Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 204



"Kalian berdua ini selalu saja berantem Kalau bertemu. Kenapa elu selalu saja mengingat masa lalu?" tanya Alexandro yang berdetak kesal terhadap sahabatnya itu.


"Gue nggak gitu kali ya. Gue menyerah sama elu," kesel Budiman.


"Yuki, Kenapa dengan suami kamu itu? Bisa-bisanya dia memujiku di hadapan suamiku sendiri titik aku tidak enak hati jika dia memujiku habis-habisan seperti itu. Aku sudah menjadi milik orang lain. Jangan kamu puji aku seperti itu," tanya Adinda sambil menatap mereka bertiga dengan tatapan nyalang.


"Aku nggak merasa sakit hati. Dia benar-benar belum melupakanmu. Jika dia tidak mencintaiku. Aku rela melepaskannya. Ada satu pria di Harvard yang sekarang sedang mengejarku untuk menjadi suami. Aku masih belum bisa menerimanya. Kamu pasti tahu deh orangnya. Orangnya konyol dan suka bercanda. Sekarang bekerja di agen rahasia di gedung putih," jawab Yuki yang tidak merasa sakit hati karena Rizal.


"Apa-apaan ini kalian? Kalian menikah hanya buat mainan ya? Kalian nggak tahu sakralnya pernikahan itu bagaimana? Jujur awal-awal menikah aku bersama Budiman adalah musuh. Sekarang kami saling mencintai satu sama lain. Kami tidak akan pernah lagi terpisahkan. Apakah kamu tidak bisa mencintai Rizal dengan sepenuh hatimu? Aku tahu itu hatimu pasti sakit ketika Rizal mengingatku. Tapi, aku nggak mau jika wajahku ini menjadi bayang-bayang Rizal. Katakan pada Rizal, jangan pernah mengejarku untuk kesekian kalinya. Aku nggak mau itu. Aku ingin bahagia bersama Budiman. Karena aku sendiri sudah mencintai Budiman di lubuk hati yang terdalam," ucap Adinda.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Sekarang sekarang ini Yuki baru terasa sakit hatinya. Yuki tidak marah sama Adinda. Karena Adinda tidak salah sama sekali. Ia mengetahui kalau Rizal yang salah dalam menjalin hubungan ini.


"Bolehkah aku bertanya sekali lagi?" tanya Yuki sambil menahan sesak di dadanya. "Apakah kamu masih mencintai Rizal?"


"Semenjak kejadian itu, aku sendiri sudah tidak menunggu Kak Rizal lagi. Aku sudah melupakan apa yang telah terjadi sama hubungan ini. Memang cukup sulit untuk melupakannya. Tapi aku harus move on dari Rizal. Dalam beberapa tahun terakhir nama Rizal sudah terhapus oleh banyaknya pekerjaan. Saat itu aku benar-benar gila kerja. Dari pagi hingga malam tidak pernah meninggalkan kantor kecuali meeting di luar atau perjalanan bisnis. Aku sendiri juga tidak lepas dari pekerjaan sedetail apapun. Jika tidak memiliki pekerjaan, aku terjun langsung ke bawah dan membantu seluruh divisi untuk menyelesaikan pekerjaannya. Saat itulah aku melupakan Rizal. Setelah lupa aku memutuskan untuk menjadi wanita karir. Aku juga membuat konten kreator tentang masalah bisnis. Membagikan ilmuku kepada para pemula untuk membangun bisnis baru. Dan kamu tahu, cara itu sangat berhasil sekali. Nama Rizal sudah terhapus dengan baik di dalam hati dan jiwaku sendiri. Sampai saat ini aku tidak terlalu berharap kepada suamimu itu. Jika kamu tidak bisa menanggung beban di pundak, lepaskanlah saja. Wanita sepertimu tidak boleh lemah di hadapan pria seperti Rizal. Kamu harus bangkit. Bilang sama dunia, kalau kamu adalah wanita tangguh yang tidak bisa diinjak oleh Rizal ataupun pria lainnya. Aku yakin kamu bisa bangkit dari rasa kecewa di dalam hatimu. Kalau aku salah maafin. Aku nggak mau jadi pelakor. Kalau aku jadi pelakor, bagaimana jadinya Budiman? Dia baru bangkit dari keterpurukan. Aku tidak mau menyakitinya lagi. Aku tidak mau mengecewakannya lagi. Hidupnya sekarang hanya untukku selamanya. Aku malah senang melihat Budiman menjadi bangkit dan banyak tersenyum. Semenjak bangkit, perusahaannya perlahan naik dengan pelan-pelan. Apakah kau harus mengecewakannya lagi? Apakah aku harus membuatnya sakit hati? Jika itu terjadi, aku jadi orang jahat. Aku tidak mau itu," ungkep Adinda yang membeberkan fakta sesungguhnya tentang perasaannya itu.


Yuki segera memeluk Adinda lalu menangis. Yuki adalah seorang wanita yang sangat baik. Apapun yang dimilikinya akan diberikan dengan cuma-cuma. Akan tetapi Yuki tidak bisa merasakan cinta dengan sempurna.


Mendengar Yuki menangis, Adinda mengepalkan tangannya. Ia tidak akan mungkin membiarkan sahabatnya itu menangis. Ia membiarkan dirinya menjadi punggung Untuk sahabatnya itu.


Setelah menangis Adinda sangat marah sekali. Dari tadi Adinda mendengar percakapan Budiman dan Rizal. Jujur mereka berdua sedang memperebutkan dirinya. Namun Adinda sendiri berpihak kepada Budiman. Karena Budiman adalah suami sahnya.


Bugh!


Adinda memberikan bogem mentah kepada Rizal. Dengan begitu hati Adinda menjadi sangat lega. Kemudian Rizal tersungkur sambil mengeluarkan darah di sudut bibirnya itu.


Budiman yang melihatnya hanya bisa pasrah. Ia baru saja melihat sang istri sedang mengamuk. Ia juga paham apa yang dilakukan oleh Adinda. Lalu apakah Budiman akan diam saja? Dengan terpaksa Budiman memilih diam. Ia mengangkat tangannya sambil menggelengkan kepalanya.


"Kamu nggak boleh ikut-ikutan. Kalau kamu ikut-ikutan dalam masalah ini. Aku akan menghukummu tidak boleh tidur dalam satu ranjang selama seminggu. Kamu harus tidur di luar bersama Pak Gono dan Pak Joko," ucap Adinda dengan nada rendah namun sangat menyeramkan.


"Iya iya. Aku tidak akan membela Rizal untuk saat ini. Rizal salah. Rizal yang menjadikan malapetaka ini hingga membuat sahabatmu menangis. Aku juga tidak mau ikut-ikutan masalah ini," ucap Budiman yang menunduk ketakutan seperti anak kecil baru saja dimarahi oleh ibunya.


Di sini Adinda semakin berani mengibarkan bendera kedamaian. Seharusnya Rizal tidak berkata seperti itu di hadapan Yuki. Gara-gara dirinya memakai gaun dan berdandan sangat cantik, rumah tangga Yuki menjadi berantakan. Adinda tidak mau itu. Adinda ingin Yuki bisa merasakan kebahagiaan dan kehangatan dalam berumah tangga.


"Selama ini aku sudah melupakanmu. Selama ini namamu sudah hilang dari ingatanku dan juga hatiku. Selama ini Aku tidak pernah mengingat namamu. Aku hanya membalaskan dendammu kepada Kanaya. Tapi kamunya nggak pernah tahu akan hal ini. Semakin lama kamu semakin kurang ajar. Jangan pernah salahkan kepada semua orang jika Yuki pergi. Aku tahu Yuki adalah wanita yang sangat baik. Meskipun jiwanya barbar seperti aku. Yuki memiliki sifat keibuan yang melebihi diriku ini. Sekali lagi Kamu memuji aku dihadapan Yuki. Aku tidak akan pernah mau memaafkanmu dan tidak ingin menjalin persahabatan lagi dengan kamu!" Tegas Adinda yang memperingatkan Rizal agar tidak mengingatnya lagi.


"Bukannya begitu. Aku masih mencintaimu. Kalau saja kamu tidak bersama Budiman. Aku akan menunggu waktu yang tepat untuk kembali ke Indonesia dan membawamu tinggal di New York. Di sana kita menikah dan memiliki banyak anak," ujar Rizal dengan penuh kejujuran sambil berdiri.


"Apakah kamu gila?" bentak Adinda dengan nada tinggi.