Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 23



“Bukankah kamu nggak tahu? Kakakmu bertemu dengan Kanaya pada malam ini?” tanya Kamila yang masih memandang ke arah Budiman.


“Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku akan kesana untuk melemparkan Kanaya dari Abang Budi,” kesal Andara yang tidak terima dengan Kanaya yang mulai mendekati Budiman.


“Percuma kamu kesana. Kalau kamu kesana Budiman tidak akan mau pulang ke rumah,” ucap Kamila yang menghentikan langkah Andara untuk tidak gegabah.


“Lalu, aku harus bagaimana?” tanya Andara yang mulai gelisah.


“Biarkan saja. Mereka akan bersenang-senang di atas penderitaan kedua orang tuanya,” ujar Kamila dengan tersenyum licik.


“Bagaimana dengan Dinda?” tanya Andara.


“Kamu sudah nanya Dinda berapa kali?” tanya Kamila yang agak jengkel dengan sang Putri itu.


“Aku hanya menanyakan soal perasaan kakak iparku itu,” jawab Andara yang perduli dengan hidup Dinda.


“Beritahukan saja dia. Aku harap Dinda mengerti akan kondisi sebenarnya,” jelas Kamila yang memberikan suatu solusi.


“Kalau Dinda sedih bagaimana?” tanya Andara sekali lagi.


“Sudah resiko mendengar sang suami memiliki seorang wanita simpanan. Mau tidak mau Adinda harus merasakannya,” jelas Kamila.


Jujur hati Andara juga hancur melihat sang kakak berselingkuh dengan wanita lain. Andai saja jika dirinya dalam posisi Adinda, bagaimana rasanya? Tentu saja hatinya juga hancur. Ingin rasanya Andara menangis dan memeluk Adinda saat ini juga dan memberitahukan sesungguhnya. Namun apa daya, sang mama membiarkan dirinya untuk tidak menghubungi Dinda malam-malam begini.


Budiman yang melihat Kanaya datang langsung tersenyum sumringah. Jantungnya berdetak kencang lalu ia mendekati untuk menyambut kedatangan sang kekasih.


Tanpa disadarinya, tepat berada di garis lurus gerak-gerik Budiman sedang diawasi oleh dua orang wanita. Ia tidak tahu namun tetap cuek saja dengan keadaan sebenarnya.


Tanpa rasa malu, Kanaya langsung memeluk Budiman sambil mengucapkan kata i love u di telinga Budiman. Kata-kata seperti itulah yang membuat Budiman sangat merindukan kehadiran Kanaya. Ia lalu mencumbu mulut Kanaya dengan bebas.


Andara yang melihat jelas malah memasang wajah jijik. Jujur keadaannya ingin muntah. Bagaimana tidak Budiman ternyata melakukan hal yang tidak patut dicontoh. Jika dirinya pria, kemungkinan besar Andara akan mendatanginya dan memukulinya. Namun Andara tidak memiliki jiwa bar-bar seperti Adinda. Ia memiliki hati kecil. Bahkan ia juga kurang pandai dalam berdebat.


“Bisakah seluruh fasilitas milik Abang Budi dicabut?” tanya Andara ke Kamila.


“Tidak. Soalnya papa sudah melakukan perjanjian kerjasama dengan kakak kamu itu. Jika sampai abangmu bercerai, kemungkinan besar papa akan mencabut seluruh fasilitas yang dimiliki oleh abangmu. Kalau begini ya Mama enggak tahu,” jelas Kamila.


Budi memang sengaja membeli apartemen itu hingga jauh dari rumah. Ia tidak mau siapapun tahu keberadaannya jika bersama Kanaya.


Di dalam perjalanan, Kanaya selalu merengek untuk dinikahi. Namun Budi langsung menghentikan mobilnya. Ia berhenti di bawah pohon rindang yang tidak diketahui oleh siapapun. Hingga akhirnya wajah Budiman menghadap ke arah Kanaya.


“Kenapa kamu ingin cepat-cepat menikah?” tanya Budiman yang memegang tangan Kanaya sambil tersenyum manis.


“Aku ingin kamu menjadikanku sebagai orang yang penting anti hidupmu. Aku tidak mau tinggal seorang diri,” rengek Kanaya dengan manja.


“Oh... begitu ya... kalau begitu aku akan memikirkan cara agar bisa terlepas dari Dinda sialan itu!” geram Budi.


“Sebentar,” ucap Kanaya dengan menggantung.


“Ada apa sih sayangku?” tanya Budi dengan serius.


“Memangnya kamu benar menikah dengan Adinda?” tanya Kanaya dengan mata yang dibuat sendu agar bisa menarik perhatian Budi.


“Aku memang menikah dengan dia. Aku menikahi dia karena terpaksa. Sudah dibilang kalau aku tidak mencintainya. Maka dari itu aku ingin terlepas dari jeratan Dinda. Disisi lain aku tidak akan kehilangan apapun dari papa,” beber Budi yang masih memikirkan caranya agar tidak kehilangan semuanya.


“Lebih baik kamu memikirkan cara yang ampuh. Meskipun kamu bercerai tapi kamu tidak akan kehilangan semuanya,” tambah Kanaya yang malas membahas soal ini.


“Aku belum memikirkannya,” ujar Budiman yang melepaskan tangannya dan menjambak rambut pendeknya itu tanda frustasi.


“Ya saranku sih... Diam-diam saja aku bercerai. Lalu kita nikah di luar negeri. Sekalian kita meresmikan pernikahan ini ke seluruh penjuru bumi. Jadi jika Adinda tahu soal ini. Maka semua orang berbondong-bondong demi membuat mental cewek kegatelan itu parah. Aku lebih suka kalau melihat Ardina yang depresi lalu terkena stroke,” jelas Kanaya yang memberikan ide dadakan buat Budi.


“Keren sekali idemu itu. Aku tidak menyangka kalau kamu memiliki ide seperti itu!” puji Budiman yang membuat Kanaya tersenyum manis namun palsu.


“Itu benar. Apakah aku harus menolongmu?” tanya Kanaya yang menawarkan bantuan.


“Apa itu?” tanya Budiman.


“Semuanya tidak gratis buat kamu. Aku ingin kamu tinggal bersamaku. Kamu tidak boleh pulang ke rumah. Ditambah lagi kamu harus mempersiapkan pernikahan mewah buatku. Sebab akulah yang pantas menjadi istri kamu,” pinta Kanaya yang membuat Budiman menganggukkan kepalanya tanda setuju.


“Mulai kapan kita tinggal bersama?” tanya Budiman yang sangat antusias.