
Adinda terkejut atas kedatangan orang-orang yang tidak dikenalnya. Mereka akhirnya menghentikan ciuman itu dan membuka pintu kaca mobil tersebut. Alangkah terkejutnya Adinda melihat orang-orang yang memakai seragam kepolisian. Ia tidak menyangka kalau dirinya berhubungan dengan pihak kepolisian. Mau tidak mau Adinda keluar dari mobil tersebut dan menanyakan apa yang telah terjadi.
Budiman masih saja berada di dalam mobil. Budiman tubuh Adinda yang sedang mengobrol dengan orang berseragam itu. Ia baru sadar kalau dirinya terkena tilang. Ia akhirnya keluar dari mobil dan mendekati Adinda.
Pria bertubuh kekar itu menanyakan, apa yang sebenarnya telah terjadi? Salah satu dari mereka menjelaskan kepada Budiman. Ada salah satu rambu yang tidak boleh berhenti di area sini. Budiman pun terkejut dan melihat rambut tersebut. Mau tidak mau Budiman menyerahkan dirinya untuk ditilang.
Hari ini benar-benar sial buat Budiman. Niat hati ingin mengajak Adinda berjalan-jalan, malahan dirinya terkena tilang. Untung saja Budiman segera menghubungi Tio. Tio dan Andara segera datang dan mengurusi semuanya. Hari itu juga Tio membayarkan dendanya agar Budiman bisa keluar dari penjara.
Ketika ingin pergi, Rizal dan Yuki mendekatinya. Tio sangat terkejut melihat Rizal yang masih hidup. Lalu Rizal memeluk Tio sambil mengelus-ngelus punggungnya.
“Apa kabar Tio?” tanya Rizal.
“Kabarku baik-baik saja. Kamu masih hidup?” tanya Tio balik.
“Aku memang masih hidup. Terima kasih kamu telah melindungi Budiman dari Kanaya. Aku yakin kamu bisa melindunginya,” jawab Rizal.
Tio terkejut atas pernyataan dari Rizal m otaknya mulai mengingat sesuatu. Yang di mana Rizal pernah berpamitan kepada Tio untuk menjaga Budiman. Ternyata inilah yang diminta oleh Rizal selama dia pergi.
“Maksud kamu apa?" tanya Tio. "Kamu pergi meninggalkan aku sendirian. Lalu kamu nggak bertanggung jawab atas kehidupannya Budiman. Sekarang kamu mengucapkan terima kasih sama aku. Lalu kenapa kamu bilang tidak apa-apa. Sekarang kamu jelaskan apa yang telah terjadi pada dirimu.''
Sebelum bercerita, Rizal meminta mereka untuk berkumpul di suatu tempat. Rizal juga mengajak Yuki untuk mengajaknya makan bersama. Setelah menentukan restoran mana yang dituju. Mereka langsung berangkat ke lokasi tujuan.
Di dalam perjalanan menuju ke sana, Adinda dan Budiman hanya tersenyum saja. Mereka mengingat kejadian yang tadi. Kejadian di mana mereka terkena tilang. Jujur ini baru pengalaman pertamanya terkena tilang. Sebab mereka adalah warga negara yang patuh terhadap rambu-rambu lalu lintas di setiap negara yang dikunjunginya.
Sesampainya di restoran itu, Rizal melambaikan tangannya untuk segera mendekat. Adinda yang melihat Rizal melambaikan tangannya langsung menarik tangan Budiman. Lalu mereka bergegas ke sana dan duduk di samping Andara bersama Tio.
Sebelum bercerita mereka memesan makanan terlebih dahulu. Di saat memesan Adinda malah mengerjai Budiman. Tapi Budiman tahu kalau dirinya sedang dijebak. Matanya langsung menatap tajam ke arah Adinda seolah-olah ingin melahapnya saat itu juga. Adinda malahan bergidik ngeri melihat tatapan Budiman tersebut. Dirinya tahu kalau Budiman sedang menghukumnya. Namun Budiman bersorak kegirangan. Di dalam hatinya Budiman mengejek Adinda. Budiman akan melahap Adinda malam nanti.
Andara dan Yuki tersenyum melihat mereka berdua. Andara tahu apa yang dilakukan oleh Budiman sekarang. Memang sedari dulu mereka selalu begitu. Mereka tidak pernah akur ketika bertemu seperti ini.
"Aku rasa Kalian sedang bermusuhan. Apa Kakak Budiman tidak mendapatkan jatah dari Kak Adinda?" ledek Andara yang menahan tawanya melihat Adinda bingung.
"Apakah kalian setiap bertemu masih selalu saja bertengkar seperti ini?" tanya Rizal.
"Kami tidak pernah berantem lagi semenjak sudah satu ranjang bersama. Kalau aku mengajaknya bertengkar, aku tidak akan mendapatkan jatah dari Adinda. Hal itu bisa sangat disayangkan. Bisa-bisa Adinda mengusirku dari ranjangnya dan menyuruhku tidur bersama para satpam di luar sana," jawab Budiman dengan jujur.
"Lagian kamu ada-ada saja. Jika kamu terus-terusan mengajak Adinda bertengkar. Maka kamu yang akan rugi besar," jelas Rizal.
Sebelum bercerita Rizal meminum airnya terlebih dahulu. Kemudian Rizal menceritakan dari awal hingga sampai saat ini. Alangkah terkejutnya Tio mendengar cerita Rizal. Karena yang dirinya tahu Rizal itu adalah pria lemah di dalam keluarganya Budiman. Namun Sekarang Tio tahu. Kenapa Rizal berbuat seperti itu? Hal ini demi menjebak kejahatan demi kejahatan yang pernah dilakukan oleh Kanaya maupun hilang. Setelah mendengar kabar dari Rizal, Rio sangat bahagia karena sahabatnya itu tidak meninggalkan dunia ini.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Mereka membantu untuk menghidangkan makanan tersebut di meja. Lalu mereka menikmati makanan tersebut dengan hati yang bahagia.
Jakarta Indonesia.
Ketika menuju ke ruang makan, Faris dan Herman tidak sengaja melihat Tia yang sudah berdandan. Mereka duduk dengan kompak dan menatap wajah Tia.
"Kok ibu tiba-tiba saja sudah berdandan serapi ini. Emangnya Ibu mau ke mana ya?" tanya Faris yang sangat Penasaran sekali.
"Kami berdua mau menyusul Adinda ke Singapura. Aku nggak mau melihat Adinda diinjak-injak oleh Gilang dan keluarganya itu. Padahal Adinda sendiri tidak pernah menyenggol keluarga Gilang. Inilah yang membuat kami berdua pergi ke sana. Lagian juga kedua orang tua Albert sudah mengirimkan surat undangan itu ke email ku. Makanya aku memutuskan untuk menghadiri pernikahan tersebut bersama istriku ini," jelas Malik.
"Aku memakai jet pribadi ayah. Aku lupa beli tiket untuk pergi ke Singapura memakai pesawat komersil. Jadinya aku terpaksa memakai jet pribadiku untuk membawaku ke Singapura," kata Faris yang tidak ingin memakai jet pribadi untuk berpergian ke negara lain.
"Kalau begitu kami ikut dengan kalian," celetuk Tia.
"Tidak! Kami tidak mau bersama kalian," tolak Malik dengan cepat.
"Iya deh kalian ingin berdua. Soalnya kalian sudah terlalu bucin kebangetan. Kalau kalian berdua kami hanya bisa melihatnya sambil mengelus dada," ledek Herman.
"Makanya cari pacar sana. Jangan jadi jomblo Abadi. Nggak enak tahu jadi jomblo Abadi," suruh Malik kepada adiknya untuk mencari kekasih.
"Kira-kira Siapa yang mau sama aku ya?" tanya Herman sambil memandang wajah Faris.
Faris mulai curiga kepada Herman. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Tiba-tiba saja dirinya merasakan perasaan yang tidak enak.
"Ada apa Paman Herman?" tanya Faris yang memegang sendoknya.
"Bisakah kamu menolongku untuk mencarikan satu perempuan saja?" pinta Herman.
"Carikan saja seorang perempuan yang sangat cantik sekali buat pamanmu itu. Lagian jadi orang jomblo banget sih. Wajah tampan, tubuh Oke tapi nggak punya perempuan itu gimana," kesal Malik terhadap adiknya itu.
"Bukannya begitu Kakak. Aku kan dulu masih tunangan. Sekarang Aku sudah tidak tunangan lagi. Makanya itu sekarang aku benar-benar jomblo," ucap Herman dengan wajah sendu.
"Kamu mau cari tipe yang bagaimana. Aku sendiri bingung dengan tipe yang kamu minta," tanya Faris.