Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 40



"Itu benar. Masa kamu nggak ingat sih kalau apartemenku sama apartemennya Gilang saling berhadapan?" Jawab Adinda yang mengingatkan Andara pada apartemennya.


Mata Budiman langsung membelalak sempurna. Budiman tidak menyangka kalau Adinda sendiri memiliki apartemen berhadapan dengan Gilang. Apakah Budiman percaya? Budiman bingung dengan keadaannya sekarang. Jadi bisa dikatakan hampir setiap hari hilang dan Adinda bertemu. Atau juga Adinda bertemu dengan Kanaya setiap hari?


"Jika apartemenmu berhadapan dengan Gilang, berarti kamu setiap hari bertemu Kanaya?" tanya Budiman.


"Mau bertemu bagaimana? Aku sendiri sangat sibuk sekali bekerja. Asistenku lah yang sering bertemu dengan Kanaya bermabukan bersama Gilang. Jika kamu tidak percaya temui aku di kantor besok pagi. Aku lelah ingin tidur malam ini," jawab Adinda yang berdiri meninggalkan Budiman dan Andara.


Budiman menarik Adinda sambil mengajaknya keluar dari rumah. Saat sampai di luar rumah, Budiman memaksa Adinda untuk masuk ke dalam mobil. Dengan kesalnya Adinda menyilangkan kaki kanannya ke kaki kiri Budiman. Tanpa basa-basi, Adinda menarik baju Budiman lalu membantingnya.


"Aku sudah bilang sama kamu. Kalau aku lelah hari ini," kesal Adinda.


"Besok kamu nggak usah masuk kerja. Lebih baik kamu hari ini membuktikan dengan ucapanmu itu!" tegas Budiman yang memaksa Adinda.


"Kalau aku nggak mau gimana?" tanya Adinda.


"Kamu harus mau. Jika perkataanmu benar, maka aku akan kembali kepadamu," jawab Budiman dengan asal.


"Cih, seenaknya saja kamu bilang kembali kepadaku!" geram Adinda lalu meninggalkan Budiman masuk ke dalam rumah.


Budiman segera bangun dari aspal jalanan. Ia mengejar Adinda agar tidak masuk ke dalam. Dengan cepat Budiman memeluk Adinda dari belakang. Sembari memeluk Adinda, Budiman berbisik, "Kalau kamu tidak bisa membuktikan ucapanmu. Mau tidak mau kamu harus mendekam dalam penjara. Kamu bisa mencemarkan nama baik Kanaya. Juga kamu membuktikan siapa Kanaya sebenarnya, maka aku akan kembali kepadamu."


"Jadi cowok kok gitu banget. Giliran diselingkuhin balik lagi ke istrinya gitu ya," kesal Adinda yang menginjak kaki Budiman agar segera menjauh.


Augh!


Dengan cepat Budiman memegang kakinya.Budiman tidak menyangka kalau Adinda sangat galak sekali. Jujur baru kali ini dirinya berkenalan dengan gadis yang sangat barbar sekali. Ia bingung harus berbuat apa lagi.


"Kamu itu! Jadi cewek jangan galak napa. Kamu tahu nggak kakiku sakit," kesal Budiman.


"Biarin. Cowok sepertimu harus dibuang ke jurang. Seenaknya saja kamu menjadikanku sebagai pelarian semata setelah diselingkuhi oleh pacarmu itu," ejek Adinda.


Bener apa yang dikatakan oleh Adinda. Adinda sebenarnya tidak mau dijadikan pelampiasan. Hingga kini Adinda tidak mengerti kisah cintanya ini. Ketimbang pusing Adinda langsung mengajak Budiman pergi ke apartemennya.


Di dalam perjalanan menuju apartemen, Adinda sengaja membuang wajahnya ke luar jendela. Iya sangat malas sekali menghadapi Budiman. Ingin rasanya Adinda menghajarnya berkali-kali. Namun Adinda menahan hasratnya itu untuk tidak menghajar Budiman.


"Bisa nggak kamu nurunin aku di sini? Kamu tahu nggak aku sedang lelah hari ini," tanya Adinda.


"I don't care. Jika kamu serius ingin membuktikan perkataanmu. Setelah kamu membuktikan kalimatmu yang tadi. Maka kamu bisa istirahat," jawab Budiman yang berkonsentrasi membawa mobil.


"Mulai lagi deh ini orang. Ini siapa sih yang jadi bosnya? Kesel banget ketemu sama orang kayak gini," ucap Adinda dalam hati.


Entah kenapa Budiman merasakan Adinda sedang mengumpatinya. Iya menghentikan mobilnya sambil menatap wajah Adinda.


"Jangan pernah kamu mengumpatiku. Percuma Jika kamu melakukannya. Karena aku adalah kepala keluargamu," ucap Budiman.


"Kamu baru sadar ya jika selama ini dirimu sudah menikah? Ternyata oh ternyata kamu adalah pria bermuka dua juga ya sama seperti Kanaya," ejek Adinda.


"Ancamanmu tidak berguna sama sekali buat aku. Lebih baik jalan lagi saja. Aku malas berdebat denganmu!" perintah Adinda.


Akhirnya tangan kekar Budiman memegang kepala Adinda sambil mengelus-ngelusnya, "Good girl. Nah begitu. Nggak boleh membantah apa ucapan suami."


"Pede banget sih lo," ucap Adinda sambil memutar bola matanya dengan malas.


Budiman akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju ke apartemen Adinda. Entah kenapa Budiman sangat penasaran sekali dengan keberadaan Kanaya. Jika Budiman tahu, bagaimana perasaannya?


Sesampainya di area parkir, Budiman dan Adinda saling bertatapan. Entah kenapa jantung Budiman merasakan ritme yang tidak menentu. Bahkan detak jantungnya terdengar jelas ke telinga Adinda.


Saat mendengar ritme jantung Budiman, Adinda langsung membuang wajahnya. Wanita berparas cantik itu memutuskan untuk keluar dari mobil.Budiman hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu.


Beberapa saat kemudian Budiman juga ikut turun. Entah kenapa matanya tertuju pada mobil berjenis minibus berwarna merah metalik. Tiba-tiba saja jantung Budiman berdetak lebih kencang lagi. Ia lebih memilih diam dan mencerna apa yang telah terjadi untuk saat ini.


Tidak sengaja Adinda melihat Budiman yang sedang terdiam. Ia akhirnya mendekati Budiman sambil menepuk bahunya. Kemudian Adinda bertanya, "Ada apa?"


"Ternyata benar apa yang kamu katakan? Itu adalah mobil Kanaya," jawab Budiman sambil menunjuk mobil Kanaya.


'"Apakah kamu yakin itu mobilnya?" tanya Adinda sekali lagi.


"Ya itu benar. Itu mobil aku yang membelikannya. Mobil itu hadiah ulang tahunnya sebelum pergi ke London," jawab Budiman yang tubuhnya mulai bergetar.


"Apakah kamu sanggup untuk memergokinya di dalam apartemen milik Gilang?" tanya Adinda yang menyandarkan tubuhnya di mobil Budiman.


"Aku harus melakukannya," jawab Budiman. "Bawa aku ke apartemennya Gilang!"


"Terserah," balas Adinda.


Adinda segera mendekati Budiman lalu mengajaknya ke lobi. Tidak sengaja Adinda menangkap kemesraan Gilang dan Kanaya. Dengan cepat Adinda menarik tangan Budiman agar segera menjauh. Mereka memperhatikan gerak-gerik Kanaya.


Semula wajah Budiman yang dingin berubah menjadi api membara. Tangannya mengepal dan langsung mengejar mereka. Terpaksa Adinda berlari dengan cepat. Hingga Adinda menarik baju Budiman dan berkata, "Bukan seperti itu. Kita ikutin saja dia mau ke mana."


"Tapi Din. Dia telah berkhianat kepadaku," kesel Budiman.


"Itu belum seberapa. Baru kali ini saja kamu memergokinya. Aku sudah sering malah berkali-kali," ucap Adinda dengan jujur.


Tanpa banyak bicara Adinda segera mengajak Budiman pergi. Adinda menyuruh Budiman untuk mengikutinya. Benar saja ketika di area parkir, Kanaya dan Gilang sudah menghilang. Dan mata Budiman pun masih mencari keberadaan mobil Kanaya.


"Kamu nyari mobilnya Kanaya?" Tanya Adinda.


"Iyalah. Dia harus berkata jujur untuk kali ini," jawab Budiman yang menjambak rambutnya itu karena frustasi.


"Percuma. Kamu minta dia jujur? Jangan mimpi. Sejak awal sudah kubilang. Kalau kekasihmu itu adalah seorang wanita bermuka dua. Di depanmu dia mengumbar kata-kata cinta. Di dalam hatinya, dia memaki-makimu. Kanaya memanfaatkanmu dan mengambil uangmu saja. Tapi kamu sangat bodoh dan tidak mengetahuinya. Ditambah kamu selalu membelanya di depan keluargamu. Bahkan adikmu sendiri pernah diancam dibunuh oleh Kanaya," jelas Adinda yang membuat Budiman terkejut.


"Apakah itu benar?" Tanya Budiman.