Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 9



"Sebentar. Aku harus menyelesaikan transaksi penjualan barangku," jawab Dinda yang masih serius dengan ponselnya itu.


Lalu Dinda membereskan semua pekerjaannya itu. Setelah selesai ia berdiri dan mendekati Budi. Lalu Dinda bertanya, "Ada apa? Ada yang perlu kamu tanyakan?"


"Sebenarnya biarkanlah pernikahan ini berjalan apa adanya. Jika kamu bersedia bersamaku. Aku akan merubah sifatku ini. Aku berharap bisa melupakan Kanaya. Maka dari itu bantulah aku untuk menghapus nama Kanaya dari hatiku," jawab Budi sembari memandang wajah Dinda yang sangat cantik sekali.


"Kamu ini sangat aneh sekali. Seharusnya kamu bisa melupakannya. Jangan sampai sifatku berubah menjadi barbar hanya karena Kanaya," ucap Dinda.


"Bukankah jika sudah menikah wanita itu berhak melindungi suaminya dari pelakor?" tanya Budi yang menatap wajah Dinda lagi.


"Itu tergantung dari suaminya. Mau berubah atau tidak itu urusan kamu. Kamu sendiri masih menyimpan nama itu di hatimu. Bagaimana aku bisa menghapusnya?" tanya Dinda balik.


"Ayolah... Jangan membuat aku frustasi seperti itu. Kamu berhak melakukannya. Karena kamu adalah istriku," jawab Budi yang sedikit memaksa Dinda untuk membantu melupakan Kanaya.


"Apa yang kamu katakan? kita baru saja menikah dan tidak saling mengenal satu sama lain," ujar Dinda.


"Jangan berpura-pura seperti itu.kamu sudah mengenalku tapi nggak pernah menyapa jika bermain ke rumah Andara," kesal Budi.


"Aku tidak berpura-pura. Memangnya aku Kanaya apa? Yang hidupnya selalu berpura-pura demi mendapatkan sesuatu dan mengemis ke semua pria," kata Dinda yang kesal terhadap Budi.


"Tapi kamu mengenalku kan dari Andara?" tanya Budi.


"Aku nggak mengenalmu. Kalau aku ke rumahnya Andara. Aku tidak pernah menanyakan tentang kamu. Aku jarang kepo terhadap orang lain," jawab Dinda dengan serius.


'Lalu bagaimana kamu menerima lamaran itu? Sepertinya aku curiga terhadapmu," tanya Budi yang masih penasaran sekali dengan Dinda.


"Sudah aku bilangin berapa kali sih. Aku memang nggak kenal kamu. Tapi kenapa kamu maksa aku dan menuduhku mengenalimu dari Andara? Aku ke rumah Andara hanya ingin bertemu dengan mama dan papa. Lalu apa salahnya?" tanya Dinda sekali lagi.


"Kamu ini sangat aneh sekali. Bukannya teman-teman Andara main ke rumah menanyakan aku? Seharusnya kamu bersikap hal yang sama?" Tanya budi dengan serius.


"Kamu memiliki tingkat percaya diri sangat tinggi. Aku bukan seperti mereka. Aku adalah wanita yang tidak ingin tahu masalah orang," tegas Dinda.


Apa yang dikatakan Dinda itu benar.Dinda bukannya wanita yang sangat ingin tahu tentang lawan jenisnya. Bahkan jika lawan jenisnya itu tampan. Atau memiliki ketahanan tingkat tinggi. Dinda tidak pernah melakukannya. Dinda menganggap kalau hal ini hal yang sangat merepotkan


"Bener-bener aneh kamu itu. Di saat teman-teman kamu yang berjenis kelamin wanita sering menanyakan aku. Bagaimana kabar kakak kamu yang laki-laki itu? Aku sangat menyukainya. Kamu di rumah hanya diam saja seperti patung. Ditambah lagi kamu itu orangnya tidak pernah menyapaku," kesal Budi terhadap Dinda.


"Kalau ngomong begitu kamu sangat pandai sekali. Bisa-bisanya kamu membandingkan aku dengan yang lain. Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi. Kemungkinan besar aku tidak memperdulikan soal itu," ucap Dinda dengan tegas.


"Memang aku sangat penasaran sekali jika kamu ke rumah. Kamu itu nggak tanya soal aku," ledek Budi.


''debat sama kamu menghasilkan kepala pusing. Lebih baik kamu tidur saja sana. Ketimbang debat yang tidak ada habisnya," suruh Dinda yang berdiri meninggalkan Budi.


"Jangan lakukan hal yang gila. Nanti aku akan menuntut kamu ke pengadilan. Lepaskan aku sekarang juga. Aku harus tidur. Besok pagi ada meeting penting dengan perusahaan ternama di kota ini!" tegas Dinda yang berusaha keluar dari kungkungan Budi.


"Memangnya ada rapat apa? Kamu batalkan saja," tanya Budi yang menyuruh Dinda membatalkan rapat itu. "Bagaimana perusahaanku yang kamu sudah beli? Jika kamu sampai membeli perusahaan itu. Maka aku akan menjadi pengangguran selamanya."


"Kamu ini sangat percaya diri sekali. Buat apa aku membeli perusahaan itu? Lebih baik kamu berikan saja kepada Andara. Biar dikelola dengan baik," jawab Dinda yang semakin kesal terhadap Budi.


"Kamu tadi bilang mau membeli perusahaanku," ucap Budi.


"Yaelah... Ini orang kok ngotot banget. Aku hanya menggertakmu saja. Biar pacar kuntilanakmu itu bisa melihat kamu menjadi pengangguran. Dan ternyata kamu sudah mengetahuinya. Sudahlah minggir sana Aku mau tidur," ujar Dinda yang akhirnya Budi mengalah.


Mau tidak mau Budi akhirnya menyerah. Budi melepaskan Dinda dan membiarkan tidur. Kemudian Dinda bangun sambil menatap Budi dan menuju ke sofa. Di sanalah Dinda tidur dan tidak mau bercampur jadi satu dengan Budi.


Tak menunggu lama Dinda akhirnya terlelap tidur. Lalu Budi tidak dapat tidur dan masih terbayang dengan Kanaya. Maksudnya adegan tadi. Ia masih bingung dengan adegan tersebut. Bisa-bisanya Kanaya menghancurkan impiannya. Budi tidak menyangka gadis yang dicintainya itu ternyata penghianat.


Bingung?


Memang bingung dirinya. Ketika bendera cintanya sudah berkibar dengan semangat. Ternyata bendera cintanya itu langsung pergi dihempas oleh angin.


Sakit?


Memang sakit rasanya. Namun apa daya? Rasa sakit itu akan bertahan hingga sampai kapan. Kini Budi akan menutup akses untuk Kanaya. Sedangkan Dinda... Budi masih ragu dengan Dinda. Budi masih menganggap Dinda adalah wanita lain. Meski dirinya sudah menikah.


Sebelum tidur Budi teringat dengan kata-kata Dinda tadi. Budi mendengar kalau Dinda mengatakan, Kanaya sudah menikah. Lalu Budi meraba kantongnya dan tidak memegang ponsel. Terpaksa Budi memberanikan diri untuk meminjam ponsel dari Dinda. Budi mengingat nomor telepon Tio. Setelah dirasa lengkap, Budi menghubungi Tio.


Di tempat lain, Tio sedang berkutat dengan komputer mendengar ponselnya berdering. Lalu Tio meraih benda pipi itu dan menatap nama di layarnya.


"Kenapa Dinda telepon jam segini? Kenapa dengan Budi sialan itu?" tanya Tio dalam hati.


Tio menggeser lambang hijau itu dan menyapa orang yang berada di seberang sana, "Halo Din. Ada masalah dengan suami kamu itu?"


"Aku bukan Dinda. Aku adalah Budi. Oh iya... Malam ini kamu berikan aku informasi tentang Kanaya. Apa benar Kanaya sudah menikah dan memiliki tiga orang anak?" tanya Budi sambil memberikan perintah ke Tio.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mengirimkan informasi itu ke mejamu sebelum kamu datang," jawab Tio.


Sambungan terputus.


Tio langsung memaki bosnya itu. Jika memberikan tugas sangat singkat, padat dan jelas. Ditambah lagi si bosnya itu memaksa sekali. Banyak karyawan yang mengeluhkan sifat Budi satu itu. Namun mereka memakluminya. Karena Budi sendiri memiliki sifat yang tidak dimengerti oleh orang.


"Selalu saja begitu. Aku harap Budi mengetahui kenyataannya tentang Kanaya," batin Tio yang melanjutkan pekerjaannya lagi.