
“Gilang mah tenang saja. Ia pasti sangat senang mendengarnya jika Budiman datang ke sana. Kalau mereka sudah bersatu dan menyerang Budiman begitu saja. Gilang akan memiliki suara terbanyak dan bisa saja mempermalukan Budiman dengan mudah. Aku yakin semuanya akan berhasil. Kamu tahu kalau Budiman itu adalah pria yang sangat bodoh sekali. Mau saja ditipu oleh Kanaya. Untung saja Kanaya memiliki wajah cantik dan otak sangat licik sekali. Jadinya ya dia sangat pandai sekali bersilat lidah dan merayu Budiman,” jelas Gina yang membuat Gandhi tersenyum licik.
“Jujur saja, aku sangat menyukai Kanaya. Sedari dulu Kita sudah membayarnya dengan uang banyak. Dia pandai berakting dan juga pandai membuat Budiman menjadi membenci kedua orang tuanya. Sepertinya aku akan menghubungi Kanaya dan menyuruhnya datang ke pesta itu. Lalu aku akan menyuruh dia untuk mengajak Budiman tidur bersama lagi. Ya syukur-syukur Kanaya bisa hamil dari Budiman. Jika sudah hamil, kemungkinan besar dia kita suruh untuk mengeruk kekayaannya,” sambung Gandhi.
Sepasang suami istri sudah memiliki rencana yang indah. Tapi apakah mereka berhasil melakukannya? Soalnya Budiman sekarang sedang dilindungi oleh Adinda. Yang di mana Adinda sendiri sudah memegang kekuasaan penuh atas hidupnya. Andai saja kalau mereka mengganggunya, mungkin Adinda akan marah dan menjatuhkan satu keluarga itu hingga wajahnya malu.
Sesampainya di rumah, Adinda dan Budiman langsung masuk ke dalam kamar. Mereka membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Setelah itu mereka berbaring di atas ranjang yang empuk.
“Itu ya yang namanya George?” tanya Adinda yang memegang tangan kekar Budiman.
“Iya itu benar. Aku memang sengaja memintanya untuk mencari informasi tentang Kanaya. Tapi yang aku heran kan kenapa dia ke sini tanpa memberitahukanku. Bisa saja George mengirimkan Aku email dan memberitahukan semuanya,” Budiman yang heran terhadap George.
“kamu nggak ingat jika ponselmu itu sudah diretas oleh hacker Amerika?” tanya Adinda lagi.
“Memangnya pengaruh ya?” tanya Budiman balik.
“Sangat pengaruh sekali bagi ponselmu itu. Meskipun ponselmu sangat canggih. Memiliki sistem keamanan yang nggak bisa diremehkan. Tetap saja ponselmu itu bisa terkena hacker. Kemungkinan besar hacker dari Amerika memiliki otak yang sangat jenius sekali. Makanya Gilang berani membayar mereka untuk mengobrak-abrik isi ponselmu itu,” jawab Adinda.
“Kalau nggak diperbaiki bagaimana?” tanya Budiman.
“Mau nggak mau, seluruh informasimu bocor ke telinga Gilang. Ponselku saja selalu aku berikan keamanan manual. Ditambah lagi dengan antivirus yang mematikan. Aku sengaja membuatnya ketika sedang tidak ada pekerjaan sama sekali di kantor ataupun di rumah,” jawab Adinda.
“Otakku itu adalah otak manusia. Aku memang sangat menyukai hal-hal yang baru. Aku sering sekali bereksperimen jika tidak ada kegiatan lain. Makanya ketika kamu berada di rumah. Kamu jarang sekali menemukanku. Itu tandanya aku berada di dalam kamar sekaligus bereksperimen dan belajar tentang bisnis maupun hacker. Banyak yang mengatakan kalau perempuan itu tidak bisa menguasai banyak pekerjaan. Namun semuanya salah. Jika ada kemauan di situ pasti ada jalan. Itulah prinsipku untuk saat ini. Bahkan aku sendiri dituntut untuk mandiri sedari kecil agar tidak meminta bantuan kepada orang lain,” jelas Adinda.
Jujur hati Budiman tersentil atas penjelasan Adinda. Entah kenapa Adinda sendiri memiliki kelebihan yang tidak mungkin dimiliki wanita lain.
“Lalu apa yang harus aku lakukan pada ponselku ini?” tanya Budiman.
“Dengan terpaksa kamu harus menggantikan ponselmu itu. Atau juga aku yang akan membersihkannya ketika berangkat ke Singapura. Saat berada di dalam pesawat. Aku berusaha untuk melakukannya. Atau juga pas waktu kita berada di hotel,” jelas Adinda yang tidak sempat membantu Budiman untuk malam ini.
“Apakah kau harus ganti ponselku?” tanya Budiman yang tidak paham atas dunia hacker.
“kenapa kamu harus mengganti ponselmu itu? Aku tahu ponselmu itu beli beberapa bulan yang lalu. Kalau bisa dibersihkan Kenapa tidak? Percuma kalau kamu hanya ganti ponsel saja. Kamu harus ganti nomormu itu. Tapi efeknya seluruh klien kamu tidak bisa menghubungimu. Kecuali aku,” jawab Adinda yang memberikan penjelasan dengan tepat.
“Jadinya aku menangis deh tentang ponsel ini. Kalau begitu kamu bawa saja ponselku ini. Atau kamu bersihkan dan dibanting terserah kamu,” ucap Budiman dengan pasrah.
“Kamu itu sangat lucu sekali ya. Kamu sangat pasrah dengan keadaanmu sendiri. Bersabarlah. Malam ini aku sangat lelah sekali. Aku ingin tidur terlebih dahulu. Bukankah kita berangkat tepat jam tujuh dari rumah?” tanya Adinda yang mulai memejamkan matanya.