Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 85



“Nggak macam-macam sih. Memang tujuan kita itu adalah kuliah. kuliah itu gunanya untuk menambah ilmu pengetahuan dan memperdalamnya. Selain itu kita memang sengaja untuk mengambil gelar S3. Jika kita di sana, Gilang bisa melacak keberadaan kita. Gilang akan mengincarku dan membunuhku di sana. Kamu tahu kan, kalau Gilang terobsesi ingin membunuhku. Dia sudah melakukan banyak cara agar aku mati. Aku tidak mau itu. aku masih ingin hidup bersamamu dan memiliki banyak anak. Itulah kenapa aku ingin kuliah di beda tempat,” jelas Budiman.


“Apakah di Finlandia aman? Sebab negara itu masih asing di telingaku,” tanya Adinda.


“Aman. Di sana malah keamanannya melebihi segalanya. Kamu bebas bisa melakukan apapun di sana. Terus jam kuliahnya juga tidak terlalu panjang. Selesai pulang dari tempat kuliah, kamu bisa bersih-bersih rumah,” jawab Budiman. “Aku di sana akan bekerja untuk menghidupi kamu. Syukur-syukur Aku ingin menabung demi masa depan kita. Sekali-sekali Aku ingin mencoba bekerja di luar lingkungan perusahaan. Sekalian juga menambah pengalaman dan sharing bersama orang sana.”


“Kalau itu maumu nggak apa-apa. Aku akan mendukungmu dengan sepenuh hati. Jika di Amerika tidak aman. Aku menuruti apa katamu. Bukankah seorang istri harus menuruti suaminya?” tanya Adinda sambil memegang pipi Budiman.


“Aku harap kamu nggak marah. Aku ingin menghindari yang akan terjadi nanti. Gilang lebih licik dan suka menjebak korbannya dengan cara kotor. Jujur, aku sendiri sangat muak melihat Gilang seperti itu. Dari dulu Gilang tidak pernah berkata jujur dengan keluarga kami,” jelas Budiman.


“Tidak usah dipikirin. Biarkan saja Gilang terlebih dahulu. Kita kuliah di Finlandia sekalian mencari strategi untuk menyerang Gilang. Kita nggak boleh lemah di hadapannya. Kalau kita lemah sedikitpun, kita pasti diinjak olehnya,” jelas Adinda. “Lebih baik kita tidur. Nggak usah mikirin Gilang terus-terusan. Biarkan saja dia sedang menikmati masa kejayaannya. Nanti kalau kita sudah pulang... Aku akan membalas semuanya.”


Budiman hanya terdiam dan membiarkan Adinda melakukannya. Ternyata pindah kuliah adalah ide dari Budiman sendiri. Mengenai pendidikan di Amerika itu sangat bagus sekali. S1 dan S2 Budiman mengambil di Harvard university. Berhubung Gilang sudah memegang area Amerika dan bekerjasama dengan beberapa mafia, Budiman mengurungkan niatnya kuliah di sana. Hal ini bisa membuat dirinya selamat. Bahkan rumor yang didengarnya, setiap korban menginjakkan kakinya di Amerika, Gilang dengan cepat langsung melacaknya. Gilang meminta beberapa pengawalnya untuk menguntit orang tersebut. Banyak keluhan yang dirasakan oleh korbannya. Jadi mau tidak mau sang korban harus mencari cara agar bisa masuk ke Amerika dengan aman.


Pagi yang cerah di kota Jakarta. Adinda mulai terbangun dari tidurnya. Adinda menatap wajah Budiman dan mengusap kepalanya. Ia tersenyum lalu meninggalkan Budiman dan masuk ke toilet. Setelah itu Adinda pergi ke bawah dan melihat Tia bersiap untuk berbelanja.


“Ibu,” panggil Adinda sambil mendekati Tia.


“Ada apa sayang?” tanya Tia sambil menoleh ke arah Adinda.


“Ibu mau belanja ya?” tanya Adinda.


“Iya,” jawab Tia. “Kamu mau ikut?”


“Iya Bu,” jawab Adinda. “Sekalian mau mencari menu buat Pak Budiman.”


Tia tersenyum karena ulah Adinda. Bisa-bisanya Budiman dipanggil Pak oleh Adinda. Padahal wajahnya sangat baby face. Di usianya hampir kepala tiga, wajah Budiman mirip bak artis Korea. Jujur bagi Tia, ini sangat aneh sekali. Tanpa menunggu lama, Tia langsung mengajak Adinda keluar dari rumah.


Suasana pagi ini masih sepi. Dari rumah menuju ke jalan raya belum ada orang sama sekali. Kemungkinan besar para warga masih pada tidur semua. Kedua wanita beda generasi itu bergegas menuju ke tukang sayur. Meskipun mereka Sultan, mereka tidak malu ketika berbelanja di toko kecil. Hal ini menandakan kalau mereka adalah orang yang dermawan.


“Memangnya Budiman makanan favoritnya apa ya?” tanya Tia.


“Kamu itu asik banget dengan pekerjaan. Jika Mama nggak ngomel habis-habisan, kamu akan fokus terus ke sana. Terus membiarkan dirimu berkutat di depan layar PC. Setelah ini kurangi semua pekerjaanmu. Budiman mau bertanggung jawab atas hidupmu. Jangan kamu kecewakan dia. Walaupun dia memiliki masa lalu kelam. Kamu harus merangkul dan memeluknya untuk menguatkan hatinya. Jangan dendam sama orang lain. Itu nggak boleh. Kamu akan mendapatkan ridho dari sang pencipta. Asalkan kamu bisa menjadi istri yang baik buat Budiman,” pesan Tia yang dimasukkan ke dalam hati Adinda.


Adinda tersenyum manis dan menyimpan pesan itu di hati yang terdalam. Untuk saat ini Budiman memiliki hati sangat rapuh. Budiman membutuhkan seseorang bisa menguatkan hatinya. Meskipun kelihatannya tegar, Budiman sering sekali menangis di dalam hatinya. Namun ia tidak akan pernah menunjukkan ke siapapun.


“Kamu kasih gih sayuran. Biar ada gizinya. Biar Budiman agak gemukan sedikit. Nanti kalau sudah gemuk, kamu berhasil merawatnya dengan baik,” saran Tia.


“Terima kasih Bu atas sarannya. Akan aku pakai untuk memenuhi gizi untuk Pak Budiman,” ucap Adinda dengan senang hati menerima saran dari sang ibundanya sendiri.


Sesampainya di tukang sayur, Adinda dan Tia memilih menu masing-masing. Adinda sendiri sengaja ingin menunjukkan kalau dirinya bisa memasak. Selain itu juga wanita berparas cantik ingin merawat beriman segenap hatinya. Agar Budiman selalu nyaman di dalam hubungan suami istri.


Setelah selesai mereka kembali ke rumah. Malik dan Budiman menunggu kedatangan para istri. Mereka menyambut kedatangan para istri dengan bahagia. Tidak segan-segan Budiman mengambil kantong kresek itu dan merangkul Adinda.


Malik yang melihat Budiman langsung menepuk jidatnya. Pagi-pagi begini Budiman sudah nempel seperti perangko. Apakah Budiman terkena panah asmara dari Adinda? Itulah yang dirasakan saat ini.


“Kenapa itu anak ayah?” tanya Faris sambil mengejek Budiman.


“Entahlah. Kemungkinan besar Budiman terkena setan berada di kamar Adinda,” ledek Malik kepada Budiman.


“Biarkanlah aku bersama Adinda ayah. Izinkanlah aku membahagiakan Adinda seperti membahagiakan kedua orang tuaku,” rayu Budiman hingga membuat kedua pria berbeda generasi itu tertawa.


“Sejak kapan lu bucin seperti itu sama Adinda? Perasaan kalau ketemu dulu udah kaya tikus sama kucing saja. Lu kesambet setan apa sih?” tanya Faris yang sengaja mengerjai Budiman.


“Kesambet setan di ujung komplek sana,” jawab Budiman dengan asal agar Faris tidak bertanya lagi.


“Tumben aja lu udah bangun jam segini?” tanya Herman yang baru saja keluar dari kamar.


“Lu tanya siapa? Gue apa Faris?” tanya Budiman yang masih menahan Adinda agar tidak berjalan kemanapun.