
"Iya itu benar. Pak Kartolo sangat frustasi saat Budiman masih bersama Kanaya. Bahkan Njawe Groups akan dimasukkan ke dalam perusahaan SM Company. Lalu aku mencoba untuk mempertimbangkannya. Seandainya saja digabungkan, nanti ada efeknya yang tidak baik. Kamu tahu kan kalau Njawe Groups sedang bermasalah dengan Gilang. Jangankan sama Gilang, Perusahaan kita sendiri juga sedang bermasalah dengan Gilang. Jadinya ayah tolak secara halus untuk sementara waktu," jawab Malik dengan jujur.
"Sebenarnya nggak salah kak. Kalau kakak menggabungkan kedua perusahaan itu menjadi satu. Hanya saja mereka memakai nama perusahaan kita untuk melindungi perusahaan itu. Tapi itu sangat ribet sekali melakukannya. Belum lagi mengurus semuanya. Tapi untuk saat ini nggak usah digabungkan dulu kak. Selama ada Faris dan aku. Aku akan tetap membantu Njawe Groups ketika menghadapi masalah baru," jelas Herman.
"Yang penting sabar. Masalah ini akan terselesaikan. Aku berharap bilang tidak akan mengganggu dua perusahaan ini. Masalahnya bangsa pasarnya sangat beda jauh. Nggak mungkin Gilang mengganti usahanya dengan makanan kering. Ini sangat aneh sekali. Sedangkan Gilang sendiri memproduksi makanan suplemen. Kan aneh jadinya. Apalagi mengenai tender itu. Gilang pengen banget mengeluarkan makanan khusus untuk prajurit untuk Medan peperangan," jelas Faris yang membuat mereka menggelengkan kepalanya.
"Mungkin saja Gilang merambah ke sana," celetuk Herman.
"Nggak semudah itu kali. Semuanya itu tidak bisa sekejap membuat makanan dalam waktu beberapa minggu langsung jadi. Seluruh makanan yang kita produksi harus disertai uji klinis dari pemerintah dan juga dokter ahli gizi. Contohnya saja makanan kaleng yang dibuat oleh Adinda. Bikinnya mudah. Prosesnya yang lama. Nggak langsung jadi dijual. Begitu juga dengan makanan kering. Memangnya tidak pakai uji klinis? Ya pakailah. Bahan-bahannya juga nggak main-main. Gitu mau sok-sokan membuat makanan kering yang disodorkan untuk para anggota perang?" ucap Malik yang berbicara sesuai fakta.
"Tapi Gilang bisa melakukan dengan cara cepat. Ayah tahu sendiri kalau Gilang itu bagaimana? Makanya aku sendiri geleng-geleng kepala gara-gara melihat kekonyolan Gilang itu sendiri. Dulu bukannya perusahaan yang dimilikinya bekerja di bidang properti?" tanya Faris.
"Nggak tahu lagi deh kalau itu. Kalau dipikir-pikir ya aneh. Hanya karena seorang rival langsung membelokkan perusahaannya itu dengan lainnya. Aku baru mengetahui kalau Gilang itu sangat kocak sekali menjadi orang. Semoga saja Gilang tersedak jika sedang makan atau minum. Memang bos gila," kesal Herman terhadap Gilang.
"Dulu aku kira dia adalah mahasiswa yang terbaik. Namun nyatanya dia bukan mahasiswa yang baik. Sering kena peringatan dari banyak dosen. Suka membully juga. Kalau nggak suka, suka ngancam. Untung saja kalian-kalian aku lemparkan ke Harvard atau Oxford saat itu juga. Bukan Ayah seorang pengecut menghadapi orang seperti itu. Ayah nggak mau memamerkan apa yang dimiliki kepada orang-orang seperti itu. Ayah lebih baik memilih diam dan bergerak sendiri. Itulah Ayah yang sebenarnya. Memang susah bertemu dengan orang-orang seperti itu. Kalian tenang saja. Sekarang Adinda dan Budiman sudah bersatu. Tinggal menunggu saja waktunya. Aku yakin Gilang tidak akan bisa bergerak sedikitpun," Malik menjelaskan apa yang terjadi nanti ketika Adinda dan Budiman habis pulang dari London.
"Semuanya itu tidak jadi masalah. Aku sendiri tidak memperdulikannya sama sekali. Buat apa? Kalau yang namanya bisnis tetap bisnis. Maka kita bisa mengerjakannya dengan baik dan benar. Suatu hari nanti siapa yang akan menjadi pemenang itulah orang yang tidak melakukan kecurangan apapun. Aku jamin itu," tambah Herman yang semakin lama semakin bijak menjadi orang.
"Kapan kamu akan menikah Herman? Mengingat usiamu sudah tua. Ditambah kamu itu sudah makan menjadi pria," tanya Malik yang mengkhawatirkan sang adik yang belum menikah sama sekali.
"Belum waktunya. Menikah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Aku masih ragu terhadap calon istriku itu. Aku akan menikahinya atau tidak. Tunangan belum tentu sampai besok. Siapa tahu akan putus di waktu belum menikah," jawab Herman dengan jujur.
Malik teringat dengan apa kata Budiman dan juga Adinda. Ia sudah sepakat tidak mengatakan ini terlebih dahulu kepada Herman. Mungkinkah Adinda akan bilang secara langsung atau tidak? Inilah yang membuat Malik menjadi sanksi.
"Yang dikatakan oleh Paman benar. Aku tidak bisa membenarkan menikah itu enak. Ada kalanya perasaan satu dengan perasaan lain sedang disatukan dengan kata cinta. Aku merasa diriku ini sangat aneh. Ya bisa dikatakan adikku lah yang mendapatkan jodoh terlebih dahulu. Sedangkan aku, aku masih sekarang belum ada yang kuajak menikah," jelas Faris.
"Ternyata kamu susah juga ya untuk menikah? Mau bagaimana lagi. Seharusnya kamu pulang dari London sudah membawa perempuan. Eh ujung-ujungnya masih jomblo hingga detik ini. Pokoknya jangan lama-lama. Ayah nggak mau kamu menikah di usia yang sudah tua sekali," pinta Malik.
"Ya nggak gitu kali ayah. Aku sendiri masih memilah-milah untuk mencari orang yang tulus mencintaiku. Aku nggak bisa gegabah untuk mendapatkan sesuatu agar menjaga lihat menjadi baik," ucap Faris.
"Lalu kamu kenapa ragu terhadap Netty?" tanya Malik sambil memandang wajah Herman.
Kemudian Herman menceritakan keraguannya kepada Malik. Saat bercerita Malik sangat terkejut sekali atas pernyataan dari sang adik. Ia baru sadar kalau sang adik ternyata ada kejanggalan terhadap calon istrinya itu. Tidak sengaja Malik mengkaitkan dengan cerita Adinda. Mungkinkah mereka berdua memiliki firasat yang sama terhadap Netty?
Malik akan menjadi cara untuk mengumpulkan semua orang di dalam satu ruangan. Herman harus tahu apa yang akan terjadi pada Netty? Begitu juga sebaliknya, Adinda juga harus tahu bagaimana perasaan Herman untuk saat ini. Malik harus mengambil keputusan dengan cepat. Agar masalah ini cepat selesai dan tidak menggantung seperti ini.
"Ya sudah kalau begitu. Sudah siang... Aku ingin istirahat terlebih dahulu," pamit Malik yang beranjak berdiri lalu meninggalkan mereka.
Akhirnya mereka bubar dan pergi ke kamar masing-masing. Tanggal merah lebih baik digunakan untuk beristirahat. Jujur beberapa hari terakhir, pekerjaan mereka telah menguras energi.
Sore pun tiba, Budiman dan Adinda memutuskan untuk pulang. Mereka berdua sangat ceria sekali. Mereka juga sudah tahu tentang video itu sudah menyebar ke seluruh dunia. Mereka tidak memperdulikannya dengan video itu.
"Pulang ke mana?" tanya Budiman.
"Itu terserah kamu. Atau juga kita pulang ke apartemen. Aku hari ini benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapapun," jawab Adinda.
"Apartemen kamu?" tanya Budiman yang menyalakan mobilnya.
"Tidak. Biarkan saja. Aku sudah tidak mempedulikan apartemen itu. Kemungkinan besar apartemen itu akan aku jual. Untuk Netty aku sudah tidak bisa menolongnya lagi. Aku ingin melihatnya dia mandiri tanpa harus memanggilku. Jika dia bersama Gilang Aku melepaskannya. Aku tidak memperdulikannya sama sekali," jawab Adinda.
"Ya sudah terserah kamu. Kalau mau jual nanti aku bantu jualin. Banyak sekali para klien ku dari luar negeri sana sangat membutuhkan apartemen untuk tinggal di Indonesia," jelas Budiman.
"Kalau aku jual, gimana dengan Andara?" tanya Adinda.
"Kita ngomong aja Bagaimana enaknya. Kita nggak akan mungkin menutupi semuanya. Cepat atau lambat mereka harus tahu keadaannya bagaimana. Begitu juga dengan Herman. Sama-sama harus tahu. Aku harap keadaannya baik-baik saja," jawab Budiman yang belum jalan sama sekali.
"Kamu ngomongnya enak banget ya? Kalau aku ngomong sama Paman Herman masalah cepat selesai. Paman Herman akan marah tapi nggak lama. Kalau adikmu beda. Jika saja adikmu tahu bagaimana masalahnya. Adikmu akan sangat marah sekali dan ingin melabrak Netty. Kamu tahu, jika ada orang yang berkhianat kepadanya. Orang itu akan menjadi bulan-bulanannya adikmu sendiri. Makanya itu aku harus mencari solusinya terlebih dahulu. Agar masalah ini cepat selesai," jelas Adinda yang sedang bingung dengan keadaannya.
"Bagaimana dengan kedua orang tuanya? Bukankah mereka sudah setuju jika Netty menikah dengan Herman?" tanya Budiman lagi.
Mendengar kata orang tua, Adinda mulai berpikir sejenak. Ia tidak bodoh untuk mengambil keputusan. Apakah kedua orang tuanya tahu jika Netty berkhianat kepadanya? Ataukah kedua orang tuanya akan terkejut dan menghukum Netty saat itu juga? Jadi dua pertanyaan ini yang akan menjadi pedoman Adinda untuk menyelesaikan masalah.
"Bagaimana dengan kedua orang tuanya?" tanya Adinda balik yang membuat Budiman memegangi kepalanya karena pusing.