
"Ya nggak gitu gimana. Berikanlah waktumu buat kami," jawab Malik.
"Giliran kami di rumah. Ayah pergi ke kampus. Terus waktu untuk berlibur bersama keluarga kapan?" Tanya Faris yang sebal terhadap ayahnya.
"Bener juga sih. Aku pun menjadi bingung sama kalian. Ya sudah semuanya nggak ada yang salah," jawab Malik yang sadar atas kesibukannya sendiri.
Beberapa saat kemudian datanglah menu pesanan mereka. Mereka mulai makan dengan nikmat. Namun Adinda sendiri tidak nafsu makan sama sekali. Ia hanya mengaduk-ngaduk supnya sambil mengingat kejadian tadi.
Herman yang melihat Adinda pun kebingungan. Padahal menu di pesannya adalah makanan favoritnya. Apalagi waktu di malam hari seperti ini.
"Kamu kenapa?" tanya Herman.
"Apa aku harus cerita pada Paman Herman ya soal ini? Jika aku tidak cerita dan meninggalkan kota Jakarta dalam waktu dekat ini. Aku sangat jahat sekali. Aku tahu para pria jika melihat sang kekasih atau tunangannya sedang berjalan dengan pria lain. Pasti ada yang namanya kekerasan. Aku tidak mau itu. Nanti deh akan aku bicarakan pada Budiman," batin Adinda yang mengangkat wajahnya sambil menatap Herman.
"Ada apa? Apakah ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Herman sekali lagi.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja," jawab Adinda.
"Apakah perutmu masih bermasalah?" tanya Herman. "Kalau masih bermasalah, nanti aku akan menghubungi Kevin."
"Sudah tidak. Aku tidak apa-apa," jawab Adinda yang sedang menutupi Netty bertemu dengan Gilang.
Sedangkan Budiman sendiri sudah mengetahuinya. Meskipun Baru beberapa hari akur, hati Budiman sama hati Adinda sudah terpaut menjadi satu. Bahkan jika ada sesuatu, Budiman bisa merasakannya. Namun kali ini Budiman tidak akan menjelaskan apa yang sudah terjadi. Hal ini akan dibicarakan oleh Adinda lebih lanjut. Jadinya mereka akan memberitahukan kepada Herman suatu hari nanti.
Cepat jam 09.00 malam, dua keluarga itu memutuskan untuk melihat film. Sejam sebelumnya mereka sudah memesan tiket bioskop. Mereka langsung masuk ke dalam bioskop itu dan mencari nomor tempat duduk masing-masing.
Herman sengaja memisahkan Budiman bersama Adinda. Karena tahu Budiman akan berkencan dengan Adinda hanya berdua saja. Yang lainnya berkumpul menjadi satu. Herman berharap tidak akan ada yang namanya pertengkaran antara satu deret kursi. Karena mereka tidak mau mengikuti jejak Adinda.
Pagi yang cerah di kawasan Jakarta. Adinda terbangun lalu memilih tidur lagi. Ternyata dirinya sedang ditahan oleh Budiman agar tidak kemana-mana. Beberapa saat kemudian, ada orang menggedor pintu seperti orang kesurupan. Adinda terbangun dan melepaskan tangan Budiman dari tubuhnya.
"Astaga ini orang. Tidur sudah kayak kebo saja," kesal Adinda yang melihat Budiman masih terlelap tidur.
"Biarkanlah aku seperti kebo. Aku benar-benar ngantuk sekali. Kalau kamu mau pergi pergilah. Perginya Jangan lama-lama ya," ucap Budiman yang mendengar apa kata Adinda.
"Hanya sedetik saja," jawab Budiman yang kembali tidur.
"Sedetik?" ucap Adinda sambil menatap wajah Budiman. "Iya... Hanya sedetik. Memangnya gue robot!"
Meskipun tertidur pulas, Budiman mendengar apa yang dikatakan oleh Adinda. Budiman tertawa terbahak-bahak karena ucapan Adinda lucu sekali. Kemudian Budiman langsung bangun dan posisi duduknya. Hingga Budiman sendiri menindih bantal.
"Satu detik saja kamu keluar. Setelah itu kamu masuk lagi. Ada salah satu urusan yang belum kita selesaikan," perintah Budiman yang membuat Adinda melipat kedua tangannya di dada karena kesal.
"Kamu tahu, sedetik itu sama saja aku melangkahkan kakiku hanya satu langkah. Bagaimana bisa aku sampai di depan hanya waktu satu detik?" Tanya Adinda yang mulai cemberut.
"Bisa... asalkan kamu memiliki kekuatan penuh," jawab Budiman yang tersenyum manis sambil melihat Adinda sedang cemberut.
"Ya... sudah sana. Pergilah. Aku akan kembali tidur lagi," jawab Budiman.
"Ya sudah," ucap Adinda yang tersenyum manis.
Adinda akhirnya pergi meninggalkan Budiman. Ia segera keluar dan melihat Andara.
"Nda," sapa Adinda.
"Apakah aku enggak salah melihat kamu tidur bersama Kak Budiman di dalam kamar?" tanya Andara.
"Kamu enggak salah dengan apa yang kamu lihat," jawab Adinda. "Memangnya ada apa?"
"Cabang Banjarmasin sebentar lagi akan berulang tahun. Kak Budiman seharusnya pergi kesana hari ini atau besok. Para petinggi disana sedang menginginkan Kak Budiman yang membicarakan rencana ini," jawab Andara.
"Dia masih tidur. Nanti aku sampaikan. Dimana mama?' tanya Adinda.
"Mama juga masih tidur. Oh... ya... aku kembali ke kamar ya," jawab Andara.
"Memangnya kamu pulang jam berapa?' tanya Adinda.