
"Kamu jadi berangkat kerja apa tidak?' tanya Adinda mengajak Budiman ke atas.
"Ya jadilah. Aku ingin mencetak uang buat kamu. Karena hidupmu sekarang berada di tanganku," jelas Budiman. "Kita bercinta tipis-tipis yuk."
"Kak Tio sudah berada disini semenjak tadi pagi," tolak Adinda.
"Terus ngapain disini? Apakah aku harus mengusirnya?" tanya Budiman.
"Jangan," jawab Adinda dengan cepat.
"Ya sudah kita bercinta tipis-tipis saja. Lagian Tio jam segini masih tidur," ucap Budiman yang membuat Adinda percaya.
"Hmmp... baiklah," sahut Adinda.
Sebenarnya Adinda menolak keinginan Budiman. Akan tetapi Budiman terus saja memaksa. Adinda sadar kalau dirinya sekarang sudah resmi menjadi istri Budiman. Maka dari itu ia wajib untuk melayani Budiman dengan sepenuh hati.
Sementara itu Tio berada di markas sangat kesal terhadap Budiman. Ia berkali-kali melihat jam. Berharap jam itu berputar sangat lambat sekali.
Pada pagi ini, Njawe Group sedang kedatangan tamu dari Helsinki. Hari ini Njawe Group mendapatkan suntikan dana untuk membangun pabrik disana.
Tio tahu kalau sang investor ini orangnya sangat perfeksionis sekali. Ia harus bertemu dengan kliennya dengan tepat waktu. terlambat satu detik saja, ia akan pergi dari sana. Ia juga tidak memperdulikan tender besar kalau sudah yang namanya terlambat. Itulah prinsip hidup orang Finlandia.
"Lu kenapa?' tanya Herman yang ABRI saja masuk ke dalam.
"Gawat bro. Pagi ini akan ada meeting bersama klien berasal dari Helsinki," jawab Tio.
"Jam berapa?" tanya Herman dengan serius.
"Jam delapan pagi," jawab Tio yang mulai stres.
"Sekarang sudah jam setengah tujuh," ucap Herman.
"Memang sudah jam setengah tujuh. Lu tahukan orang Finlandia karya apa? Mereka tidak ingin telat sedikitpun. Telat sedetik langsung ditinggal. Bagi gue ini hal yang langka. Njawe Group kapan lagi bekerja sama bareng dengan orang Helsinki," ujar Tio.
"Papa kemana?" tanya Herman.
"Papa berada di Hongkong. Papa lagi meninjau hotel milik almarhumah nenek. Nda, lagi di Kalimantan. Pagi tadi berangkat," jawab Tio. "Jadi gue disini sendirian."
"Udah mah nggak lu saja sih yang menemui orang itu?" tanya Herman yang mengambil sesuatu di laci.
"Gue sih bisa menyambut kedatangannya. Terus gue bisa meeting bersamanya. Yang jadi pertanyaannya, siapa yang mau tanda tangan berkas-berkas itu? Sedangkan yang dibutuhkan untuk tanda tangan adalah Budiman atau enggak Pak Kartolo," jelas Tio.
"Gimana kalau diganti saja? Ayah Malik atau aku atau juga Faris? Soalnya ini sangat penting sekali. Aku tahu orang Helsinki kalau kerjanya sangat jujur sekali. Ditambah lagi kontribusinya sangat besar. Nanti kalau ada apa-apa biar aku yang tanggung jawab semuanya. Nggak bisa seenaknya seperti itu," sambung Herman.
"Lu jangan gerah gitu sama Budiman. Lu tahu kan kalau Budiman sekarang sudah nikah. Mereka sedang bercocok tanam di dalam kamar tuh," ucap Herman yang tidak sengaja mendengar perkataan Budiman.
"Apa?" Pekik Tio. "Terus bagaimana proyek ini? Soalnya Njawe Group ingin membangun pabrik di daerah Medan sana dan bekerja sama bareng orang Helsinki."
"Itu terserah kamu. Aku sudah memberikan opsi lain. aku akan bilang ke papa Kartolo dan menjelaskannya secara rinci. Setiap aku lakukan pasti ada tanggung jawabnya. Ini demi perusahaanmu. Demi karyawanmu yang berjibun. Kalau kamu menunggu Budiman, selesainya nanti siang," jelas Herman.
"Berarti lu udah pernah ngerasain ya soal itu?" Tanya Tio yang polos.
"Gue nggak ngerasain apapun tentang itu. Lu tau gue. Kalau gue orangnya kepo banget. soal berhubungan itu pun gue riset ke sejumlah orang. Jadi tahu mereka memiliki durasi panjang ataupun pendek. Gue akan telepon Papa. Enaknya bagaimana?" jelas Herman.
Herman meninggalkan Tio sendiri di kamar itu. Iya menunggu keputusan dari Kartolo. Soalnya Herman keluar dari ruangan itu langsung menghubungi Kartolo. Sungguh sial nasibnya hari ini. Kenapa dirinya harus menunggu orang yang sedang bercinta? Ia ingat kalau Budiman adalah pecandu ****. Jadi mau tidak mau Tio mengurungkan niatnya untuk sementara waktu.
Setelah selesai menghubungi Kartolo, Herman langsung menuju ke ruangan kerja Malik. Ia di sana menceritakan tentang perusahaan Budiman akan melakukan kerjasama. Tapi Herman juga bilang kalau Budiman tidak dapat bisa diganggu. Mau tidak mau Malik akan turun tangan untuk membereskan kekacauan ini. Untung saja Malik tidak ada kelas mengajar pagi. Jadi dirinya bisa menolong perusahaan tersebut.
"Ya sudah kalau gitu. Aku akan ke rusaknya Budiman terlebih dahulu. Habis gini aku pergi ke kampus. Untung perusahaan itu bisa diselamatkan. Tender besar menantinya. Kalau nggak habislah," jelas Malik.
"Aku yang akan bertanggung jawab semuanya," ucap Herman.
"Nggak usah tanggung jawab apapun. Bukankah Kartolo tadi sudah memberikan isyarat untuk membantunya. Lalu kenapa kamu sepertinya sangat ketakutan sekali?" tanya Malik dengan serius.
"Maksudku bukan begitu kak. Ini adalah masalah hukum sebenarnya. Jika Pak Kartolo ataupun Budiman bisa menuntut kita hanya karena kerjasama tersebut," jawab Herman.
"Sebelum tanda tangan beberapa poin yang harus dibaca. Nanti Kartolo akan memberikan poin-poin tersebut bagi kedua belah pihak yang saling menguntungkan. Sudah ini aku akan menghubungi Kartolo enaknya bagaimana. Nggak mungkin Kartolo melepaskan perusahaan itu ke tangan orang lain. Dia akan keberatan jika poin-poinnya itu tidak akan memenuhi syarat. Maka dari itu aku ingin kau telah mengirimkan catatannya hari ini juga," jelas Malik yang ingin membantu perusahaan Budiman.
"Okelah. Kita nggak jadi masalah soal itu. Aku pamit," pamit Herman dan meninggalkan Malik sendirian di ruangan kerjanya.
Jam 08.00 pagi seluruh keluarga Adinda sudah pergi meninggalkan rumah. Mereka menuju ke tempat kerja masing-masing. Sedangkan Budiman dan Adinda masih berada di dalam kamar.
Budiman sangat kelelahan karena sehabis bercocok tanam. Setelah itu Budiman berbaring di samping Adinda. Pagi ini Budiman merasakan apa yang belum dirasakannya. Ternyata Adinda diam-diam sangat liar sekali. Hingga membuat Budiman kewalahan.
"Kamu kok sangat pintar sekali memuaskan suamimu ini," puji Budiman.
"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah setiap perempuan harus bisa membuat sang pria nyaman di sampingnya?" Tanya Adinda yang masih berbaring Karena kelelahan.
"Aku kira kamu sangat polos sekali. Ternyata diam-diam kamu nggak polos seperti yang aku kira," jawab Budiman.
"Yang namanya orang sudah menikah harus mencari cara. Agar suaminya betah di dalam rumah. Biar bagaimanapun seorang wanita harus pintar-pintar menjaga prianya. Sebab di luar sana banyak sekali perempuan-perempuan yang sangat menginginkan pria tajir sepertimu," jelas Adinda.
"Memangnya aku langkah ya jadi orang?" tanya Budiman yang tidak tahu apa yang dimaksud oleh Adinda.