
"Memang ini adalah anak buahku," jawab Adinda yang kesal terhadap Budiman.
"Beginikah sikapmu menyambut tamu dan menjelekkan bos perusahaan besar?" tanya Budiman yang tidak mau kalah.
"Sikapnya siapa yang sangat kasar terhadap karyawan sendiri?" tanya Adinda balik sambil menatap nyalang wajah Budiman. "Gitu kok mau dihormati sebagai seorang bos."
"JAGA UCAPANMU! JANGAN PERNAH MEMUTAR BALIKAN FAKTA SESUNGGUHNYA!" bentak Budiman.
"Bisa nggak sih kamu make nada rendah saja? Semenjak kamu kembali dengan wanita iblis itu. Kamu seenaknya bisa membentak-bentak orang. Kamu nggak memperdulikan betapa sakit hatinya orang itu kepadamu. Aku tidak menyangka kalau seorang Budiman sangat jahat sekali kepada sesamanya. Namamu tidak mencerminkan dengan sikapmu itu. Untung saja kamu bertemu dengan aku. Jika tidak maka seluruh orang tidak mau memperhatikanmu seperti ini," jelas Adinda yang melipat kedua tangannya di dada.
"Kamu itu!" bentak Budiman lagi sambil menatap wajah Adinda.
"Melani pergilah kamu menjauh dari sini! Sebentar lagi ada pertengkaran hebat antara suami istri gila ini!" perintah Adinda kepada Melani agar segera menjauh.
Melani akhirnya menjauhi area itu. Ia sangat ketakutan sekali jika bosnya sudah mengeluarkan taringnya. Melani sudah paham dengan watak bosnya itu. Meskipun kelihatan barbar, namun Adinda adalah bos yang sangat lembut dan perhatian kepada karyawannya.
"Aku bukan suamimu," ucap Budiman yang tidak ingin memandang wajah Adinda.
"Iya ya. Aku baru sadar kalau kamu bukan suamiku juga. Kamu hanya numpang di rumahku dan kamarku. Sekarang jelas hubungan kita seperti apa," ujar Adinda dengan angkuh.
"Kalau begitu kita cerai saja," sahut Budiman yang sangat membenci Adinda.
"Kalau kamu menceraikanku nggak apa-apa. Sudah dari awal aku mau mintanya kepadamu. Kita sudah nggak sepaham lagi. Kamu lebih percaya pada wanita iblis itu. Apapun yang dia minta semuanya akan menjerumuskanmu dalam masalah besar. Wanita mana yang mau melihat suaminya seperti itu? Wanita itu hanya wanita bodoh. Yang mau diinjak-injak sama pria sepertimu. Kita belum memiliki seorang anak. Jadi mudah bagi kita untuk saling membubarkan pernikahan ini," kata Adinda dengan nada mengejeknya.
"Kamu itu!" geram Budiman sambil menunjuk wajah Adinda.
"Ini untuk terakhir kalinya aku memperingatkanmu. Kanaya bukan wanita yang baik. Kanaya adalah seorang benalu. Yang di mana benalu itu akan membuatmu menjadi menderita selamanya. Tidak akan ada lagi wanita yang mau bersamamu untuk waktu yang akan datang," ucap Adinda yang memperingatkan Budiman.
"Ngapain kamu ke sini? Kamu mau ngambil seluruh karyawanmu? Aku tidak akan memberikannya kepadamu. Karena mereka sudah menderita oleh ulahmu sendiri. Dan adikmu Andara pindah ke sini hanya karena keras kepalamu. Kamu selalu membela Kanaya ketimbang adikmu sendiri. Aku nggak habis pikir ada seorang kakak yang kejam terhadap adiknya hanya demi seorang wanita ular sepertinya. Kalau dia adikku pasti aku akan mengajaknya bertukar pikiran dan bertegur sapa seperti semula," jelas Adinda sambil tersenyum licik.
"Bilangin sama Andara nggak usah balik lagi ke rumah. Jangan pernah menginjakkan kakinya di perusahaan keluargaku itu. Seluruh fasilitas sudah aku cabut semuanya!" perintah Budiman yang tidak main-main dengan perkataannya itu.
"Oh begitu ya. Cabut aja semuanya nggak apa-apa. Aku tahu kamu kalau sayang sama Andara di perusahaan itu. Ditambah lagi dengan slentingan-selintingan dari Kanaya. Kanaya sudah mencuci otakmu sedemikian rupa dan menjadikan Andara sebagai musuh terbesarmu. Jiwa bisnisnya Andara sangat besar ketimbang kamu. Dia pandai menjaring seluruh klien hingga ke luar negeri. Lalu kamu? Kamu sibuk sekali berpacaran dengan Kanaya. Tidak pernah memperhatikan masalah perusahaan dan keluargamu sendiri ditambah lagi adikmu. Kamu adalah manusia yang paling hebat yang pernah aku temui. Aku sekarang lagi kena sial saja menikah denganmu. Jika Andara bukan sahabat kecilku. Aku tidak akan mau menikah denganmu. Dan kamu harus membuka mata hatimu itu. Kalau aku bukan Wanita biasa. Wanita yang di mana bisa diinjak olehmu dan dimaki-maki oleh setiap pria. Kamu salah cari musuh," ungkap Adinda dengan penuh kekesalan di dalam hatinya.
"Aku ke sini tidak ingin berdebat denganmu soal karyawan itu. Aku nggak memperdulikannya sama sekali. Karena mereka tidak becus bekerja dalam perusahaanku," ejek Budiman terhadap mantan karyawannya itu.
"Aneh bin ajaib. Terima kasih kamu sudah memberikan aku berlian yang sangat bagus sekali. Gara-gara karyawanmu masuk ke sini. Perusahaanku menjadi lebih besar lagi. Sebentar lagi aku akan membangun beberapa cabang di pulau Jawa dan Kalimantan. Aku harap kamu paham semuanya," jelas Adinda yang tersenyum penuh dengan kemenangan.
Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Beberapa bulan terakhir ini Adinda kedatangan banyak orang-orang dari perusahaan Budiman. Mereka meminta pekerjaan di sini. Sebenarnya Adinda mengenal mereka semuanya. Ditambah lagi Adinda mengakui kehebatan mereka. Mereka curhat habis-habisan tentang sifat Budiman yang semakin lama semakin arogan. Mereka meminta Adinda untuk menampungnya dan memberikan pekerjaan.
Benar saja firasat Adinda benar. Adinda berencana untuk membuat perusahaannya menjadi besar. Meskipun begitu Adinda selalu saja mengkoordinasikan pada keluarga besarnya itu. Alhasil mereka setuju dan Adinda pun menerima hasil keputusan mereka.
"Aku ke sini hanya untuk meminta tender yang baru saja kamu dapatkan segera lepaskan! Karena kamu memiliki banyak kecurangan!" perintah Budiman.
Wanita berparas cantik itu pun malah tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa dirinya melepaskan tender besar begitu saja? Dari mana kalau Adinda melakukan kecurangan selama presentasi terhadap tender tersebut? Menurutnya ini sangat aneh sekali.
Tidak perlu waktu lama Adinda melihat Budiman yang sangat aneh sekali. Bukankah perusahaannya itu hanya membuat kaleng makanan saja? Lalu kenapa Budiman meminta Adinda untuk melepaskan tender yang baru saja didapatkannya itu?
"Kamu itu sangat aneh sekali ya. Sangking anehnya kamu memintaku untuk melepaskan tender baruku. Padahal perusahaanmu itu tidak berhubungan dengan makanan. Perusahaanmu itu hanya memproduksi kaleng makanan. Aku tahu di belakangmu ada seseorang yang ingin menjegal usahaku. Tapi itu tidak mungkin. Aku akan tetap bertahan dengan tender itu. Karena mereka sudah mempercayaiku untuk membuat makanan sehat dan penuh gizi," jawab Adinda dengan jelas.
"Kalau kamu tidak melepaskan maka perusahaan ini yang akan roboh dengan sendirinya," ancam Budiman.
"Oh itu tidak bisa. Apakah itu tidak terbalik? Semuanya terbalik. Semenjak Kanaya berada di sampingmu perusahaanmu akan hancur dengan sendirinya. Aku memang tidak memprediksi suatu perusahaan itu akan hancur dengan sendirinya. Tapi ini fakta yang sesungguhnya. Ya sudah kalau begitu pulanglah ke rumahmu. Jangan pernah kembali lagi ke sini hanya karena tender itu," usir Adinda dengan tegas.
"Awas aja kamu!" ancam Budiman yang tidak terima jika Adinda tidak mau melepaskan tender itu.
"Ancam saja terus aku tidak mempedulikan itu. Jangan sampai aku mengetahui siapa yang di balik belakangmu itu," ancam Adinda balik. "Jika aku mengetahuinya. Maka dengan berat hati aku akan menghancurkan orang itu."
"Jangan pernah main-main dengan ancamanmu itu. Kamu nanti akan tahu akibatnya!" geram Budiman.
"Aku nggak main-main. Jangan salahkan kalau jiwa psikopatku muncul dengan tiba-tiba. Jika itu terjadi maka aku tidak bisa mengendalikannya. Oh ya salam buat Kanaya. Salam buat dia dan katakan dari aku. Tunggu saja kehancurannya setelah ini," ucap Adinda yang membuat Budiman menjadi garam.
Budiman kalah telak berdebat dengan Adinda. Memang dahulu Adinda sering mengikuti lomba debat. Dahulu sekolahnya jika ada lomba debat, Adinda lah orang yang pantas dikirimkan. Bahkan Andara pun paham dengan sikap Adinda itu. Jika Adinda mulai berdebat, Andara memilih untuk mundur dan tidak ingin melanjutkannya. Andara mengakui Kalau Adinda memang hebat dalam berdebat.
Lalu bagaimana dengan keluarga lainnya? Sama saja Adinda lah yang menjadi pemenangnya. Namun Adinda lebih memilih berdebat tentang sains dan bisnis dan manajemen. Apalagi tentang jatuhnya saham seketika. Gara-gara itulah Adinda sering diperebutkan di beberapa perusahaan besar di dunia ini.
Jujur saat ini Budiman pulang dengan wajah kecewa. Yang namanya Adinda tetaplah Adinda. Adinda tidak akan pernah mau membagi tender ke perusahaan lainnya. Sebab dirinya telah belajar banyak dari keluarga besarnya itu.
Melihat kepergian Budiman, Adinda memanggil Melani untuk kembali bekerja. Adinda menuturkan agar Jangan pernah takut kepada Budiman. Karena Budiman bukan bosnya sendiri.
Setelah itu Adinda kembali lagi ke ruangannya. Bukannya mendapatkan angin segar malah bertemu dengan Budiman. Mau tidak mau Adinda berdebat sengit sama Budiman.
"Ibu Adinda," panggil Linda.
"Ada apa Linda?" tanya Adinda.