
"Sepertinya kamu bahagia jika perusahaan ini akan digabungkan oleh perusahaannya Adinda."
Ledek Tio yang membuat Budiman tertawa.
"Ini adalah sebuah terobosan. Istriku tidak usah jauh-jauh membeli kaleng ke Banyumas. Dan kita juga tidak akan kehilangan ongkos sedikitpun. Karena perusahaan dijadikan satu akan sangat menguntungkan bagi kita berdua."
Ucap Budiman dengan serius.
"Kalau begitu syukurlah... Kamu sudah sembuh total dari Kanaya. Kamu harus menyelesaikan semua masalah di sini sebelum meninggalkan Indonesia."
Jelas Tio yang membalikkan badannya lalu pergi meninggalkan Budiman.
Tio adalah seorang asisten yang merangkap sebagai sahabatnya itu. Tio mengerti apa yang dirasakan oleh Budiman. Ia merasakan kalau Budiman sekarang menjadi baik dan banyak tersenyum. Oleh karena itu Tio berani membuatnya bercanda habis-habisan.
"Apakah aku harus menyelesaikan semuanya? Pekerjaan ini adalah pekerjaan yang paling menyulitkanku. Di mana-mana pekerjaan ini bisa membuat Aku muak."
Kesal Budiman dalam hati.
Ketika berdiri Budiman melihat ponselnya. Lalu ia mencari nomor telepon milik Adinda. Namun sungguh sial, dirinya tidak menemukannya sama sekali. Apakah ia terlalu bodoh untuk saat ini? Bisa jadi. Seharusnya sebelum bekerja, Budiman meminta nomor teleponnya terlebih dahulu. Agar dirinya mudah bisa menghubungi Adinda ketika beristirahat. Namun semuanya nihil. Budiman tidak memilikinya sama sekali. Bagaimana caranya ia ingin menghubungi istrinya itu?
"Argh... Sial sekali diriku ini. Kenapa aku tidak memiliki nomor telepon istriku sendiri. Suami macam apa aku ini!"
Budiman menggerutu di dalam hati. Ia sungguh sangat kesal dan meraih jasnya lalu pergi untuk beristirahat.
Namun sebelum pergi, Budiman sengaja mencari keberadaan Tio. Ia masuk ke dalam ruangannya sambil melihat Tio yang sedang sibuk.
"Lu nggak makan?"
Tanya Budiman.
"Nanti. Masih banyak pekerjaan."
Jawab Tio yang membuat Budiman menggelengkan kepalanya.
"Ayo makan! Biar gue yang bayar!"
Perintah Budiman yang membuat Tio terkejut.
"Ada setan apa hari ini di dalam tubuhmu? Tiba-tiba saja kamu ingin sekali mentraktirku?"
Tanya Tio yang menaruh pulpennya itu.
"Janganlah kamu berburuk sangka terlebih dahulu. Lebih baik hentikan semua pekerjaanmu. Kalau kamu sudah selesai makan maka kerjakanlah. Jika kamu sakit aku yang bingung. Soalnya belum ada seorang asisten yang bisa merangkap semuanya."
"Serah apa kata lu."
Sahut Tio yang malas sekali untuk makan siang.
"Lu kenapa sih kok sensi banget sama gue?"
"Gue nggak sensi. Pekerjaan gue banyak banget. Gue sekarang ini lagi dikejar deadline. Makanya gua harus cepet-cepet membereskan semua dokumen ini terus diberikan ke Pak Kartolo."
"Dokumen apa? Apakah dokumen penyatuan antara perusahaan Adinda dan punyaku?"
Tanya Budiman.
"Itu benar. Makanya gue dikasih waktu cuman seminggu doang. Kalau waktunya cepet maka semuanya tidak akan terlambat sama sekali. Dan ini hanya untuk sementara waktu."
"Lalu bagaimana dengan Andara? Andara ingin sekali pergi ke New York bersama Adinda?"
"Ya sudah kalau begitu. Jadi Andara saat ini akan mengalah terlebih dahulu."
"Ya jelaslah."
Kemudian Tio memutuskan untuk berhenti sejenak. Setelah itu Tio beranjak berdiri lalu mendekati Budiman. Mereka akhirnya memutuskan untuk makan siang di tempat biasa. Sebelum berangkat, Budiman meminta nomor telepon Adinda. Namun Tio sengaja tidak memberikannya. Karena Tio ingin Budiman bekerja keras untuk mendapatkannya sendiri.
Di rumah sakit, Adinda bersama ibu Kamila dan Ibu Tia. Mereka berdua kompak sekali merawat Adinda. Mereka tentang masa lalunya. Ternyata tak disangka Ibu Kamila dan Ibu Tia adalah teman satu kelas.
Yang lebih lucunya lagi mereka tidak pernah akur di kelas. Mereka selalu sindir menyindir di dalam kelas. Namun saat ini mereka sangat akur dan saling merawat Adinda.
"Aku tidak menyangka kalau rivalku adalah besanku sendiri."
Ucap Tia sambil mengingat masa lalunya.
"Apakah itu benar Bu?"
Tanya Adinda yang memiliki tanda tanya.
"Tapi sekarang tidak. Semenjak ada kasusnya Budiman. Kami mulai bersatu. Dulu sewaktu kamu kerja, Mama sering ke rumahmu. Mama juga sering mencurahkan isi Hati karena ulah Budiman. Untungnya ibumu ini menerima Mama apa adanya. Sekarang kami mulai bersahabat dan menjadi besan yang baik."
Jawab Kamila dengan penuh semangat.
Adinda tidak mengira kalau semua ini adalah kebetulan. Mungkinkah ini adalah jalan takdir hidupnya. Ia sendiri ingin keluarganya aman dan damai. Lalu ia tidak lupa memikirkan keadaan Budiman dan juga keluarganya.
"Bagaimana kabarnya Budiman? Apakah kamu diculik dan disiksa?"
Tanya Kamila yang ketakutan.
"Iya kamu bagaimana ceritanya Kok bisa sama Budiman. Jujur saja Ibu sangat kaget sekali ketika kamu malam-malam pergi bersama Budiman. Ceritakanlah semuanya pada kami."
Sahut Tia yang benar-benar khawatir pada malam itu.
"Iya Din. Kalau dia sudah melayangkan tangannya. Kamu bisa memintanya berpisah. Lagian juga mama nggak suka kalau memiliki seorang putra turun tangan untuk memukul seorang wanita."
Kesal Kamila terhadap Budiman.
Terpaksa Adinda menceritakan kronologinya pada malam itu. Adinda menceritakan secara gamblang agar paham. Ia juga mengaku disekap oleh Budiman. Namun dirinya tidak pernah dipukuli sama sekali.
Selesai menceritakan semuanya, kedua wanita paruh baya itu pun paham. Mereka saling memandang dan tersenyum. Sepertinya Budiman jatuh cinta dengan kilat. Namun mereka belum tahu kalau Budiman masih mengenal Adinda lebih dalam lagi.
"Syukurlah kalau begitu. Kamu tidak diapa-apain. Mama sangat khawatir sama kamu. Ketika kamu dibawa pergi sama Budiman. Kalau nggak salah Andara menghubungi Mama jam satu pagi. Mama sangat khawatir sekali. Mama khawatir karena takut kamu disakiti oleh Budiman. Soalnya mama tidak pernah mengajarkan Budiman untuk memukul seorang wanita."
Jelas Kamila.
"Semuanya sudah berakhir Bu.. ma... Doakan saja kami baik-baik. Karena Kak Budiman ingin sekali menjalin kisah ini bersamaku. Izinkanlah juga Kak Budiman pergi ke New York bersamaku. Di sana Aku akan menyuruh Budiman untuk melupakan semuanya. Lalu fokus pada aku dan kuliahnya. Jujur saja kita semuanya ingin melihat Kak Budiman berubah. Maka berikanlah kesempatan untuk Kak Budiman. Siapa tahu di sana Aku bisa membimbingnya menjadi orang baik. Aku harap rencanaku ini akan segera terwujud."
"Apakah kamu tidak ingin memiliki seorang bayi dari Budiman?"
Tanya Kamila yang mengharapkan ingin memiliki seorang cucu.
"Tenanglah ma. Aku pun tidak akan menolaknya jika diberikan oleh sang pencipta seorang anak bahkan lebih. Aku ini adalah seorang pecinta anak-anak. Untuk saat ini Mama dan ibu harus bersabar."
Ucap Adinda dengan senyum tulusnya itu.
"Apakah kamu serius?"
Tanya Kamila sekali lagi.