
Budiman akhirnya bangun dari tidurnya. Ia segera menuju ke kamarnya dan berkata, "Jangan pergi dariku. Tetaplah disini sampai aku bangun."
"Bolehkah aku meminjam laptopmu?" tanya Adinda.
Meskipun masih mengantuk, Budiman akhirnya menuju ke arah Adinda. Iya segera menarik tangan Adinda dan mengajaknya ke ruangan kerja. Tanpa banyak bicara, Adinda hanya menuruti keinginan Budiman. Sesampainya di sana, Budiman menunjuk laptopnya sambil berkata, "Pakailah. Tapi ingat kamu jangan pergi dari sini."
"Ngapain coba aku pergi dari sini?" tanya Adinda.
Budiman hanya tersenyum dan meninggalkan Adinda di ruangan kerjanya itu. Adinda hanya menepuk jidatnya karena ulah Budiman. Dalam hatinya Adinda, Budiman kesambet setan apa? Jawabannya adalah entah.
Sebelum melakukan pekerjaannya, Adinda memilih untuk membersihkan apartemen itu. Namun Adinda tidak terlalu membuang tenaganya. Karena Budiman sendiri adalah pria yang suka dengan kebersihan.
Setelah itu Adinda memilih untuk memasak. Ia membuka kulkas yang tidak ada isinya sama sekali. Ia memutuskan untuk pergi ke minimarket terdekat.
Di sana Adinda memilih bahan-bahan makanan untuk dimasaknya hari ini. Namun tanpa sadar, Budiman mengikutinya dari belakang.
"Hari ini masak yang simpel saja ya. Sebenarnya aku hari ini males sekali untuk memasak. Tapi mau apa lagi. Lagian apartemen orang gila itu tidak ada apa-apanya. Terpaksa deh harus bertempur dengan alat-alat dapur sementara," ucap Adinda dalam hati.
"Memangnya kamu mau beli apa sih?" tanya Budiman yang tiba-tiba saja mengeluarkan suaranya.
Adinda menoleh ke kiri dan melihat Budiman sudah berada di hadapannya. Iya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Bagaimana bisa Budiman hadir secara tiba-tiba? Kemudian Adinda memutuskan untuk bertanya, "Bukannya tadi kamu mau tidur?"
"Memang. Tapi kamunya kabur," jawab Budiman dengan asal.
"Enak saja kamu bilang aku kabur. Aku lapar tahu. Masak di kulkas nggak ada makanan apa-apa," kesal Adinda.
"Kamu kalau ngomong sama suamimu jangan kesal gitu. Ingat dirimu itu sudah menikah," ucap Budiman yang memperingatkan Adinda.
"Baru sadar kalau kamu punya istri?" tanya Adinda yang ingin mengajak berantem lagi.
"Iyalah. Memangnya nggak boleh mengakuimu sebagai istriku?" tanya Budiman balik.
"Ternyata kamu sadar ya," ejek Adinda.
"Memangnya kalau nggak sadar mau gimana lagi. Apakah kamu akan membiarkanku bersama Kanaya?" tanya Budiman.
"Itu terserah kamu. Sudah kubilang pernikahan ini hanyalah permintaan kedua orang tuamu. Tapi kamunya sudah memiliki yang lain. Kamu nggak cinta aku. Aku juga nggak cinta kamu," jawab Adinda secara terus terang.
"Cepat atau lambat kamu akan mencintaiku," ucap Budiman sambil bersumpah kepada Tuhan.
"Sak karepmu," ujar Adinda yang pergi meninggalkan Budiman.
"Hey," seru Budiman. "Kalau kamu pergi begitu saja. Siapa yang mau bayar belanjaanmu ini?"
Setelah Budiman mengatakan seperti itu, Adinda tersadar kalau dirinya tidak membawa uang sepeser pun. Terpaksa dirinya kembali dan meminta Budiman untuk membayarnya.
"Bayar itu semuanya," ucap Adinda yang menyuruhnya untuk membayarnya.
Budiman tersenyum sambil mendorong trolinya. Lalu Adinda mengikutinya dari belakang. Sekarang dirinya mau bagaimana lagi? Yang namanya menikah cepat atau lambat akan bersama. Bagaimana dengan kuliahnya? Masak Adinda harus mengajak Budiman untuk kuliah?
Selesai membayar Budiman mengajak Adinda kembali ke apartemen. Di sana Budiman menaruh belanjaannya di atas meja. Lalu ia duduk manis di kursi sambil melihat Adinda sedang menata belanjaannya itu.
"Ngapain juga kamu harus pergi ke Amerika? Apakah kamu akan meninggalkanku?" tanya Budiman yang menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Aku harus mengambil S3 untuk menunjang karirku di perusahaan. Oh ya... Aku di sana kurang lebih dua tahun. Kalau kamu mau kembali sama Kanaya kembalilah. Aku tidak memperdulikan hidupmu," jawab Adinda dengan jujur.
"Kenapa kamu tidak ingin mempertahankan pernikahan ini?" tanya Budiman.
"Yang namanya pernikahan harus dipertahankan. Tapi aku nggak yakin dengan itu semuanya. Ada satu nama yang terpatri di hatimu. Aku tidak akan mungkin bisa menghapusnya. Hanya kamu yang bisa menghapusnya. Aku adalah aku. Dia adalah dia. Kalau kamu cinta sama dia terserah. Kalau kamu ingin menceraikanku terserah. Aku sadar kalau diriku ini tidak akan bisa membahagiakanmu," jelas Adinda yang membuat hati Budiman terkoyak.
Budiman memilih diam namun hatinya sakit tak berdarah. Entah kenapa penjelasan Adinda membuat hatinya terpukul. Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Seharusnya Budiman tidak boleh egois. Jika bersama Adinda, maka dirinya harus melupakan Kanaya. Namun apakah dirinya bisa melupakan Kanaya begitu saja?
Sejenak terdiam Budiman mendengar ponselnya berdering. Ia segera meraih ponselnya itu dan langsung mengangkatnya. Tiba-tiba saja Budiman berjingkat dan melemparkan ponselnya itu.
Saat menata bahan belanjaannya, Adinda terkejut dan melihat Budiman dengan wajah sangat aneh sekali. Kemudian Adinda bertanya, "Ada apa?"
"Papa sudah menarik semua fasilitasku. Sekarang aku jadi seorang pria miskin," jawab Budiman yang membuat Adinda menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana kalau kamu kembali lagi ke Kanaya?" tanya Adinda yang memiliki sebuah ide.
"Apa maksudmu?" tanya Budiman balik. "Kamu seharusnya mencari cara, agar aku bisa mendapatkannya lagi. Kok kamu malah menyuruhku kembali ke Kanaya?"
"Aku mau melihat reaksinya bagaimana? Apakah dia benar-benar cinta kamu atau hanya sebatas bualan belaka?" tanya Adinda yang sangat penasaran sekali jika Budiman tidak memiliki apa-apa.
Seketika Budiman teringat dengan konten sosial eksperimen. Yang di mana sosial eksperimen itu sedang buming-boomingnya beberapa hari ini. Ia menatap wajah Adinda lalu berkata, "Lebih baik kita lakukan saja."
"Maksud kamu?" Tanya Adinda yang mulai menghitung beberapa pengeluarannya itu.
"Tenang saja. Aku masih memiliki tabungan untuk dua tahun ke depan. Ini tabungan aku dapatkan ketika bekerja di London. Sebelum memegang perusahaan ini aku sengaja bekerja di kota London. Bisa dikatakan setelah lulus kuliah aku tidak langsung pulang. Aku memutuskan untuk mendalami ilmu bisnisku itu. Sekalian aku mencari pengalaman di dalam dunia bisnis. Aku akan menyewa rumah kecil. Aku akan mengajak Kanaya bertemu di sana. Dan aku tidak akan memfasilitasi barang-barang mewah di dalam rumah itu. Nanti kamu tahu bagaimana reaksinya," jelas Budiman.
"Jadinya kamu ingin menjebak dia?" tanya Adinda.
"Iyalah. Masa aku membiarkannya saja. Sekali-selly aku harus berbuat licik kepada dia," jawab Budiman.
"Kenapa kamu menyuruhku Untuk membatalkan tender besar itu?"
"Maksud kamu apa?"
"Maksudku kamu menyuruhku Untuk membatalkan tender besar itu. Tender sebesar tujuh triliun untuk perusahaanku."
Budiman langsung tercekat dan tidak bisa berbicara. Entah kenapa dirinya tidak berani menatap Adinda.
"Aku hanya disuruh dia," jawab Budiman.
"Kamu gila ya? Coba bayangkan tender sebesar itu harus aku lepaskan sendiri. Kamu tahu aku mengerjakan proposal itu selama dua bulan. Dua bulan itu bukan waktu yang lama. Aku bersama timku memutuskan untuk dari pagi hingga malam. Aku tidak akan melepaskannya begitu saja. Jika Aku melepaskannya, maka aklemburu bisa mengecewakan tim ku sendiri," ujar Adinda.
Sontak saja Budiman terkejut. Ya tidak mungkin meminta istri kecilnya itu untuk melepaskan tender besar tersebut. Dengan begitu Budiman akan mendukungnya dan tidak akan pernah lagi mengusiknya.
"Kamu mau tahu siapa yang menyuruh kekasihmu itu?" tanya Adinda.
"Maksud kamu apa?" tanya Budiman balik.