Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 195



"Kamu akan menjadi seorang distributor. Bukannya kita dulu bersekolah di sekolah jurusan Ekonomi? Kita berdua mengambil jurusan pemasaran. Lalu Irwan mengambil jurusan IT. Sedangkan Paman Herman mengambil jurusan akuntansi. Bukankah itu tidak buruk sama sekali?" tanya Faris.


"Ide yang sangat bagus sekali," puji Herman.


"Tapi kenapa ujung-ujungnya Herman bisa menjadi seorang pengacara?" tanya Irwan.


"Kamu belum tahu ya? Ketika aku berada di Harvard. Aku sengaja mengambil dua fakultas sekaligus. Yang dimana kedua fakultas itu adalah fakultas favorit aku. Fakultas hukum dan bisnis dan managemen. jika aku enggak diterima sebagai pengacara di tempat Kak Husein, berarti aku bisa masuk ke dalam perusahaan milik keluarga. Aku dulu menganggur lama hingga tidak memiliki pekerjaan. Lalu Adinda mengajakku bekerja sebagai wakil CEO. Untung saja saat mempelajari semuanya langsung masuk ke dalam perusahaan tersebut," jelas Herman yang masuk ke dalam perusahaan tersebut.


Mereka paham yang dijelaskan kepada Herman. Setelah melihat-lihat banyaknya pesawat mendarat maupun lepas landas, mereka langsung menuju ke hotel. Perjalanan kali ini sungguh sangat menyenangkan. Mereka bisa menikmati suasana yang indah di Kota Singapura.


"Apakah kita tidak menunggu kedatangan ibu dan ayah?" tanya Irwan.


"Kenapa kita harus menunggu mereka? Mereka akan memiliki jadwal sendiri. Mereka sengaja memisahkan diri agar bisa berduaan di dalam pesawat hingga menuju ke hotel. Padahal pesawatku itu sangat besar sekali," jawab Faris.


"Apakah mereka sedang jatuh cinta seperti Adinda dan Budiman?" tanya Irwan yang sedari dulu jomblo dan tidak pernah memiliki seorang kekasih.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah hal itu sangat lumrah bagi pasangan suami istri yang sudah lama menikah? Sama lain karena sudah terikat dalam ikatan Cinta yang suci. Kita bisa berharap ingin memiliki pasangan seperti mereka. Menjalani pernikahan yang sehat tanpa harus ada yang bertengkar. Aku sendiri sangat salib kepada kedua kakakku itu. Sekarang banyak tentang kasus perceraian. Di meja Kak Husein banyak sekali berkas-berkas perceraian. Aku sendiri menolak untuk menangani kasus tersebut. Karena pusing," jelas Herman.


Sebelum melanjutkan pembicaraan, mereka akhirnya memutuskan memanggil taksi yang sedang berjaga. Taksi itu datang menghampirinya dan mereka masuk ke dalam. Seperti biasa Herman memberikan alamat yang akan ditujunya itu. Sang sopir dan langsung melesat ke arah tempat yang dituju.


Adinda, Budiman, Andara dan juga Tio sudah memasuki pusat perbelanjaan. Mereka sangat kagum atas interior yang berada di sana. Kecuali Budiman dan juga Tio. Kedua pria itu senyum-senyum tak henti-hentinya melihat pasangannya sedang kagum. Kemudian mereka mendekatinya dan menggenggam tangan pasangan masing-masing.


"Apakah kamu tahu kalau ini pusat perbelanjaan milik Mr Budiman suaminya Adinda?" tanya Budiman yang sengaja berbisik agar semua orang tidak ingin mengetahui keberadaannya.


"Kalau kamu nggak percaya ya sudah. Aku memang membangun pusat perbelanjaan ini hanya gabut saja," bisik Budiman.


"A-A-A-Apakah itu benar?" tanya Adinda yang tergagap dengan ucapannya.


"Iya itu bener. Aku memang ganggu saat membangun pusat perbelanjaan ini," jawab Budiman.


"Ini mah bukan gabut. Ini mah sengaja. Lagian kamu itu ada-ada saja. Mana mungkin orang gabut bisa menghasilkan pusat perbelanjaan ini? Kamu ini ada-ada saja," ucap Adinda dengan wajah datarnya.


Kemudian Budiman tidak sengaja melihat Tio sedang memilih baju santai khusus pria bersama Andara. Setelah namanya terpanggil, Tio menoleh dan menatap Budiman.


"Ada apa?" tanya Tio.


"Coba jelaskan sejarah berdirinya pusat perbelanjaan ini!" titah Budiman.


"Kenapa harus menceritakan sejarah berdirinya pusat perbelanjaan ini?" tanya Tio yang bingung dengan apa yang telah terjadi.


"Karena istriku tidak percaya dengan sejarah berdirinya pusat perbelanjaan ini," jawab


"Oh... pusat perbelanjaan ini sengaja didirikan oleh Budiman bertepatan dengan kegabutannya. Kalau enggak salah ketika kuliah. Dia mulai merancang satu persatu dan menggambarnya secara detail. Setelah itu dia menyodorkan makalah ke Kakek Jeremy. Alhasil mereka disetujui dan terbangunnya pusat perbelanjaan ini," ucap Tio.


"Apakah itu benar?" tanya Andara dan Adinda yang belum percaya sama sekali.