Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 111



"Baru saja pulang ke rumah. Ya sudah dech... aku inign tidur hingga siang nanti," jawab Andara.


"Hmmp... baiklah. Pergilah tidur. Aku akan membangunkan kamu siang nanti," ucap Adinda yang mendapatkan anggukan dari Andara.


"Kamu enggak tidur ama aku?" tanya Andara.


"Apakah kamu mau menyulut permusuhan sama kakakmu?" tanya Adinda sambil mengerutkan keningnya.


"Biarin. Aku malah seneng kalau kamu tidur bersama aku," jawab Andara lalu segera berlari meninggalkan Adinda agar tidak kena semprot dari Adinda.


Andara akhirnya turun tangga sambil tertawa melihat Adinda. Pasalnya ia sendiri telah mengganggu kedamaian sang kakak. Ujung-ujungnya nanti uang jajannya akan dipotong sama sang kakak.


Ceklek.


Pintu terbuka.


"Apakah tadi mama?" tanya Budiman.


"Bukan," jawab Adinda. "Nda."


"Tumben Nda sudah pulang," ucap budiman. "Memangnya ada apa?"


"Kamu disuruh ke banjarmasin. Pasalnya cabang disana sedang berulang tahun," jawab Adinda.


"Oh.. iya. Aku lupa.Padahal aku sendiri yang menjanjikan akan hadir disana. Aku sudah membuat rencana acara ulang tahun disana," ucap Budiman yang hampir lupa dengan kegiatannya itu.


"Pokoknya kamu kesana," suruh Adinda yang menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk.


"Lebih baik kamu ikut dengan aku," ajak Budiman.


"Kamu ini ada-ada saja," ucap Adinda. "Kenapa aku harus ikut?"


"Karena kamu sekarang istriku. Aku inign kamu kut kemanapun pergi. Aku ingin kamu tidak menuduhku selingkuh," jawab Budiman.


"Aku tidak menuduh. Jika aku menuduh, berarti aku harus mencari bukti-bukti jejak digital. Setelah itu aku buktikan apa benar kamu selingkuh?" ucap Adinda yang membuat Budiman menganggukan kepalanya.


"Ternyata kamu bermain cantik ya. Nggak asal melabrak seseorang dengan mudah," puji Budiman yang tersenyum manis.


"Enggak semuanya harus dikerjakan dengan penuh kekerasan. kalau aku memang suka bermain cantik dengan elegan. Tapi aku memang tidak ingin berbuat kasar," jawab Adinda.


Beberapa saat kemudian telepon Adinda berbunyi. Ia segera mengambil nakas itu dan melihat nama Herman yaang tertera di layar ponselnya itu. Ia lalu mengangkatnya sambil menyapanya, "Halo."


"Pulang sekarang. Kami butuh bantuan kamu!" titah Herman dengan nda menekan.


"Baiklah," balas Adinda yang mematikan ponselnya sambil menguap dan menutup mulutnya.


"Aku disuruh pulang ke rumah. Sepertinya ada yang tidak beres," jawab Adinda yang bangun. "Aku pinjam mobilmu."


"Lebih baik aku ikut dengan kamu," ucap Adinda.


"Katanya kamu mengantuk?" tanya Adinda yang mulai berdiri dan menyisir rambutnya.


"Aku sudah enggak mengantuk," jawab Budiman.


"Ya... sudah sampai rumah aku buatkan kopi susu dan sandwich," ucap Adinda.


"Tidak perlu," jawab Budiman yang menolak Adinda.


"Kenapa?" tanya Adinda.


"Aku makan yang ada saja," jawab Budiman.


"Itu terserah kamu. Lebih baik kita berangkat sana," ajak Adinda yang menuju ke toilet. "Tapi sebelumnya aku mau mencuci muka dahulu."


"Oke," balas Budiman.


Sementara di rumah ada ketegangan antara Tia dengan Mila. Tia tidak menyangka kalau asistennya sedang berkhianat. Bagaimana bisa? Ketika jam lima pagi, Mila berani masuk ke dalam kamar utama yang ditempati oleh Tia. Untungnya saat itu, Tia sudah bangun dan selesai sholat subuh bersama Malik.


Keadaaan semakin runyam. Ketika dua set perhiasan milik Tia menghilang di brangkas. Tia tidak sengaja membuka brankas tersebut setelah Mila terpergok masuk ke dalam.


"Apakah Adinda sudah jalan?" tanya Tia.


"Sudah... kayaknya," jawab Herman.


"Beberapa hari terakhir Adinda sudah curiga dengan Mila. Dia sudah memergoki kelakuannya," ucap Malik.


"Apakah Adinda tidak mengambil perhiasan ibu?" tanya Faris.


"Apakah kamu tahu siapa adikmu itu? Adikmu itu sedari dulu tidak pernah mau memakai perhiasan apapum.Seluruh perhiasan yang dimilikinya sudah dititipkan sama ibu. Jika Adinda mau memakai pasti ngomong dulu. Kalaupun tidak ngomong, Adinda sendiri akan mengembalikannya ke brangkas itu," jelas Tia yang mengetahui sifat Adinda. "Lagian juga, tiga bulan ini Adinda tidak pernah memakai apalagi meminjam perhiasan apapun."


"Kamu jangan asal nuduh saja Ris. Adikmu tidak pernah merubah sifatnya yang sederhana menjadi bermewah-mewahan. Adikmu itu dari lahir sudah memiliki jiwa kesederhanaan hidup," jelas Malik.


"Aku tidak menuduh Adinda.Siapa tahu Adinda memakai atau meminjam perhiasan itu," ucap Faris.


"Lebih baik kita selidiki saja dari awal," saran Herman. "Seluruh CCTV yang berada di sini adalah kendali dari Adinda. Jika Adinda kembali aku akan memintanya untuk membuka portalnya. Aku tahu kalau CCTV di kamar kakak yang memegang adalah Adinda."


"Kamu benar," sahut Malik. "Aku memang sengaja untuk menyerahkan semuanya ke Adinda."


"Apakah itu benar?" tanya Faris yang membuatnya terkejut.