Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 160



“Coba kamu baca pesan ini. Yuki telah mengirimkan banyak bukti ke ponselku,” jawab Faris sambil memberikan ponsel itu kepada Adinda.


Adinda segera meraih ponselnya lalu membaca pesan tersebut. Matanya membelalak sempurna dan menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak sengaja melihat nama Netty yang tersangkut dalam pesan tersebut.


“Aku kirimkan ya ke ponselku. Beberapa hari ini aku memang sengaja memakai nomor lain. Semenjak kejadian Netty yang melabrakku di rumah. Aku memutuskan untuk mengganti nomorku,” ucap Adinda.


“Kirim saja ke nomormu. Oh iya kenapa kamu nggak bilang sama Yuki Kalau ganti nomor?” tanya Faris lagi.


“Aku lupa Kak. Aku memang sengaja tidak menyebarkan nomor itu. Jika sampai nomorku tersebar. Bisa jadi keluarga Netty menerorku habis-habisan,” jawab Adinda yang mengirimkan pesan Yuki ke nomornya.


“Memangnya sudah di teror ya?” tanya Faris yang mulai curiga.


“Iya Kak. Aku tidak takut sama sekali. Tapi aku sedang membuat rencana untuk menyerangnya. Aku diam-diam memecatnya dan sudah mengirimkan surat pemecatan itu ke rumahnya. Mungkin saja dia sangat marah dan memakiku dengan kasar. Demi kenyamanan bersama lebih baik aku mengganti nomorku. Apalagi sekarang aku sedang fokus pada tender besarku itu,” jawab Adinda.


“Nanti kamu kasih tahu ya nomormu ke Yuki. Soalnya Yuki juga mengeluh nggak bisa menghubungimu,” pinta Faris yang mengingatkan Adinda untuk memberikan nomornya itu ke Yuki.


“Baik kak. Aku akan memberikannya ke Yuki secara langsung. Kakak mau menginap di sini?” tanya Adinda lagi yang selesai mengirimkan pesan itu ke nomor ponselnya.


“Masih banyak yang harus dibicarakan. Ini menyangkut tentang keamanan kamu dan juga Budiman. Selain itu juga aku harus masuk ke dalam padepokan untuk belajar ilmu bela diri lagi,” jelas Faris.


“Sebenarnya aku ingin di sini. Berhubung besok pagi aku harus terbang ke Singapura bersama Kak Budiman. Aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku akan bersiap-siap untuk menghadiri pernikahan sepupunya Kak Budiman yang bernama Albert,” ucap Adinda.


“Oh Albert yang orangnya memiliki mata sipit ya. Itu temanku pas waktu kuliah di London. Aku juga diundang. Tapi lusa aku akan berangkat ke sana bersama Paman Herman dan juga ayah dan ibu,” ucap Faris yang mengingat nama Albert.


“Iya itu benar Kak. Masa aku nggak datang? Aku kan sudah menjadi bagian hidup kak Budiman. Kalau nggak datang nanti banyak orang yang membicarakan tentang pernikahanku. Kakak tahu kan apa maksudnya?” tanya Adinda.


“Maksudku begitu. Aku sendiri sudah terbiasa dengan omongan-omongan seperti itu. Kalau sedang berkumpul sama keluarga besar dari pihak suami. Kamu harus sabar-sabar menghadapi mereka. Memang sih Mama Kamila dan Papa Kartolo menerimamu dengan baik. Bahkan mereka membanggakanmu. Tapi nggak sama dengan lainnya. Itulah kenapa banyak wanita yang terkena mental hanya demi mendengarkan omongan keluarga besar dari pihak suami,” ucap Faris yang memperingatkan Adinda untuk bersabar menghadapi keluarga besar Budiman.


“Ya sudah deh. Aku berpamitan untuk pulang ke rumah. Aku tidak bisa lama-lama lagi. Soalnya pagi-pagi aku harus berangkat menuju ke bandara,” ucap Adinda.


Faris menganggukkan kepalanya lalu mengajak Budiman untuk berpamitan. Selama sharing bersama ibu Lidya, Budiman sengaja memisahkan dirinya dan bergabung bersama para pria. Di sana Budiman sangat disambut hangat. Andra yang dulu dendam sekarang sudah membuka dirinya dan mendukung pernikahan Adinda.


“Din aku minta maaf ya. Selama ini kelakuanku di keluarga besarmu sangat buruk,” ucap Budiman yang sedang menyetir mobil.


“Nggak apa-apa Kak. Aku yakin Kakak bisa berubah dan merangkul mereka. Aku sendiri tidak mempermasalahkan itu. Semuanya orang bisa mengenal sesamanya dengan cepat. Aku sudah mengenal Kakak sedari dulu. Jadinya aku sudah tidak kaget lagi,” ujar Adinda.


“Oh ya. Sebelum pulang aku sengaja diperingatkan oleh Faris. Faris tahu sebagian sifat keluargaku itu. Ada yang tidak suka dengan orang asing yang belum dikenalnya itu. Aku harap di saat kita berkumpul di sana. Kamu harus menyiapkan mental yang besar. Kalau tidak nyaman panggil aku. Biar aku membawamu ke tempat yang bisa membuatmu nyaman,” jelas Budiman.


“Kamu tenang saja soal ini. Aku memang sudah siap mental untuk berkumpul dengan keluargamu. Aku yakin mereka tidak akan bisa mengusikku. Karena aku sendiri akan menjadi wanita lemah dan tidak akan membuat kekacauan di sana. Kamu tahu kan apa maksudku?” tanya Adinda.


“Aku nggak ngerti apa maksudmu. Terserah apa yang kamu lakukan asalkan membuatmu nyaman. Aku sendiri juga tidak merasa nyaman jika berkumpul sama mereka,” jawab Budiman.


“Kamu itu sangat aneh sekali ya. Kok bisa kamu nggak nyaman sama mereka. Bukannya mereka itu adalah keluarga besarmu?” tanya Adinda.


“Banyak beberapa orang yang mendukung Gilang. Bahkan mereka ingin menghancurkanku dengan pelan-pelan. Aku memang sengaja menjauhi mereka agar tidak terpengaruh. Aku sudah diberitahukan oleh George. Yang di mana Aku sengaja meminta George menyelidiki Gilang lebih dalam lagi,” ucap Budiman.


“Ternyata keluarga Gilang sudah membuat persatuan untuk menyerang kamu? Mungkin saja Gilang sudah memberikan sejumlah uang agar menyerang kamu dari belakang. Kalau begitu inilah kesempatan besarku untuk membalas apa yang akan dilakukan oleh Gilang. Aku yakin bilang akan datang bersama keluarganya di pernikahan Albert,” jelas Adinda.


Ini sangat menarik sekali. Adinda akan melakukan hal yang gila ketika bertemu dengan Gilang. Ia tahu kalau mereka akan bersatu untuk menghancurkan Budiman. Bahkan Adinda sendiri secara terang-terangan menyerangnya dengan pukulan telak.


Sedangkan di rumah mewah Gilang, Gina dan Gandhi membaca sebuah pesan. Mereka tersenyum karena ada acara pernikahan keponakannya itu. Mereka yakin kalau Budiman akan hadir dalam acara tersebut.


“Sebentar lagi Albert akan menikah. Sebelum pemberkatan Kita harus mencari cara untuk mengelabui koloni yang telah kita buat di keluarga besar. Kita akan mengadakan pertemuan untuk memprovokasi mereka. Agar menyerang Budiman,” ucap Gina sambil tersenyum licik.


“Ah itu benar. Aku yakin Budiman tidak akan berkutik sama sekali. Jika berkutik Budiman tidak akan bisa membela dirinya,” ujar Gandhi yang membenarkan ucapan Gina.


“Kalau begitu kamu kirimkan saja pesan buat mereka. Kalau kita sudah sampai di Singapura. Mereka harus berkumpul di suatu tempat yang tidak akan pernah diketahui oleh Kartolo dan juga Kamila. Mereka adalah orang-orang bodoh yang sedang didukung oleh Jeremy. Pria tua itu tidak akan berkutik jika Kita menyerangnya rame-rame,” sahut Gina yang sangat membenci Jeremy.


“Baiklah akan aku lakukan,” sahut Gandhi yang meraih ponselnya dan mengirimkan pesan kepada koloninya itu. “Lalu bagaimana dengan Gilang? Keadaan Gilang sudah baik-baik saja.”