
"Yang aku katakan itu benar. Aku mendapatkan informasi itu dari seseorang yang aku sewa dari temanku," jawab Adinda dengan jujur.
"Jadi selama ini?" tanya Kartolo.
"Maksudnya?" tanya Malik.
"Selama Budiman terjebak dalam kecantikan Kanaya. Dia selalu membela Kanaya sedemikian rupa. AKu tidak habis pikir dengan kelakuan Budiman kali ini," jawab Kartolo yang sengaja menyembunyikan sesuatu.
"Sepertinya Papa sedang menyembunyikan sesuatu?" tanya Adinda dengan serius.
Kartolo terdiam dan memilih untuk diam. Ia masih memikirkan apa harus cerita atau tidak. Sementara Herman bersama Adinda mencium ada yang tidak beres di sini. Entah kenapa mereka merasakan ada sesuatu yang disembunyikan boleh Kartolo.
"Papa," panggil Adinda dengan lembut.
"Ada apa Din?" tanya Kartolo.
"Ada apa sih kok papa diam seperti ini?" tanya Adinda dengan serius.
"Papa bingung harus cerita dari mana? Sepertinya ayah kamu tahu masalah ini," jawab Kartolo sambil menatap wajah Malik.
Malik hanya mengedikkan bahunya tanda tidak tahu. Ia hanya menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Aku tidak tahu menahu tentang urusan keluargamu."
"Apa maksud kamu itu?" tanya Kartolo. "Kamu tahu kasus soal perebutan tanah yang di Kalimantan? Yang dimana aku ingin membuat perkebunan rempah-rempah?"
"Oh, yang itu," jawab Malik yang baru mengetahuinya.
"Ya… itu dia," sahut Kartolo. "Perkebunanku hancur seketika karena ada yang merusak."
"Sampai saat ini belum ada yang mengetahui siapa yang melakukannya?" tanya Malik.
"Aku sudah tahu siapa pelakunya. Mereka adalah kedua orang tua Gilang yang sengaja merusak kebun itu. Motifnya adalah ketika pembagian aset dari kakek aku sebenarnya tidak mendapatkan apapun. Aku memang sengaja tidak meminta apa-apa dari kakek. Berhubung sang kakek menawariku tanah beberapa hektar di Kalimantan, aku terpaksa mengambilnya. Karena sedari dulu aku suka sekali berkebun. Alhasil aku mulai bercocok tanam dan menghasilkan banyak rempah-rempah yang bagus. Aku sengaja mengekspornya ke Eropa dan Amerika. Aku mendapatkan penghasilan yang banyak. Berkat kerja kerasku, aku mulai membangun perusahaan Njawe Group. Entah kenapa kakakku ini yang memiliki anak yang bernama Gilang ngamuk karena tidak terima atas kesuksesanku. Beberapa tahun lalu perkebunanku dirusak dan tanahnya dibuat nggak subur. Setelah itu aku menyuruh Tio dan Herman menyelidikinya, yang melakukannya adalah mereka. Motifnya adalah seharusnya tanah dan perusahaan itu menjadi miliknya semua," jelas Kartolo yang panjang lebar.
Mata Adinda membelalak sempurna. Jadi selama ini adalah Gilang masih ada hubungan darah sama Budiman. Adinda terdiam dan bingung mau bertanya apa kepada Kartolo. Namun saat Adinda terdiam, Herman malah menanyakan masalah hubungan antara Budi dan Gilang.
"Jadi selama ini Gilang dan Budiman adalah saudara sepupu?" tanya Herman yang mulai membuka tabir rahasia sebenarnya.
"Ya… aku memang adik dari papanya Gilang. Semenjak remaja kami sudah musuhan dan tidak pernah akur. Padahal kedua orang tua kami selalu memberikan kasih sayang yang sama. Tapi kakak menganggapku sebagai benalu dalam keluargaku. Padahal aku semenjak kecil sudah belajar berbisnis," jawab Kartolo.
"Jadi masalahnya hanya itu ya? Kenapa dendam masa kecil dibawa-bawa hingga dewasa? Bukankah seharusnya kalian kompak membangun perusahaan dan perkebunan?" sungut Adinda yang tidak terima. "Dan sekarang Budiman yang akan menjadi korban selanjutnya."
""Yang dikatakan oleh Adinda benar. Masalahnya emosi Budiman masih labil. Meskipun usianya mau memasuki kepala tiga, Budiman masih bisa termakan oleh isu-isu yang tidak penting dari pamannya itu," ujar Malik yang menganalisis keadaan ke depan.
"Kok parah ya?" tanya Tio.
"Memang sangat parah. Mereka melakukan balas dendam demi menghancurkan Budiman. Yang kita tahu Budiman memiliki otak di atas rata-rata. Nah yang jadi pertanyaannya, kenapa Kanaya ikut-ikutan dalam masalah ini? Apakah Kanaya ada hubungannya dengan kamu dan juga keluargamu? Ditambah lagi Kanaya menyerang Adinda bertubi-tubi. Inilah yang nggak habis pikir. Padahal Kanaya dan Adinda adalah teman sekolah semenjak TK hingga sekarang ini," beber Malik sebenarnya.
"Apakah Adinda menikah dengan Budiman?" tanya Kartolo.
"Tidak ada hubungannya dengan pernikahan ini Papa. Dulu aku memiliki kekasih yang namanya Rizal. Kalau Papa pengen tahu tanya saja sama Andara. Andara pasti tahu kok siapa Rizal sebenarnya. Aku nggak tahu kenapa Kanaya membunuh kekasihku itu. Inilah yang jadi pertanyaanku untuk saat ini," jawab Adinda dengan serius.
Melihat Herman tersenyum, Adinda mulai bertanya-tanya. Apa yang dikatakan oleh Herman itu benar. Kemungkinan besar dirinya meminta temannya untuk menyelidiki kasus ini.
"Sepertinya kita mendapatkan benang merah. Kalau kita membiarkannya terus menerus. Bisa jadi dua keluarga ini akan hancur hanya karena wanita ular itu," ucap Adinda.
"Itu benar. Apa yang harus kita lakukan untuk sekarang ini?" tanya Herman sambil melirik Adinda.
"Terpaksa kita harus menyelamatkan Budiman. Kalau kita tidak menyampaikan Budiman. Mereka bisa menyerang secara habis-habisan," jawab Adinda.
"Tapi Budiman memiliki temperamen yang keras. Kamu tidak akan bisa menghadapinya," ucap Tio.
"Kenapa kita tidak menjalankan rencana awal? Yang di mana Aku akan pergi dari Indonesia untuk meraih cita-citaku selanjutnya," ujar Adinda.
"Jika kamu berada di sini, kemungkinan besar Andara akan terancam nyawanya," sahut Kartolo yang tidak rela Adinda pergi.
"Kalau dipikir-pikir iya. Kalau tidak ada Adinda, Andara terancam dalam bahaya. Cepat atau lambat Kanaya akan membunuhnya. Inilah yang aku takutkan jika harus pergi dari Indonesia. Tapi mau bagaimana lagi. Aku ingin meraih S3 ku untuk menunjang jabatan CEO," jelas Adinda.
"Jalan satu-satunya adalah mengajak Andara pergi ke Amerika. Mau tidak mau Andara harus meraih S3. Ini demi keselamatan Andara juga," ujar Malik.
Akhirnya malam ini kesepakatan sudah terjadi. Mau tidak mau Andara harus ikut Adinda ke Amerika. Jika tidak Andara hidupnya dalam bahaya. Jujur saja Adinda tidak habis pikir. Kenapa Budiman menjadi temperamental seperti itu? Awalnya Budiman adalah kakak yang lembut bagi Andara.
Adinda memutuskan untuk keluar dari ruangan kerja milik Malik. Ia segera menuju ke kamar ibunya. Sebelum masuk Tia membuka pintu dan melihat wajah putrinya itu.
"Dinda?" pekik Tia.
"Ibu," jawab Adinda sambil memeluk Tia.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Tia.
"Nggak apa-apa," jawab Adinda.
"Lebih baik kamu masuk saja dulu. Ibu mau mengambilkan air minum untuk ayahmu," ucap Tia sambil menyuruh Adinda masuk.
Kemudian Adinda masuk dan menghempaskan bokongnya di sofa. Ia segera menghubungi Netty agar tidak ke rumah. Karena saat ini posisi Adinda berada di rumah.
Beberapa saat kemudian Tia melihatku dan menaruh cangkir itu di atas nakas. Tia langsung mendekati Adinda dan duduk di sampingnya.
"Kamu ada apa? Sepertinya kamu capek dengan pekerjaanmu hari ini," tanya Tia sambil memegang tangan Adinda.
"Soal pekerjaan aku tidak capek. banyak sekali karyawan yang mendukungku hingga sampai saat ini. Tapi aku nggak habis pikir dengan Budiman," jawab Adinda.
"Kalau kamu nggak kuat ya lepaskan saja. Mumpung kamu belum memiliki seorang anak," ucap Tia.
"Aku tidak bisa melepaskan Budiman begitu saja," ujar Adinda.
"Kenapa?" tanya Tia.