
"Mending Kakak dukung saja keinginan Adinda. Kakak harus mendukungnya dari belakang. Jangan sampai nanti Adinda tidak memiliki support dari kakak. Jujur Adinda itu bukan seperti wanita yang kakak sering temui. Banyak lho semua pria ingin mengejarnya untuk menjadi kekasihnya. Hampir setiap hari banyak pria yang mengirimkan bunga mawar kepada Adinda. Apakah kakak nggak mau melindunginya? Apakah kakak nggak ingin memiliki Seorang istri yang sangat baik seperti Adinda? Jangan sampai Adinda diambil orang Kak. Jika itu terjadi, aku sebagai Andara tidak akan membantu Kakak lagi," jawab Andara yang mengeluarkan isi hatinya itu.
Deg.
Jantung Budiman berdetak dengan kencang. Mendengar pernyataan Andara, dunia Budiman seakan runtuh berkeping-keping. Entah kenapa dirinya tidak rela, jika Adinda menjadi milik orang lain. Sebab Budiman sendiri sangat menyayanginya.
"Kalau Adinda pergi. Duniaku merasa runtuh. Hancur berkeping-keping dan tidak bisa disusun lagi. Jujur, aku sudah memiliki perasaan semenjak awal kita bertemu. Hanya karena wanita ular itu, cintaku luntur seketika. Kenapa aku nggak berpikiran seperti ini? Apakah kakak bodoh menjadi seorang pria? Tolong jawab Nda," tanya Budiman yang meminta pendapatnya dari Andara.
"Kakak nggak bodoh. Tapi Kakak sengaja dirusak oleh Gilang. Andai saja pernikahan ini tidak terjadi, kemungkinan Kakak dan keluarga kita akan menjadi rusak. Memang, Papa dan Mama sangat kejam sekali. Begitu juga dengan aku dan Kak Tio. Kami sudah sepakat untuk menikahkan kakak dengan Adinda. Tapi nyatanya, baru berjalan seumur jagung, Kakak sudah mau menerima Adinda. Itulah yang dinamakan cinta sejati. Yang di mana Cinta sejati itu tidak akan pernah hilang begitu saja. Sekarang kakak katakan saja apa. Apa yang ada di dalam hati kakak sendiri. Jika kakak benar-benar mencintainya. Sekali-sekali kakak bilang cinta kepada Adinda. Seorang wanita kalau mendengar kata-kata cinta atau manis, wanita itu terbuai. Begitu juga dengan aku. Jujur aku sangat merasakan akan hal itu," jelas Andara yang memberikan solusi kepada Budiman.
"Terima kasih ya. Jujur untuk saat ini aku memang benar-benar salah. Sekarang aku paham dan bisa memahami seorang wanita. Bagaimana kalau kamu memiliki seorang keponakan yang sangat lucu sekali?" Tanya Budiman.
"Apakah hanya seorang saja? Kalau bisa kakak berikan tiga atau empat. Karena aku sendiri sangat menyukai anak-anak," jawab Andara.
"Ditunggu saja ya. Semoga Adinda cepat hamil. Agar Adinda tidak akan pergi dariku," ucap Budiman.
Andara tersenyum melihat keadaan Budiman. Jujur Andara sendiri sudah merasakan lega di dalam hatinya. Selama ini Andara tidak pernah berbicara seperti ini. jangankan berbicara, kalau bertemu pun jarang. Kemungkinan besar Andara mengajak Budiman berantem terlebih dahulu.
"Kakak sekarang sudah banyak berubah ya? Nda jadi senang lihat Kakak. Yang dulunya Kakak sangat jahat sekali. Sekarang kakak berubah. Yang dulunya kakak tidak memiliki kasih sayang. Sekarang kakak memiliki buat aku. Jujur saja, aku sangat menyukai perubahan Kakak seperti ini," jelas Andara.
"Aku sangat bersyukur. Selama ini aku juga merasakan perubahan dalam diriku. Aku harap kamu nggak dendam sama kakak. Mulai saat ini kakak akan menjadi perisaimu dan melindungimu dari hal-hal berbahaya," udah Budiman yang berjanji untuk melindungi Andara.
Sedangkan Adinda tersenyum melihat Andhara dan Budiman sedang berbicara dari jauh. Adinda sengaja memberikan ruang untuk adik Andara maupun Budiman. Entah kenapa hatinya sangat bahagia sekali untuk hari ini. Meskipun tadi ada kejadian yang tidak mengenakkan.
Perjalanan menuju Singapura akan segera sampai. Mereka mulai bersiap-siap untuk pendaratan pesawat tersebut. Mereka duduk dengan santai dan menikmati pendaratan pesawat itu dengan sempurna.
Di hotel Kamila sangat kesal terhadap Gina. Baru pertama bertemu di Singapura, Gina langsung menyerang Kamila dengan kata-kata kotornya itu. Untung saja saat itu tidak ada orang sama sekali. Jadi Kamila sendiri tidak memperdulikannya.
"Habis saja dari kamarnya Andrew," jawab Kamila.
"Apakah kamu tidak bertemu dengan Gina?" tanya Kartolo yang merasakan firasat yang tidak enak.
"Iya aku bertemu dengannya. Dia memakiku dengan bahasa yang tidak pantas dikeluarkan. Kamu tahu kan ini hotel adalah Hotel internasional. Yang di mana orang-orang yang menginap di sini adalah orang-orang yang memiliki nama. Aku sendiri tidak habis pikir dengan Gina. Dari dulu Gina tidak berubah sama sekali," jawab Kamila.
"Apakah kamu mau tahu kalau dia berubah? Apakah ada efeknya buat kita? Apakah kita bisa damai dengan mereka?" tanya Kartolo yang mendekati Kamila.
Kamila hanya menggelengkan kepalanya saja. Kata-kata itu membuatnya bertanya-tanya. Kenapa sang suami bertanya seperti itu?
"Dia tidak akan pernah berubah sedikitpun. Hatinya sudah dipenuhi oleh racun iri dan dengki. Berubah nggak berubah nggak ada efeknya buat kita. Percuma saja kalau dia berubah. Ujung-ujungnya nanti begini lagi. Lagian mereka berubah pun hanya sedetik. Kita juga tidak bisa damai sama mereka. Bukankah selama kita menikah mereka selalu membuat ulah? Kamu tahu sendiri kan Bagaimana sifat mereka? Aku masih marah karena ladang sawit yang berada di Kalimantan dirusak habis-habisan. Sebenarnya aku nggak peduli soal kerusakan itu. Tapi banyak para petani yang aku miliki menganggur. Mereka menggantungkan hidupnya di hidup kita. Padahal saat itu kita nggak memiliki dendam sama dia," jelas Kartolo yang membuat Kamila paham.
"Jujur hatiku saja masih sedih sampai saat ini. Papa mertua memang benar. Setelah menikah Papa mertua sudah membicarakan hal ini kepadaku. Jadinya aku sekarang paham. Tapi aku bersyukur bisa menghadapi ini semuanya denganmu. Aku juga bersyukur ketika Andara memberikan sebuah pesan kalau putra kita sudah berubah. Bukankah kita bisa meminta pertolongan Kak Husein saja?" tanya Kamila yang memberitahukan sifat Budiman sebenarnya.
"Sebenarnya Kak Husein mau membantu. Tapi beliau akan turun tangan jika masalah ini sudah membesar. Beliau juga memantau Bagaimana Gilang sebenarnya. Ditambah lagi Herman sudah menyatu pada Kak Husein. Mereka sengaja menghentikan langkah terlebih dahulu. Sampai mana Gilang akan melakukannya?" jawab Kartolo.
"Apakah ini tidak kelamaan buat kita? Kalau mereka menyerang bagaimana?" tanya Kamila lagi.
"Masa kamu takut sih kalau diserang sama mereka? Mereka lo bersembunyi jika kejadian sudah terjadi. Adinda sudah memiliki kata kuncinya. Cepat atau lambat Adinda akan menyerang keluarga Gilang," jawab Kartolo yang menghempaskan bokongnya duduk di sofa yang menghadap ke arah jendela.
"Biarkan saja mereka menyerang. Memang aku sengaja menunggu mereka menyerang terlebih dahulu. Aku sudah mengajak Adinda untuk bekerja sama. Mama tenang saja soal ini. Adinda akan bangun dan bangkit untuk menghabisi mereka semuanya," jelas Kartolo.
Kamila memilih untuk diam terlebih dahulu. Ia tidak akan gegabah untuk merusak keluarga Gilang. Bahkan dirinya selalu bersabar akan ada esok harinya menyerang dan merusak kehidupan Gilang. Karena Kamila sendiri suka menahan amarahnya.
"Bagaimana kabar Andrew?" tanya Kartolo.