Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 41



"Itu benar. Ya sudah kalau begitu. Kamu nggak usah nganterin aku pulang. Aku ingin tidur di apartemenku saja," jawab Adinda.


Seakan tidak rela Adinda pergi, Budiman dengan cepat menarik tubuh mungil Adinda. Budiman menggendong tubuh Adinda seperti karung beras. Ia memasukkan tubuh Adinda di dalam mobil lalu menutup pintunya. Setelah itu Budiman masuk ke dalam mobil dan menyalakan mobilnya.


Adinda yang sudah mulai mengantuk tidak protes sama sekali. Ia lebih memilih tidur tanpa harus berceloteh panjang lebar. Namun dirinya sadar ketika peringatan sang Ibu terngiang di telinganya. Namun apa daya, dirinya dikalahin oleh rasa kantuk berat. Mau tidak mau Adinda memutuskan untuk tidur.


Dengan jahilnya tangan Budiman mencari keberadaan ponsel milik Adinda. Ia mulai memasukkan tangannya ke dalam kantong celana milik Adinda. Benar saja Adinda membawa ponsel saat itu. Dengan cepat Budiman mematikan ponsel itu dan menaruhnya di dashboard mobil.


Budiman segera menancapkan gasnya lalu menuju ke apartemen pribadinya. Ia tidak peduli lagi rasa sakit yang diciptakan oleh Kanaya. Diam-diam hati Budiman tersayat oleh pisau yang sangat tajam. Lalu Budiman menghentikan mobilnya sementara dan menghubungi Tio.


Tio yang baru saja sampai di rumah utama mendengar ponselnya berdirinya. Ia melihat nama yang tertera di layar ponselnya itu. Tak disangka nama Budiman yang menghiasi layar ponselnya itu.


"Tumben saja Budiman menghubungiku. Ada apa ini?" gumam Tio sambil menghempaskan bokongnya di tepi ranjang.


Tio langsung mengangkat ponsel itu dan menyapa Budiman. Tanpa basa-basi Budiman meminta beberapa orang untuk mengikuti Kanaya. Budiman memberikan waktu selama seminggu saat memata-matai Kanaya. Ia ingin laporan itu masuk ke dalam meja kerjanya minggu depan. Tio pun menyanggupi permintaan Budiman. Hingga akhirnya Budiman memutuskan sambungan telepon itu dan bernafas lega.


Setelah menghubungi Tio, Budiman melanjutkan perjalanannya menuju ke apartemennya itu. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Kanaya. Memang sakit jika hati sudah dikhianati. Apalagi ia mendapatkan informasi yang sangat mengejutkan sekali. Mau tidak mau Budiman harus menyelidikinya. Jika benar apa yang dikatakan oleh Adinda, Budiman akan merasa malu. Jika salah maka Budiman akan berada di samping Kanaya.


Sesampainya di apartemen pribadinya, Budiman menggendong Adinda untuk sampai ke tempatnya. Saat dirinya digendong, Adinda memilih tidak bergerak sama sekali. Ia membiarkan Budiman menggendongnya.


Ketika membuka pintu apartemen, Budiman membawanya ke kamar utama. Ia memberikan tubuh gadis itu dengan pelan-pelan agar tidak terbangun. Selesai membaringkan Budiman memutuskan untuk pergi ke dapur. Di sana Budiman memilih untuk mengambil bir dan gelas.


Malam ini adalah malam yang sangat menyesakkan buat Budiman. Ketika perjalanan menuju apartemen, Budiman mendapatkan pesan dari Kanaya. Iya membaca pesan itu dan menjadi geram. Pesan yang dibacanya itu ternyata dari Adinda. Yang di mana isinya itu adalah ancaman.


Budiman memutuskan pergi ke rumah Adinda. Ia ingin melabrak Adinda saat itu juga. Namun Adinda malah memberitahukan fakta sesungguhnya. Kalau Kanaya adalah wanita bermuka dua. Tanpa banyak bicara Budiman memintanya untuk mencari keberadaan Kanaya di apartemen Gilang. Benar saja perasaan Budiman saat itu campur aduk. Mobil merah yang ia kenal itu adalah hadiah ulang tahun Kanaya. Siapa sih yang tidak tahu rasanya sakit hati? Apalagi sakit hatinya itu disebabkan oleh penghianatan yang besar.


Apakah Budiman tahu kalau keluarganya itu ada konflik dengan Gilang? Budiman tahu itu. Tapi dirinya tidak tahu kalau Gilang menikahi Kanaya. Saat meminum bir, Budiman sepertinya mencium ada hal yang aneh. Iya merasakan kalau Gilang sedang merencanakan sesuatu bersama Kanaya. Inilah yang jadi pertanyaan di dalam benaknya untuk saat ini.


Sepanjang malam Budiman telah menghabiskan empat botol bir. Ia sudah tidak lagi memperdulikan kesehatannya itu. Ia sangat sangat kecewa sekali dengan tindakan Kanaya. Namun Budiman sadar kalau dirinya sudah menikah. Gadis yang sedang tidur di kamar utama adalah istri sahnya. Ia pernah meminta menceraikannya. Namun dirinya sekarang lebih menyesal lagi.


Menjelang subuh, Adinda terbangun dari tidurnya. Matanya mulai membuka dan menatap kamar utama Budiman. iya mengerutkan keningnya sambil bertanya-tanya, dimanakah dirinya sekarang?


Adinda memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Ia menatap apartemen itu dengan penuh tanda tanya. Lalu pertanyaan demi pertanyaan muncul di dalam otaknya. Apa iya dirinya diculik oleh seseorang?


Seketika Adinda sadar dan melihat foto-foto Budiman berada di dinding. Adinda melihatnya sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar. Jujur sedari dulu ia memang mengagumi ketampanan Budiman. Hingga saat ini dirinya masih mengaguminya.


"Ngapain coba Orang ini mabuk kayak gini? Kan sudah ketahuan selingkuh ngapain nyakitin dirinya? Memang aneh ini orang. Apakah kau harus melemparkannya ke daerah konflik sana? Biar dia merasakan rasanya mental digembleng habis-habisan," kesal Adinda dalam hati.


Meskipun hatinya kesal, namun Adinda sendiri langsung memegang kening Budiman. Adinda merasakan kalau tubuh Budiman sangat lemah. Entah kenapa matanya tertuju ke empat botol minuman yang kosong. Seketika matanya membulat sempurna dan membangunkannya.


"Bud bangun Bud... Lama-lama kamu semakin parah saja," ledek Adinda sambil membangunkan Budiman.


Mendengar Adinda memanggil, Budiman membuka mata dan melihatnya. Ia bangun namun tubuhnya sempoyongan. Hingga akhirnya tubuh kekar itu menimpa tubuh Adinda. Yang di mana Adinda tidak kuat menopang tubuh Budiman akhirnya ambruk.


Brukkkk!


Budiman pun hanya bisa terkekeh melihat Adinda yang berada di bawahnya. Adinda sudah tidak bisa bergerak lagi. Ia kebingungan untuk melepaskan tubuh Budiman.


"Bangun apa? Jangan kayak gini! Tubuhmu berat," kesal Adinda sambil memukul Budiman.


"Tubuhmu sangat wangi sekali," ucap Budiman yang mencium aroma tubuh Adinda.


"Bangun Bud. Aku mau pergi ke kantor," seru Adinda.


"Tidak. Aku akan mengurungmu disini!" tegas Budiman yang sengaja membuat Adinda terkejut.


"Bagaimana dengan perusahaanku?" tanya Adinda yang semakin kesal terhadap Budiman.


"Serahkan saja pada ayahmu. Kamu nggak usah repot-repot lagi mengurusi perusahaan," jawab Budiman yang menutup matanya lalu tertidur di dada Adinda.


Tak sengaja Adinda mendengar dengkuran halus dari Budiman. Ia semakin bingung dan ingin membangunkannya. Namun dirinya tidak tega melihat Budiman sedang tertidur pulas. Terpaksa Adinda mencari cara agar lepas dari Budiman.


Selama sejam akhirnya dirinya lepas dari Budiman. Namun tak disangka, Adinda melihat jam sudah menunjukkan waktu pukul 06.00. Ketika melihat Budiman tertidur di lantai, Adinda tidak tega untuk meninggalkannya.


Adinda akhirnya membangunkan Budiman untuk segera bangun. Lalu Budiman membuka mata sambil menatap Adinda, "Biarkanlah aku tidur."


"Apakah kamu mau tidur di sini selamanya?" tanya Adinda.