjub.
Tiba-tiba saja Budiman mengingat tentang Kanaya. Ia langsung membandingkan antara Kanaya dan Adinda. Budiman mengatakan kalau mereka beda jauh.
Satu karya menyesal di dalam hatinya. Ia benar-benar tidak menyangka kalau perbedaannya sangat jauh sekali. Bahkan ia sendiri hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Ingat Kanaya... sama saja ingat wanita manja yang pernah aku temui. Hampir setiap hari dia meminta uang hanya demi membeli barang-barang mewah,' kesal Budiman di dalam hatinya.
Meskipun kesal, Budiman masih merasakan keberuntungan. Ia tidak terjatuh lebih mendalam. Untungnya para sahabat dan orang tuanya maupun Adinda sudah memperingatkannya dengan pelan. Hingga akhirnya ia bisa lepas dari Kanaya dengan utuh.
Ketika matahari memunculkan cahaya berwarna oranye, Adinda dan Budiman berpegangan tangan. Budiman sengaja memegang tangan Adinda. Hanya untuk menciptakan momen-momen romantis. Apalagi cincin pernikahan mereka tersemat indah di jari manis masing-masing.
Matahari mulai terbenam dengan indahnya. Budiman berjanji akan melupakan masa lalunya. Di tempat inilah Budiman menyatakan rasa cintanya kepada Adinda. Adinda langsung menerimanya dan meminta untuk setia menemani dirinya. Budiman tidak melamar lagi Adinda. Karena Budiman sudah mengejar ke kantor urusan agama. Yang dimana nama mereka sudah tercatat dalam agama dan negara. Budiman baru sadar kalau dirinya sudah resmi menikah. Dengan senyumnya yang indah Budiman menatap wajah Adinda. Kemudian Budiman langsung mencium mulut Adinda dengan sangat rakus.
Suasana saat itu sangatlah sepi. Bahkan tempat itu sengaja dikosongkan oleh Herman. Herman tahu tujuan Budiman di sana adalah hanya melihat sunset dan menikmati momen-momen romantis. Sebelum berangkat Herman sudah menyuruh para pelayan untuk menutup akses menuju ke rooftop.
"Rasanya aku ingin menikahimu lagi. Tapi itu tidak mungkin. Pak penghulu ternyata sudah mencatat akad nikah kita yang dulu," ucap Budiman.
"Kita belum membuat resepsi," sahut Adinda.
"Ah iya aku lupa. Enaknya Kapan kita membuat resepsi agar seluruh dunia mengetahui? Kalau kamu adalah milikku selamanya," tanya Budiman.