Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 142



“Aku sedang membaca artikel dari Paman Herman. Entah kenapa Aku ragu atas keputusanku tentang karirmu itu. Ini orang sangat berbahaya sekali. Cepat atau lambat mereka akan memburuku dan membunuhku. Aku harus mencari cara agar bisa membalikkan keadaan,” jawab Adinda.


“Tidak kamu saja. Aku juga merasakan hal yang sama. Mereka sangat berbahaya dan memiliki peluang untuk merusak orang-orang di sekitarnya jika tidak ada yang mau menurutinya. Entah bagaimana aku harus berpikir untuk menyelamatkan keluargaku dan keluargamu,” ucap Budiman.


“Apa yang harus kamu lakukan untuk saat ini?” tanya Adinda yang menatap wajah Budiman.


“Menunggu keputusan dari kamu saja,” jawab Budiman yang membuat Adinda bingung.


“Jika aku memecatmu sebagai CEO, lalu mengajakmu sebagai pegawai aku bagaimana?” tanya Adinda yang ragu atas keputusannya itu.


“Semuanya terserah kamu. Aku akan menuruti Apa katamu. Karirku berada di tanganmu. Terserah kamu berbuat apapun aku akan menerimanya,” jawab Budiman dengan pasrah.


“Ya nggak gitu kali. Kamu harus berbuat sesuatu atas karirmu itu. Membangun itu lebih gampang daripada mempertahankan. Aku yakin mereka akan menyerang kita bersama-sama. Sesudah meeting Aku akan pergi ke kantor Gilang membawa banyak bukti kalau dirinya memang tidak pantas bekerja sebagai CEO di perusahaannya itu,” ucap Adinda.


“Kamu gila ya Din. Kamu mau mencari masalah dengan mereka? Kamu ingin bunuh diri?” tanya Budiman yang tiba-tiba saja emosinya meledak.


“Bukan begitu maksudku,” ucap Adinda. “Ah biarkan saja. Aku yakin mereka akan kalah telak dariku. Karena Paman Herman bisa menjerat mereka dengan pasal-pasal kebohongan. Yah Kamu tahu kan, Paman Herman memiliki ide yang sangat licik sekali. Gilang tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk ke depannya nanti.”


“Terserah kamu. Aku nggak mau kamu datang ke kantornya Gilang. Kamu boleh saja datang ke kantorku kapan saja. Tapi ingat kamu Jangan pernah mendekati kedua orang tuanya Gilang ataupun Gilang sendiri,” pinta Budiman.


“Kenapa sih kamu kok melarangku ke sana? Apakah kamu takut jika aku pergi ke sana? Lalu mereka membunuhku gitu ya?” tanya Adinda.


“Ya nggak gitu kali. Mereka kan bisa saja berkilah ketika bersilat lidah dengan,” jawab Budiman.


Seketika Adinda tertawa terbahak-bahak mendengar ketakutan Budiman. Ia langsung menutup wajahnya dengan bantal sambil tertawa sangat keras sekali. Lalu Budiman hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Ternyata sang istri tidak menghiraukan nasehatnya itu. Hingga akhirnya Budiman menggelitik tubuh Adinda agar berhenti. Bukannya berhenti, Adinda malah tertawa terbahak-bahak. Entah setan apa yang menggerogoti tubuh Adinda untuk saat ini.


Tidak lama Adinda memegang tangan kekar Budiman. Wajah ayunya menatap Budiman sambil berkata, “Aku sudah memiliki kelemahan Gilang Untuk saat ini.”


“Kamu tahu gedung yang dipakai oleh Gilang itu adalah gedung milik papaku. Beberapa tahun lalu Gilang sendiri menyewa gedung itu hingga detik ini. Sampai sekarang gedung itu tidak pernah dibayar oleh Gilang. Yah bisa dikatakan, Gilang bisa terusir dari gedung itu bersama karyawannya yang sering menatap orang dengan sini,” jawab Adinda yang baru mengetahui sebuah fakta yang dikirimkan oleh Herman tadi.


“Terus Kamu mau ngapain?” tanya Budiman.


“Ternyata gedung itu adalah milikku sendiri. Ayah sudah memberikan gedung itu ketika usiaku dua puluh tahun. Katanya Paman Herman gedung itu adalah kado ulang tahunku. Tapi ayah tidak pernah memberitahukanku. Ayah memang sangat misterius sekali ketika memberikan kado untuk anak-anaknya,” jawab Adinda yang membuat mata Budiman berbinar.


“Jangan-jangan kamu ingin menghancurkan gedung itu ya?” tanya Budiman yang membaca isi pikiran Adinda.


“Sepertinya asik juga itu menghancurkan gedung tanpa bilang ke Gilang secara langsung,” jawab Adinda yang membayangkan gedung itu hancur di matanya sendiri.


“Asik sih asik. Tapi kamu harus pikirkan banyak orang yang berada di sana,” kesal Budiman sambil menatap Adinda dan tersenyum lucu.


“Atau juga aku lelang. Lalu aku harus mencari alasan agar orang-orang yang ingin membeli gedung itu percaya denganku. Apa aku harus bilang kalau diriku ini sedang jatuh miskin ya biar mereka membelinya dengan harga fantastis?” tanya Adinda.


“Terserah kamu deh. Aku hanya menuruti kamu saja. Aku juga tidak akan ikut campur masalah ini. Karena masalah ini itu sangat berat sekali,” jelas Budiman. “Sudah malam. Sebaiknya kita tidur dan berangkat pagi Dari sini menuju Jakarta.”


“Baiklah. Aku juga sangat lelah menghadapi hari ini. Bertemu kedua orang tuanya Gilang sama aja bertemu dengan banyak monster yang menghabiskan tenagaku ini,” sahut Adinda.


“Selamat malam sayang,” ucap Budiman sambil memberikan salam kepada Adinda dan mencium kening sang istri.


“Selamat malam juga,” balas Adinda.