Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 22



Tepat jam 10.00 malam, Adinda bersama Netty memutuskan untuk tinggal di apartemen. Untung saja jarak apartemen dan kantornya sangat dekat.


Ketika sampai di apartemen, Adinda tidak sengaja melihat Gilang yang sedang lewat di hadapannya. Dengan cepat Adinda menarik Netty dan bersembunyi terlebih dahulu.


"Ngapain itu orang di apartemen? Apa jangan-jangan Gilang memiliki unit apartemen di sini?" tanya Netty bisik-bisik di telinga Adinda.


"Entahlah... Aku nggak tahu. Biarkan saja orang itu berada di apartemen sini," jawab Dinda.


Setelah melihat Gilang menjauh dari matanya, mereka juga tidak lupa melihat Kanaya yang sedang lewat juga. Mereka saling berpandangan dan memiliki banyak pertanyaan. Posisi saat itu mereka masih bersembunyi. Untung saja mereka tidak ketahuan oleh Kanaya.


Beberapa menit kemudian Kanaya sudah pergi dari lantai itu. Mereka segera masuk ke dalam unit apartemennya. Di dalam apartemen mereka menghela nafasnya dengan lega.


"Jujur aku baru melihat Gilang beberapa hari ini," ucap Netty.


"Jadi, kamu sudah melihatnya beberapa hari terakhir ini?" tanya Dinda.


"Itu benar. Aku nggak tahu secara persis di mana Gilang tinggal. Tapi sepertinya Gilang sering ke sini untuk bertemu Kanaya. Ditambah lagi setelah bertemu Kanaya, Gilang tidak keluar lagi. Kemungkinan besar dia menginap di apartemen itu," jawab Netty.


"Kamu tahu sebenarnya mereka memiliki hubungan khusus. Kanaya dan Gilang sudah menikah secara resmi di negara Inggris sana. tapi mereka sengaja menyembunyikan pernikahan itu. Agar Budiman tidak mengetahuinya. Aku mendapatkan informasi itu dari Mas Faris. kamu masih ingat nggak ketika Mas Faris pulang ke Indonesia?" tanya Dinda.


"Iya aku ingat. Kalau nggak salah Mas Faris balik buat ngurus paspor. Aku juga dengar Mas Faris cerita seperti itu. Jujur aku kaget sekali mendengar cerita Mas Faris," jawab Netty. "Bukankah Andara sudah tahu cerita itu?"


"Aslinya sebelum Mas Faris pulang, aku sudah diberitahu dulu tentang Kanaya. Beberapa barang bukti Mas Faris sudah mengirimkannya melalui email. Diam-diam aku bertemu dengan Andara di suatu tempat. Jujur saat itu ada Budiman di dalam rumah. Jadi terpaksa aku mengajaknya keluar agar masalah ini cepat selesai. Setelah Andara mendapatkan itu, Andara langsung lapor ke mama dan papa. Mereka sangat terkejut sekali mendengar berita itu. Ujung-ujungnya mereka tidak ingin Budiman menikahi Kanaya," jelas Adinda dengan serius.


"Hidup itu simple. Jujur pikirannya Budi itu emang gila. Dia memang orang hebat. Dia juga orang berpengaruh terhadap ekonomi negara ini. Tapi kenapa kok dirinya mau dibohongi sama wanita ular itu?" Ujar Netty.


"Nggak tahu lagi deh. Sudahlah nggak usah dipikirin orang seperti itu. Lagian kalau mikirin dia pekerjaan kita nggak selesai-selesai," sahut Adinda yang mulai melepaskan belajarnya dan dilemparkan ke sembarang arah.


"Kamu nggak dimarahin tidur di sini?" tanya Netty yang menaruh tas kecilnya itu.


"Awalnya aku dimarahin sih sama ibu. Terus aku bilang saja tentang teror tadi pagi. Ibu pun akhirnya menyetujui Jika aku tidur di sini. Aku juga cerita kalau besok pagi ada meeting dadakan dengan divisi keuangan," jawab Adinda yang memiliki firasat aneh.


"Bagaimana ceritanya tentang proyek pembuatan makanan untuk prajurit perang?" tanya Netty.


"Tenang. Aku sudah memanggil Kak Dion bersama Kak Irma untuk datang ke sini. Aku memang untuk berdiskusi tentang gizi sebenarnya. Mungkinkah Kami akan pergi ke barak tentara untuk mengecek gizi makanan tersebut?" jawab Adinda.


"Ide kamu bagus juga. Rasanya aku sudah lama tidak main ke sana. Jujur aku rindu ingin bertemu dengan Kak Putri," jelas Adinda.


"Nanti deh kalau kita libur. Aku akan mengajakmu ke sana sambil mengunjungi barak," ucap Netty yang berjanji kepada Adinda.


Adinda pun mengangguk tanda setuju. Ia akan melakukan riset untuk membuat makanan kering yang ditujukan kepada prajurit perang. Adinda sengaja membuatnya dengan setulus hati. Agar mereka bisa memakannya dengan penuh cinta dan perasaan. Ditambah lagi Adinda tidak akan pernah melupakan soal gizi. Meskipun dirinya bukan ahli gizi, Adinda juga sering belajar dari teman kuliahnya dulu.


"Sudah malam... Waktunya tidur. Besok pagi akan ada apel dadakan. Ayah akan mengunjungi perusahaan itu. Semoga saja tidak terjadi keributan yang aneh-aneh," jelas Dinda yang melangkahkan kakinya menuju ke toilet.


Sementara di tempat lain Budiman sedang menikmati bir. Posisi Budiman berada di klub malam. Yang di mana Budiman memang menunggu Kanaya di situ. Selain itu juga Budiman sedang berpikir, Bagaimana caranya dirinya bercerai dari Dinda dan tidak ketahuan sama sekali dengan kedua orang tuanya? Di sisi lain ia ingin menikahi Kanaya dan hidup bahagia. Inilah yang membuat Budiman pusing tujuh keliling.


Tanpa disadari di sudut pojok ruangan, Andara bersama Kamila sedang memata-matai Budiman. Untung saja Adinda memberitahukan gerak-gerik Budiman. Untuk kali ini Adinda tidak mengikuti Budiman. Sebab besok pagi dirinya harus meeting.


"Andara," panggil Kamila.


"Bener-bener deh Abang. Sudah memiliki istri masih saja mencari wanita lain. Kalau aku menjadi Abang tidak akan menyia-nyiakan Adinda. Jujur Adinda sangat cantik dan baik hati. Selain itu juga Adinda memiliki kecerdasan di atas rata-rata," kesal Andara yang menatap wajah Budiman.


"Kamu benar. Sedari dulu Mama sangat menyukai Adinda. Bukan karena asetnya yang dimiliki Adinda. Mama menyukai lemah lembut dan sopan santunnya itu. Ditambah lagi Adinda lebih menghormati orang yang lebih tua dari umurnya," jelas Kamila.


"Apakah kita harus memanggil Dinda?" tanya Andara.


"Nggak usah kamu panggil Adinda. Adinda sedang tidur. Besok pagi akan ada meeting dengan divisi keuangan. Kasihan kalau kita ganggu terus-terusan seperti ini," jawab Kamila.


"Apakah pernikahan abang sama Adinda bertahan?" tanya Andara.


"Justru itu Mama sangat ketakutan sekali. Mama takut jika Budiman menceraikan Adinda dan lebih memilih wanita ular itu. Tapi papamu sudah mengancamnya agar tidak menceraikan Adinda. Jika sampai maka seluruh fasilitas yang dimilikinya ditarik semuanya. Dan perusahaan itu akan digabung dengan perusahaan milik Adinda. Selama ini pendapatannya agak merosot.Kalau diteruskan begini bisa-bisa perusahaan akan hancur dan banyak pengangguran di mana-mana," ucap Kamila dengan jujur.


"Mau tidak mau kita akan melakukan penggabungan perusahaan. Jika terus-terusan begini semuanya akan menjadi hancur dan berantakan. Rasanya aku ingin menangis saja," sahut Andara dengan jujur.


Beberapa saat kemudian anak dan ibu itu tidak sengaja melihat Kanaya sedang lewat di depannya. Untung saja lampu yang berada di klub malam itu remang-remang. Jadi mereka bisa memastikan kalau penerangan cahaya itu sangat aman. Karena ia tidak akan melihat kedatangan mereka berdua yang sedang memata-matainya. Jujur mereka tidak terkejut sama sekali. Sebab mereka sering melihat Kanaya dan Adinda bersama di klub malam ini.


"Ngapain itu Kanaya di sini?" tanya Andara.