Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 39



"Ya... Aku akan menghadapinya. Kita tidak perlu takut sama yang namanya Kanaya. Bukankah Kanaya adalah seorang manusia? Kenapa juga harus takut. Kita harus takut sama sang pencipta," jawab Adinda dengan penuh percaya diri.


Andara hanya menunjukkan kepalanya tanda setuju. Apa yang dikatakan oleh Adinda itu benar? Kita tidak boleh takut sama siapapun. Sebab mereka adalah manusia biasa. Adinda memang memiliki nyali yang besar. Adinda akan maju jika dirinya benar.


Mereka memutuskan untuk pergi ke bawah. Tanpa disadari oleh Adinda, Budiman datang dengan wajah memerah. Budiman akhirnya mendekati Adinda dan mengangkat tangannya. Setelah itu Budiman mengayunkan tangannya ke arah wajah Adinda.


Dengan cepat Adinda langsung menghindari tangan Budiman. Adinda melibat kedua tangannya sambil memandang wajah Budiman. Sedangkan Andara sangat ketakutan sekali ketika kakaknya berubah drastis. Ia tidak berani menengahinya. Sebab Budiman akan sangat marah dan memukulnya juga.


"Kamu itu! Sudah kubilang jangan ganggu Kanaya! Kenapa sih kamu selalu menerornya!" bentak Budiman yang tidak terima jika Kanaya diteror.


"Oh jadi wanita bermuka dua ngadu lagi ke kamu? Budiman... Budiman... Ternyata kamu bodoh sekali telah diperbudak oleh cinta palsunya," ejek Adinda.


"Apa maksud kamu!" teriak Budiman.


"Sabar dong bro... Jangan teriak gitu napa? Lu mau rumah tangga kita kedengaran sampai di luar? Lu mau dikatain semua orang Jika punya selingkuhan? Kalau lu mau ya nggak apa-apa. Gue nggak keberatan jadi orang. Tapi gue nggak akan nolongin Jika saham lo anjlok bertubi-tubi," ucap Adinda yang memperingatkan Budiman soal saham perusahaannya itu.


Budiman ingat jika saham perusahaannya itu berada di ambang garis gradasi. Yang di mana garis itu sangat tidak aman. Para pemegang saham dari dulu memang tidak menyukai Kanaya. Bahkan mereka membuat peraturan yang cukup unik bagi Adinda.


Isi peraturan para pemegang saham di perusahaan Budiman:


Bagi CEO di perusahaan tersebut. Jika berhubungan dengan Kanaya maupun Gilang, cepat atau lambat orang itu akan diberhentikan dengan cara yang tidak hormat.


Itulah peraturan perusahaan yang telah dibuat oleh beberapa pemegang saham utama. Tanpa disadari Adinda juga turut andil penting dalam peraturan itu. Di usianya tujuh belas tahun, Adinda membeli empat puluh persen saham Njawe Group dari Kartolo. Padahal di usia menuju dewasa, Adinda sudah mulai berbisnis. Dua tahun kemudian Adinda juga sudah menjadi wakil manajer keuangan. Yang di mana Adinda sendiri memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Adinda memang sengaja digembleng oleh keluarga besar Santoso. Yang di mana Adinda akan menjadi ratu dalam kerajaan bisnis milik keluarganya itu. Kenapa tidak yang lainnya? Para sepupu Adinda?


Keluarga besarnya tidak pernah mengekang siapapun. Mereka dibiarkan tumbuh dengan sendirinya. Mereka juga menunggu bakat anak keluar dengan sendirinya. Beberapa sepupu Adinda ada yang menjadi dokter, dosen, pengacara atau lainnya. Itulah kenapa mereka sudah membuat rantai simbiosis mutualisme. Bahkan Adinda sendiri sangat akrab dengan mereka.


"Sekarang aku tanya? Kamu masih membela wanita ular itu ketimbang keluargamu. Kamu belum tahu siapa dia sebenarnya. Kamu belum tahu jika calon istrimu itu sudah menikah dan memiliki anak kembar. Kalau aku sebagai kamu tidak akan pernah mau dibohongi seperti itu. Kamu lebih mementingkan Kanaya ketimbang adikmu itu. Jujur saja ketika aku menerima lamaranmu adikmu sangat menyesal sekali. Jika tahu masalahnya seperti ini, dia tidak akan pernah mau mengajakku untuk masuk ke dalam pusaran masalah besarmu itu," terang Adinda.


Mendengar ucapan Adinda, Budiman menangkap beberapa kalimat dan mencernanya. Budiman menatap wajah Andara yang mulai ketakutan. Setelah menatap wajah Andara, Budiman menatap wajah Adinda untuk mencari kebohongan. Namun Budiman tidak menemukan hasil kebohongannya itu. Malahan Budiman sendiri melihat kejujuran yang ada.


"Apa maksud kamu? Apa yang kamu katakan itu benar?" tanya Budiman.


"Aku tidak menjawabnya sekarang. Aku akan tanya balik kepadamu. Apakah kamu ingin hidupmu hancur bersama Kanaya? Apakah hidupmu selalu begitu untuk selamanya?" tanya Adinda balik.


"Maksud kamu apa?" tanya Budiman.


"Maksud kamu apa?" tanya Budiman sekali lagi.


"Ayo ikut aku ke kamar! Akan aku tunjukkan semuanya! Aku yakin kamu akan tercengang, atas apa yang telah Kanaya perbuat," ajak Adinda.


Akhirnya Budiman dan Andara mengikuti Adinda. Adinda menaiki tangga satu persatu sambil mengatur nafasnya. Memang Budiman harus tahu apa yang telah terjadi selama ini. Jika terus-terusan begini, Budiman semakin lama semakin menjauh dari keluarganya. Itulah Adinda yang sangat takut sekali dengan perpecahan keluarga Budiman.


Sesampainya di kamar, Adinda masuk ke dalam. Adinda menyuruh Budiman dan Andara duduk terlebih dahulu. Sementara itu Adinda segera mengambil berkas-berkasnya dan yang berhubungan dengan Kanaya. Jujur saja hati Adinda sangat ragu akan hal ini. Namun Adinda harus melakukan hal ini.


Ketika menemukannya, Adinda menuju ke arah Budiman. Ia duduk di samping Andara sambil memberikan berkas-berkas tersebut ke Budiman. Sementara Budiman meraih berkas-berkas itu dan membaca seluruh isinya.


Betapa kagetnya hati Budiman saat ini. Ditambah lagi ada fotocopy surat nikahnya Kanaya dan Gilang. Wajah Budiman yang semula marah berapi-api berubah menjadi sendu. Wajah tampan dan rupawan itu langsung menatap wajah Adinda.


"Itu terserah kamu saja. Aku tidak ingin melihat kamu, perusahaan dan keluargamu hancur begitu saja. Sudah berapa tahun Kamu dibohongi sama wanita ular itu? Dia datang jika ada perlunya. Dia tidak datang karena dikurung oleh Gilang. Aku nggak mau melihat kamu menderita seperti ini. Ditambah lagi Kamu adalah ahli waris dari perusahaanmu itu," ungkap Adinda yang benar-benar tidak bisa menilai Budiman lagi.


Hancur!


Hati Budiman memang hancur. Namun Budiman meminta Adinda untuk membuktikannya. Mata Budiman menatap wajah Adinda sambil bertanya, "Kamu mendapatkan semuanya ini dari mana?"


"Aku tidak akan menjawabnya sekarang. Sekarang aku tanya sama kamu. Apakah kamu percaya dengan keluargamu itu atau dengan Kanaya?" tanya Adinda dengan tegas.


"Aku perlu bukti sekarang. Aku nggak mau kamu bertele-tele menyampaikan semuanya ini kepadaku," pinta Budiman.


"Apakah Kanaya berada di sampingmu saat ini juga?" tanya Adinda.


"Tidak ada. Dia tidak datang," jawab Budiman.


"Oh baguslah. Dia tidak datang karena bersama Gilang. Oke," sahut Adinda sambil meraih tabnya yang berada di atas meja.


Sebelum mengetahui keberadaan Kanaya, Adinda mengotak-atik tab-nya terlebih dahulu. Ia akan memberitahukan Di mana keberadaan Budiman? Tak butuh waktu lama, Adinda sudah menemukan di mana Kanaya berada. Dengan senyumnya yang licik, Adinda memberitahukan keberadaan Kanaya.


"Dia sedang ada di jalan xxx. Tepatnya berada di apartemen mewah. Dia sekarang berada di lantai delapan belas. Blok e nomor dua puluh enam," ucap Adinda dengan jujur.


"Apakah itu apartemennya Gilang?" tanya Andara.