
"Dia pernah menceritakan semuanya tentang Rizal. Saat itu gue nggak tahu dan nggak mau tahu. Soalnya gue masih suka sama Kanaya. Andai saja kalau gue paham apa yang dimaksud oleh Adinda. Gue tidak akan menjadi seperti ini."
Budiman menjawab dengan penuh penyesalan.
"Sekarang gue tanya. Lu nyesel nggak? Setelah lu tahu semuanya siapa itu Kanaya sebenarnya?"
Tanya Faris sambil menatap wajah Budiman.
"Otomatis gue nyesel banget. Kenapa gue nggak percaya pada Adinda? Kenapa gue percaya pada Kanaya? Seharusnya itu tidak boleh terjadi pada Adinda."
Budiman menjawab dengan jujur. Memang seharusnya ia mengerti apa yang dikatakan oleh istri kecilnya itu. Kenapa ia percaya dengan kata-kata Kanaya? Ditambah lagi dirinya sedang dipengaruhi oleh Kanaya.
"Ya sudah kalau gitu kita balik saja ke sana. Semoga penyesalan itu bisa membuka mata hati lo. Yang di mana lu tidak akan balik lagi ke Kanaya. Soal restu dari gue, jujur gue belum merestui lu sama Adinda. Gue nggak percaya sama lu seratus persen. Karena lu bisa balik lagi ke Kanaya. Soalnya gue tahu tabiat lu kayak apa?" ucap Faris yang tidak main-main dengan perkataannya itu.
"Gue paham sama lo Ris. Gue juga nggak hubungin elu ketika nikah. Gue sebenarnya terpaksa nikah sama Adinda. Kalau gue bilang nyesel. Untuk saat ini gue nyesel. Nyesel setelah ada peristiwa ini. Seharusnya gue saja yang terbunuh," ujar Budiman.
"Lu kalau ngomong enak ya? Yang namanya takdir harus dijalankan. Gue sebagai abangnya Adinda nggak akan marah. Soalnya masalah ini Adinda juga tidak akan mau mendapatkannya. Gue tahu kalau lu belum cinta sama adek gue. Tapi lu sekarang harus bertanggung jawab. Karena lu sudah mengklaim Adinda sebagai istri sah. Mau nggak mau lo harus melindungi Adinda dari Kanaya," sahut Faris yang memberikan wejangan buat Budiman.
"Gue usahain untuk melindungi adik lo. Gue sudah nganggap dia sebagai istri sah. Gue sekarang sudah nggak mau main-main lagi. Gue berharap Adinda menjadi wanita terakhir dalam hidup," kata Budiman dengan serius.
Faris pun menganggukkan kepalanya. Lalu pria muda itu mengajak mereka kembali lagi ke tempat semula. Di sana Kartolo dan Kamila sudah datang. Mereka sengaja diberitahukan oleh Andara, bahwa Adinda dirawat di rumah sakit.
"Bagaimana dengan keadaan Adinda?" tanya Budiman.
"Belum sadar. Sebentar lagi Adinda dipindahkan ke tempat khusus," jawab Malik.
Budiman terkejut atas perkataan Malik. Budiman mengangkat wajahnya sambil bertanya, "Kenapa ayah memindahkan ke ruangan khusus?"
"Karena Ayah sengaja memintanya untuk melakukan perawatan yang intensif," jawab Malik.
Budiman bertanya-tanya Kenapa Malik bisa mengajukan permohonan untuk Adinda. Padahal ruangan khusus itu adalah ruangan yang sangat istimewa. Jujur ekonomi Budiman sama Adinda sangatlah jauh.
Ketika Adinda masih muda sudah memiliki aset bermilyaran. Hal ini dikarenakan Adinda adalah pekerja keras. Tanpa disadari oleh Budiman, Adinda sendiri suka pergi ke kantor dan membantu ayahnya untuk mengurus perusahaan. di sisi lain Adinda juga memiliki bakat lain. Yaitu sebagai desainer handal. Tapi setelah memegang perusahaan, Adinda menghentikan sementara pekerjaan sampingannya itu. Adinda memilih untuk fokus ke dalam perusahaannya.
Bisa dikatakan nama Adinda terkenal di dunia desain. Namun Adinda tidak mempedulikan hal itu. Lalu bagaimana dengan keluarganya? Keluarganya sangat mendukung keinginan Adinda. Bahkan keluarganya membiarkan Adinda berkembang dengan sendirinya.
"Oh ya kamu belum tahu rumah sakit ini ya? Rumah sakit ini adalah milik sepupunya Adinda yang bernama Kevin. Yang di mana Kevin itu adalah seorang dokter yang berbakat," jelas Malik.
Budiman tersadar atas ucapan Malik. Maka dari itu Malik meminta ruangan khusus tersebut. Lihat rumah sakit langsung memberikannya secara cuma-cuma. Mereka tahu kalau Adinda adalah sepupu dari pemilik Rumah sakit ini.
Tepat jam 01.00 pagi, Adinda dipindahkan ke ruangan khusus. Yang di mana ruangan khusus itu, sudah dirancang oleh pihak rumah sakit. Di sana Adinda bisa beristirahat dengan damai. Selain itu juga tempat itu sangat luas sekali. Kamarnya didesain untuk menampung banyak orang.
Beberapa saat kemudian keluar Kevin yang melihat Malik. Kevin menceritakan keadaan Adinda sebenarnya. Ia berusaha menguatkan Malik untuk banyak-banyak berdoa. Karena Adinda sekarang butuh keajaiban. Selain itu juga Kevin meminta lainnya agar melakukan hal yang sama. Kevin berharap Adinda cepat sadar dan saling berdiskusi satu sama lain.
Kanaya yang masih berada di Jakarta mengepalkan tangannya. Ia tahu kalau yang terbunuh itu bukan Budiman. Ia sekarang nyawanya merasa terancam. Karena sebentar lagi akan dicari oleh pihak kepolisian.
"Kenapa harus Adinda yang terbunuh? Aku menginginkan Budiman yang mati," ucap Kanaya serius.
Ceklek.
Pintu terbuka.
Gilang datang dengan wajah yang pucat. Ia segera mendekat Kanaya lalu mengangkat tangannya. Gilang melayangkan tangan itu hingga terkena pipi kanan Kanaya.
Plak!
Plak!
"Gue memang menginginkan Budiman mati. Tapi kenapa Adinda yang tertusuk oleh para preman itu?" tanya Kanaya.
"Tau nggak selama ini Adinda sudah mengetahui jejak langkah lu kayak apa? Semuanya sudah terekam dengan jelas. Cepat atau lambat Herman yang akan mengambil kasus ini. Herman tidak akan bisa melepas elu begitu saja. Ditambah elu kabur ke London sekalipun. Dia akan meminta pihak kepolisian untuk mengejar elu. Saat ini gue nggak bisa berbuat apa-apa. Kemungkinan besar gue juga akan ikut terseret. Gue memang disuruh menghancurkan hidup Budiman. Tapi menunggu waktu yang tepat. Apa lu paham soal ini?" geram Gilang yang tidak mau terseret dalam kasus ini.
"Apa yang harus gue lakuin?" tanya Kanaya.
"Gue nggak bisa nolongin lu lagi. Mau nggak mau kita harus berjalan sendiri-sendiri. Jika lu bersikeras meminta bantuan gue? Jujur gue nggak bisa. Gue lepas tangan untuk masalah ini," jawab Gilang yang membuat Kanaya semakin gusar.
Jujur saat ini Gilang juga terjepit. Dirinya tidak tahu harus berbuat apa-apa lagi. Seandainya yang terbunuh itu bukan Adinda, kemungkinan besar Gilang bisa menolong Kanaya untuk kabur ke London. Karena yang ia tahu keluarga Adinda itu sangat kompak sekali. Jika ada masalah mereka datang dan membantu. Inilah yang membuat Gilang menjadi bingung. Andaikan Gilang bisa menolongnya, Kanaya tidak akan menjadi seperti ini.
Yang belum mereka ketahui adalah ada salah satu pengacara senior. Pengacara senior itu ternyata kakak dari ibunya Adinda. Jika Herman mengajak kerjasama beliau, mereka tidak bisa bergerak lagi.
Pagi menjelang, matahari sudah menampakkan cahayanya. Bahkan sinarnya sudah masuk ke dalam kamar Adinda. Pihak rumah sakit mengizinkan sinar matahari itu masuk ke dalam kamar Adinda. Mereka berharap kamar yang ditempati oleh Adinda bisa memiliki aura positif.
Pihak keluarga Adinda maupun Budiman tidak pulang ke rumah. Mereka sedang menunggu Adinda sadar. Bagaimana dengan keadaan Budiman? Budiman duduk di hadapan Adinda. Matanya membengkak air matanya tetap menetes. Ia berharap Adinda cepat sadar dan bisa marah-marah lagi. Jujur saat ini Budiman sangat menyukai Adinda ketika marah. Adinda selalu mengatakan dirinya secara terbuka. Namun Budiman tidak ambil pusing dengan Adinda. Ia berusaha menjadi pria sabar dan menghadapi Adinda. Budiman sadar kalau Adinda mencoba melindunginya dari Kanaya.
"Sampai saat ini Adinda belum sadar. Kita tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kita ini sedang menunggu keajaiban dari sang pencipta," ucap Herman kepada Tio.
"Kamu benar. Kita nggak tahu harus berbuat apa lagi. Apa yang kamu lakukan setelah ini?" tanya Tio.
"Pagi tadi pihak kepolisian sudah menangkap mereka semuanya. Barang bukti sudah diketemukan juga. Yang artinya kita akan menunggu otak di belakangnya. aku yakin kali ini Kanaya akan tertangkap oleh kita," jawab Herman.
"Apa paman yakin seratus persen jika Kanaya bisa tertangkap?" tanya Faris dengan serius.
"Gue memang serius untuk saat ini. Gue akan menyeret Kanaya untuk masuk ke dalam jeruji besi. Aku yakin mereka sedang merencanakan sesuatu," jawab Herman sambil tersenyum iblis.
"Maksud kamu apa? Terus siapa dia?" tanya Malik yang baru sadar dengan Herman.
"Yang pastinya Gilang. Nggak ada lagi selain Gilang. Rasanya aku ingin membantu pihak kepolisian untuk mengejar mereka," jawab Herman.
Tiba-tiba saja Kartolo dan Kamila terkejut dengan ucapan Herman. Mereka menatap ke arah Herman untuk meminta penjelasan.
Akhirnya Herman menjelaskan apa yang sudah terjadi untuk saat ini. Bahkan firasat Herman mengatakan, kalau Gilang juga ikut-ikutan dalam masalah besar ini. Kartolo dan Kamila hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar. Mereka baru tahu kalau Kanaya adalah wanita yang memiliki kekejaman tingkat tinggi.
"Mau tidak mau Adinda harus dimusikan ke New York terlebih dahulu. Kita nggak bisa begini terus-terusan. Ini demi menjaga keamanan Adinda," Malik yang mengambil keputusan dengan cepat.
Budiman yang masih setia menghadap Adinda langsung ikut bicara. Jujur dirinya tidak mau ditinggalkan oleh Adinda begitu saja. Ia menatap sendu ke arah wajah Malik.
"Bisakah aku ikut Adinda ke New York?" tanya Budiman yang meminta izin ke Malik.
"Kamu mau ngapain di sana?" tanya Kartolo dengan cepat.
"Bisakah aku menjaga Adinda di New York?" tanya Budiman balik.
"Kenapa kamu ingin menjaga putriku?" tanya Malik yang sebenarnya tidak mengizinkan Budiman ikut.