Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 96



"Beberapa hari lagi Adinda akan berulang tahun. Tolong persiapkan tempat untuk merayakan ulang tahun Adinda. Aku ingin kamu nggak usah berbicara apapun tentang itu. Kerjakanlah semuanya dengan baik. Buatlah tempat itu seromantis mungkin," jawab Budiman sambil meminta Tio.


"Emangnya kapan Adinda ulang tahun?" tanya Tio lupa dengan ulang tahun Adinda.


"Kenapa kamu bisa lupa ulang tahunnya Adinda? Bukankah ulang tahun Adinda sering dilaksanakan setiap tahunnya? tanya Budiman dengan serius.


"Setiap ulang tahun Adinda aku hanya datang saja. Aku tidak mengingat kapan dia berulang tahun," jawab Tio dengan jujur.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Budiman.


"Kamu butuh yang bagaimana?kamu butuh yang romantis atau apa?" tanya Tio balik.


"Yang romantis. Terus hadiahnya tiket bulan madu Maldives. Aku inign mengajaknya berbulan madu kesana," jawab Budiman.


"Perasaanku kamu pernah meminta tiket itu untuk mengajak Kanaya jalan-jalan," ucap Tio yang sengaja menjebak Budiman.


"Sialan lu! Lu bilang gue disuruh ngelupain perempuan itu. Tapi kenapa lu malah mengingat wanita itu lagi sih? Biarin aja dia bahagia sama Gilang. Gue sudah nggak peduli lagi. Gue hanya ingin bahagia bersama Adinda," jelas Budiman yang kesal terhadap asistennya.


"Apa lu gak tanya tentang tiket itu? Dulu sempat gua beliin tapi lu nya nggak berangkat," kata Tio.


"Memangnya ke mana itu tiket?" tanya Budiman yang baru tahu tentang tiket tersebut.


"Tiket itu aku jual lagi. Pak Kartolo sudah memberitahukanku agar menjualnya," jawab Tio.


"Terserah kamulah. Aku sudah malas mengurusi tentang Kanaya. Lebih baik aku menjadi pria sejati. Yang di mana pria sejati itu tidak akan pernah lari dari kenyataan. Mau bertanggung jawab apa yang telah dilakukannya. Selama ini aku tidak pernah melakukannya. Malahan aku sering mampir dari pekerjaanku. Seluruh terbaikku juga menghilang satu persatu. Ini karena keegoisanku semata," kesel Budiman.


"Syukurlah kalau Lu sadar soal itu. Banyak orang yang menginginkanmu kembali lagi ke masa lalu. Jangankan gue keluarga besar lu malah pengen banget. Terus temen-temen kita juga pengen lu berubah. Sekarang lu benar-benar berubah. Lu fokus banget kerja. Nggak mikirin pulang ke rumah. Terus foto-foto yang berada di dinding, lu sama Kanaya sudah hilang begitu saja. Gue merasa bersyukur perubahan lo sangat drastis sekali," ucap Tio sambil mengucap syukur kepada sang pencipta.


"Lu mau tau nggak rasanya di khianati kayak apa? Lu nggak bakalan bisa setegar gue. Setiap barang yang gue kasih selalu dipakainya. Tapi gue nggak sengaja melihat secara langsung Kanaya berjalan dengan Gilang. Untung saja saat itu gue bersama Adinda. Gue memang sengaja menyekap Adinda. Gue pengen membuktikan, kalau gue memang pantas untuk mendapatkan Adinda," jelas Budiman.


"Semua orang pantas mendampingi wanita yang dicintainya. Yang namanya jodoh tidak akan ke mana. Lu ngejar-ngejar Kanaya sampai dunia kiamat nggak akan dapat. Soalnya Kanaya bukan jodoh lu yang pantes. Lu pacaran dari awal SMA sampai detik ini nggak ada tanda-tandanya untuk nikah. Gue juga udah pernah bilang kalau dia nggak pernah cinta sama lu. Gue tahu itu semuanya, karena gue nggak sengaja mendengar apa yang dikatakan oleh Kanaya di restoran. Gue bersama Nda dan Adinda lagi makan siang. Nggak sengaja gue lihat ada Kanaya bersama teman-temannya. Mereka kompak menanyakan hubungan lo sama Kanaya. Lalu jawabannya apa, nggak cinta Budiman. Gue cinta pada uangnya. Kalau dilihat-lihat Budiman itu sangat tajir sekali. Apalagi Budiman akan dinobatkan sebagai CEO perusahaan. Gue bisa narik uangnya berkali-kali lipat,"jelas Budiman yang menirukan perkataan Kanaya.


"Kalau malam itu gue nggak pulang. Gue nggak tahu apa yang terjadi pada diriku hari ini. Gara-gara gue pengen pulang ke rumah Adinda, gue pengen memarahi Adinda abis-abisan. Tapi untungnya gue lihat jelas dia sedang bergelayut manja. Lu tahu kan cewek bergelayut manja gimana?" Tanya Budiman.


"Gue tahu itu semuanya. Sekarang nggak usah mikirin dia. Pikirin saja tentang Adinda. Lu harus membuat Adinda nyaman. Jangan sampai Adinda kabur dari pelukan lu. Itu saran dari gue," jawab Tio yang memberikan saran kepada Budiman. "Kalau soal itu gue akan kerjain sama anak-anak. Kemungkinan besar gue akan tanya sama Faris Kapan Adinda ulang tahun?"


"Ulang tahunnya sih beberapa hari kemudian. Bukan minggu depan. Ngapain lu tanya sama mereka minggu depan? Lu itu jadi orang aneh deh," kesal Budiman.


Tio hanya menganggukkan kepalanya. Memang ia tidak pernah mengetahui kapan Adinda ulang tahun. Setiap ada acara, Tio tidak pernah menyimpan Kapan teman-temannya ulang tahun. Itulah Tio yang sesungguhnya.


Sementara itu Adinda sangat kompak sekali dengan mama mertuanya. Adinda tidak akan menjaga image-nya lagi. Ia hanya menunjukkan Bagaimana sikap aslinya terhadap Kamila. Karena Adinda sendiri bukanlah wanita bertopeng seperti Kanaya.


"Bagaimana perasaanmu sekarang Din? Apakah kamu masih mau melanjutkan pernikahanmu dengan Budiman?" tanya Kamila yang sedang memilih barang.


"Pernikahan ini akan tetap lanjut. Biar bagaimanapun juga aku akan bertanggung jawab atas pernikahan ini," jawab Adinda.


"Jika kamu nggak kuat lepaskanlah. Mama nggak mau kamu menderita karena Budiman. Mama nggak pernah menjadikanmu sebagai penyelamat Budiman," ucap Kamila yang memberikan saran kepada Adinda.


"Nggak semudah itu ma. Pak Budiman sudah berubah. Matanya sangat sedih ketika aku bilang sesuatu yang nggak-nggak," ujar Adinda.


Kamila tersenyum mendengar Adinda. Iya tahu kalau Sang putra akan berubah dengan cepat karena hati Adinda. Kamila sangat bahagia ketika tahu Budiman sedang memuja Adinda. Memang, cinta yang tulus bisa membuat orang berubah. Namun cinta tidak akan bisa bertahan lama. Itu adalah bukti yang nyata. Semoga saja Adinda bisa bahagia dengan Budiman.


Siang menjelang sore Adinda menghabiskan waktu bersama ibu mertuanya. Mereka sangat kompak untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Di sana Adinda mulai bertanya tentang kebiasaan Budiman. Tidak lupa apa yang menjadi makanan favoritnya?


Yang dikatakan oleh Budiman sama persis dengan Kamila. Budiman tidak suka memilih makanan untuk dijadikan favorit. Malahan Budiman sangat menyukai makanan sederhana.


Sudah jelas di sini Adinda akan mempersiapkan segalanya Untuk Budiman. Ia tidak perlu pusing mencarikan makanan yang mewah. Akan tetapi ia akan berkonsultasi kepada Budiman, mau makan apa besok? Memang harus dibicarakan agar tidak terjadi miskomunikasi.


Tepat pukul 04.00 sore Budiman datang. Budiman sengaja menjemput mereka berdua. Budiman langsung memeluk Adinda sambil berkata, "Sesuai dengan janjiku. Aku ingin menjemputmu di sini bersama mama."


Kamila yang mendengarnya hanya bisa tersenyum manis. Ternyata Kamila memperlakukan Adinda dengan baik. Kamila menatap wajah Budiman dengan tulus mau menerima adinda apa adanya. Sebelum pulang kamilah menatap wajah Adinda sambil bertanya, "Apakah kamu mau menginap di rumah mama hanya semalam atau dua malam saja?"


Adinda tersenyum tulus sambil menganggukkan kepalanya. Sudah seharusnya Adinda membuat Ibu mertuanya nyaman bersama. Bahkan Adinda sendiri berharap jalinan cinta kasih ini akan selalu begini. Itulah sifat baik Adinda.


"Lalu mobilku bagaimana?" tanya Adinda kepada Budiman.


"Tenanglah. Mobilmu akan aman berada di basement. Sebelum ke sini aku sudah memindahkannya ke sana. Di sana ada beberapa mobilku dan Tio sedang terparkir. Bahkan mobil milik perusahaan juga ada," jawab Budiman yang membuat hati Adinda lega.


"Memangnya kamu punya berapa mobil Din?" tanya Kamila.


"Hanya satu Bu. Itu mobil kado dari ayah dan ibu ketika usiaku menginjak tujuh belas tahun," jawab Adinda.


"Sederhanakan Itu bagimu? Kamu adalah seorang ahli waris di sebuah perusahaan besar yang mendominasi dunia. Kenapa mobilmu hanya satu saja Din?" tanya Budiman.


"Aku memang tidak membeli mobil Kak. Aku lebih memilih menyimpan uangku dalam bentuk aset masa depan. Biarkanlah aku memakai mobil lama hingga tidak bisa jalan. Sedari dulu aku memang menyukai mobil itu. Meskipun lama aku tetap merawatnya seperti anakku sendiri," jawab Adinda.


"Itulah kenapa Mama lebih memilih Adinda ketimbang Kanaya. Adinda memiliki sifat yang sangat sederhana sekali. Dia tidak perlu bersusah payah membeli mobil baru. Yang lama saja masih bisa dipakai Kenapa harus beli?" ucap Kamila yang mengetahui sifat Adinda.


"Berarti tipe kamu itu adalah tipe yang setia. Ah rasanya aku ingin hidup denganmu hingga akhir hayat. Aku harap kamu tidak akan mengganti aku dengan pria lain," kata Budiman yang berharap Adinda tidak mengganti dirinya dengan pria lain.


"Apa maksudmu?" tanya Kamila.