Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 134



"Haduh... Aku menabrak apa ya? Rasanya sangat keras sekali," ucap Adinda yang tidak sadar.


"Kamu menabrak aku nyonya. Sepertinya Nyonya harus bertanggung jawab atas tabrakan tadi," sahut Budiman yang baru saja keluar dari dalam lift.


"Kenapa aku harus bertanggung jawab? Seharusnya Anda minggir. Saya ingin masuk ke dalam lift untuk menemui CEO di perusahaan ini," kesal Adinda.


"Kamu sudah bertemu gitu. Jadi kamu mau apa?" tanya Budiman yang sengaja menarik tangan Adinda untuk masuk ke dalam lift.


"Selalu saja begitu. Kamu itu selalu membuat aku kesal. Apakah meetingnya sudah dimulai?" tanya Adinda.


"Meskipun kamu kesal. Kamu suka sama aku kan. Padahal aku sendiri adalah pria tertampan di matamu itu," jawab Budiman.


"Terserah apa katamu. Memangnya meetingnya sudah dimulai?" tanya Adinda lagi.


"Meetingnya belum dimulai. Memangnya kenapa? Perasaanku kamu nggak pernah hadir deh kalau saat ada meeting tentang para pemegang saham," jawab Budiman sambil bertanya balik ke Adinda.


"Memangnya nggak boleh datang ke acara meeting ini? Memang beberapa bulan terakhir aku memang nggak datang. Aku sebel dengan wajahmu itu. Sekalinya ngomong bisa-bisa menghancurkan mental orang di sekitarnya. Oleh karena itu aku males datang pas waktu meeting digelar," jelas Adinda dengan jujur.


Rasanya Budiman ingin tertawa saja. Memang sifat Budiman yang satu itu tidak akan pernah luntur. Cara bicaranya ketika ada meeting pemegang saham, membuat semua orang menjadi kesal dan ingin menghajarnya. Kata-katanya membuat semua orang ingin cepat berlalu meninggalkan ruangan meeting itu.


Begitu juga dengan Adinda. Sebenarnya Adinda semangat sekali kalau ada meeting para pemegang saham. Akan tetapi Adinda tidak suka dibantah. Sekalinya dibantah bisa-bisa membuat acara meeting ini menjadi hancur berantakan. Soalnya untuk yang lalu-lalu Budiman selalu saja membuat Adinda berubah menjadi Dewi Durga. Tatapannya menyala hingga ingin melahap Budiman saat itu juga.


"Dulu aku memang begitu Din. Sekarang aku memakai logika. Aku sekarang sudah nggak mau marah-marah lagi. Soalnya kamu sudah memberikan aku energi yang positif sebelum berangkat bekerja. Aku sangat beruntung sekali mendapatkanmu. Kenapa nggak dari dulu kita menikah? Kenapa aku harus terikat pada wanita ular itu?" ucap Budiman yang menyesali perbuatannya pada waktu itu.


"Nggak usah menyesal begitu. Suatu hari nanti pelajaran itu bisa kamu berikan kepada anak-anakmu. Jika anak-anakmu sudah bertambah dewasa. Kalau ada yang mengikuti jejakmu. Kamu bisa memberitahukan efeknya bagaimana. Orang yang nakal seperti kamu pasti memiliki banyak pengalaman. Aku percaya dengan kamu," ujar Adinda sambil memegang tangan kekar Budiman.


Budiman merasa tersanjung sekali kepada Adinda. Kepercayaan dirinya itu akhirnya muncul dari sang istri. Meskipun Adinda kalau berbicara tidak pernah disaring, Budiman sangat menyukainya. Bahkan kejujurannya itu bisa membuat Budiman menjadi lebih bahagia.


"Eh kak, tadi sepertinya ada orang tuanya Gilang ya?" tanya Adinda.


"Memang benar. Mereka juga pemegang saham di sini. Aku nggak tahu apa yang akan dilakukan oleh mereka? Mereka sangat pandai sekali memprovokasi keadaan. Aku nggak pernah tahu siapa pemegang saham terbesar di perusahaanku ini. Aku tidak memperdulikan itu. Sekarang aku lebih memilih untuk bekerja lebih giat lagi demi membiayai hidup kamu dan kelima anakku kelak," jawab Budiman.


"Kalau membuat kerusuhan biarkan aku yang menanganinya. Aku ingin tahu seberapa besarnya mereka bisa menganalisis pekerjaanmu itu? Lagian meeting kali ini membahas pekerjaanmu. Aku tidak akan membocorkan analisis dari mata kepalaku sendiri tentang kamu di sini. Nggak mau nanti kamu harus dengar di sana. Karena kamu adalah seorang ceo-nya. Perang-perang deh sama aku setelah ini. Aku akan menekan itu orang agar tidak terlalu mengganggu dan membuat kerusuhan ketika meeting tiba," jelas Adinda yang telah membaca kejadian beberapa jam kemudian.


"Jadi kamu ke sini sendirian?" tanya Budiman.


"Ya mau bagaimana lagi. Lagian aku sendiri juga nggak memiliki asisten. Aku mencari asisten pun juga percuma saja. Ujung-ujungnya kamu akan mengajakku pergi ke London. Sepertinya kita harus menunda untuk pergi ke London dalam beberapa bulan ke depan. Karena aku sendiri masih ada beban di Indonesia," jawab Adinda.


"Semuanya itu tidak jadi masalah. Kalau dipikir-pikir Kenapa juga kita perginya mendadak seperti ini. Aku juga memikirkan tentang perusahaan ini. Beberapa tender yang harus aku kerjakan. Banyak perusahaan makanan kering yang membutuhkan desain kaleng yang belum aku buat. Lalu apakah aku akan memberikan pekerjaan ini ke orang lain? Tentu tidak. Semuanya tidak menjadi masalah buat aku. Makanya nanti malam kita bicarakan saja di atas ranjang yang empuk. Terus membicarakan masa depan kita. Kamu bisa mencurahkan ingin memiliki anak dariku berapa orang? Lalu kita akan membuatnya setiap hari agar cepat jadi," tutur Budiman sambil tertawa iblis menghadap ke arah Adinda.


Adinda hanya menepuk jidatnya saja. Entah ada setan apa dengan Budiman sekarang. Bisa-bisanya ngomong tentang bisnis ujung-ujungnya langsung membicarakan keturunan. Memang Budiman sekarang lebih absurd ketimbang yang dulu. Kata-katanya itu sangat menggemaskan sekali buat Adinda. Terkadang Adinda sendiri ingin menoel-noel wajahnya sang suami.


"Kamu itu ada-ada saja. Aku ingin mengecek pekerjaanku terlebih dahulu. Kalau nanti malam kita akan bicarakan panjang kali lebar kali tinggi," ucap Adinda sambil berkedip matanya dengan genit.


Budiman langsung mendekati Adinda dan menariknya. Hingga Adinda sendiri menatap tajam ke arah Budiman sambil bertanya, "Ada apa sih? Kok kamu mengajakku. Bukankah meeting sebentar lagi?"


"Kamunya sih lucu banget itu mata. Makanya aku ingin mengajakmu ke dalam kamar rahasiaku. Kita akan membuat skandal," jawab Budiman sambil terkekeh lucu.


"Skandal apa? Jangan-jangan Kamu sengaja membuat skandal di atas ranjang bersama sang CEO milik SM Company? Iya kan," tanya Adinda sambil menatap wajah Budiman.


"Sekali-sekali lah membuat skandal bersamamu di dalam ruangan rahasiaku. Jika rame, kita lanjutkan saja dan membuat konten agar semua para fansmu yang laki-laki itu cemburu kepadaku," jawab Budiman sambil tersenyum lucu.


"Terserah kamu saja. Aku hanya menuruti Apa katamu. Tapi nggak sekarang lagi. Beberapa menit lagi akan ada meeting," kata Adinda yang menolak keinginan Budiman.


"Bisa nggak sih meeting ditunda hingga sore hari?" tanya Budiman yang membuat Adinda melongo.


Beberapa saat kemudian datang Tio. Tanpa mengetuk pintu, Tio melihat keakraban Budiman bersama Adinda. Lalu Tio pun menutup pintunya sambil mengetuk kembali pintu tersebut.


"Tio!" panggil Budiman yang kesal terhadap asistennya itu.


"Aku hanya memperingatkan kamu. Meeting sebentar lagi," sahut Tio yang tidak ingin masuk ke dalam ruangan milik Budiman.


"Kenapa kamu nggak mau masuk ke dalam ruanganku?" tanya Budiman.