Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 132



Selesai makan, Adinda mempersiapkan dirinya untuk ikut Herman. Akan tetapi Budiman memeluknya dari belakang.


"Kamu jadi ke kantor?" tanya Budiman.


"Ya aku jadi ke kantor. Aku berharap kamu tidak akan keberatan sama sekali," jawab Adinda.


"Aku tidak keberatan Kalau kamu kemanapun pergi. Kalau begitu bersiaplah. Herman sudah menunggumu di bawah," ucap Budiman yang melepaskan Adinda.


"Kapan kamu berangkat?" tanya Adinda.


"Sebentar lagi. Oh ya, beberapa minggu lagi kita akan pergi ke London. Dalam waktu dekat ini aku akan mengadakan perjalanan bisnis ke luar negeri. Ada satu negara yang aku tuju untuk meninjau pabrik baru. Nama negaranya adalah India. Aku harap kamu bisa mengerti akan perjalanan bisnis itu," jawab Budiman.


Adinda terkejut sekaligus senang mendengarkan rencana perjalanan bisnis Budiman. Itu tandanya ia akan melakukan rencana bersama Andara. Namun Adinda tidak mengatakannya kepada Budiman.


"Apakah kamu tidak akan mengajakku untuk pergi ke sana?" tanya Adinda.


"Rasanya aku pengen mengajakmu. Berhubung kamu ada pekerjaan di sini. Jadinya kamu tidak perlu ikut. selesaikan dulu pekerjaanmu itu. Karena sebentar lagi kita akan pergi ke London," jawab Budiman.


"Ya udah nggak apa-apa. Aku memang ingin menyelesaikan masalah ini dengan cepat. Biar tidak menjadi beban ketika mengambil kuliah di sana," jelas Adinda yang sengaja tidak ingin mencampuradukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan.


Budiman segera mengambil jas lalu memakainya. Ia mendekati Adinda dan memeluknya terlebih dahulu. Kemudian Budiman berkata, "Jangan nakal ya."


"Baiklah aku tidak akan nakal. Kamu juga tidak boleh nakal. Aku bisa menghack seluruh ponselmu itu dan mengetahui isi percakapan," ucap Adinda yang membuat Budiman tersenyum.


"Lakukanlah jika kamu perlu. Karena kamu harus mengetahui semuanya," sahut Budiman yang segera meninggalkan Adinda di dalam kamar.


Setelah kepergian Budiman, Adinda memutuskan untuk pergi menemui Herman. Di sana Herman sudah menunggunya bersama Faris. Mereka akhirnya pergi ke SM company dengan memakai satu mobil saja.


Sedangkan Andara sudah pergi lebih dulu. Ia ingin menganalisis tentang laporannya itu. Karena Andara sendiri ikut meeting bersama Budiman nanti siang.


"Kamu sekarang sudah sangat bahagia Bud. Jujur aku lebih menyukai kamu saat ini. Malahan kamu sudah melupakan tentang kisah cintamu itu bersama wanita ular," jelas Tio.


"Dia sangat berbeda dengan Adinda. Adinda adalah wanita yang kupuja. Jujur sedari dulu aku sudah sangat menyukai Adinda. Tapi kenapa Kanaya yang telah menghancurkan perasaanku itu terhadap Adinda. Kamu tahu aku tidak sengaja membongkar dompetku. Aku menemukan foto Adinda ketika masih kecil. Ternyata Adinda saat itu sangat cantik sekali. Aku sangat beruntung mendapatkannya," ucap Budiman dengan jujur.


"Iyalah. Memang sedari dulu Adinda sama Andara sudah berkawan. Dari TK kamu sudah melihatnya Bagaimana Adinda masih unyu-unyu saat itu. Bahkan kalian sendiri sudah ngobrol dengan bebas. Seiring berjalannya waktu kalian menjadi musuh utama. Kalau ketemu udah kayak Tom and Jerry saja," kesal Tio yang mengingat kejadian di masa lalunya itu ketika Adinda sama Budiman menjadi musuh.


"Jadwalku hari ini apa aja?" tanya Budiman.


"Dasar asisten nggak punya akhlak. Bukannya bantuin bacain malah ngirimnya lewat email. Lu bisa ngingetin gue ketika acara akan berlangsung beberapa menit kemudian," kesal Budiman.


"Percuma aku ingetin. Kamu sendiri adalah bos yang sangat aneh sekali. Ujung-ujungnya aku malah yang kena omel sama kamu," ucap Tio yang tidak ingin disalahkan dalam masalah ini.


"Terserah apa katamu. Tapi jangan salahkan jika gajimu bulan ini terpotong dua puluh persen. Karena uangmu akan aku sumbangkan ke yayasan Pelita Abadi," kata Budiman yang sengaja menakuti Tio.


"Nggak jadi masalah. Bukannya setiap gajian aku menyumbangkan uangku ke sana?" tanya Tio balik ke Budiman.


Sepanjang perjalanan mereka berdebat tidak ada habisnya. Budiman yang sekarang sudah kembali kepada Budiman mode debat. Bahkan dia sendiri kalah berdebat dengan sang bosnya itu. Namun mereka tidak marah sama sekali. Itulah jalannya mereka berkomunikasi dengan unik. Selain itu juga mereka sengaja menumbuhkan rasa percaya diri dengan cara berdebat. Maka dari itu mereka bisa menjadi orang kuat untuk menjalani masalah ke depannya.


Sesampainya di SM Company, suasana tampak berbeda. Seluruh karyawan sudah berbaris sambil membawa sekuntum mawar putih. Hal ini membuat Adinda menjadi bingung. Namun mereka sangat kompak memberikan ucapan selamat. Karena Adinda sendiri sudah menikah secara diam-diam.


"Ini bunganya buat Bu Adinda saja. Bu Adinda tega sekali nggak bilang-bilang sama kami kalau sudah menikah dengan Pak Budiman," ucap Melani resepsionisnya sambil memberikan bunga tersebut.


"Terima kasih Mel. Memangnya siapa yang memberitahukan kalian kalau aku sudah menikah?" tanya Adinda.


"Dari Kak Claudia. Kami nggak sengaja melihat Pak Budiman sedang meminta sesuatu kepada ibu," jawab Melani.


"Acara itu memang acara sangat mendadak. Aku memang sengaja datang ke sana. Lalu tiba-tiba saja Pak Budiman menyuruhku untuk berhenti sejenak. Acara itu hingga masuk ke dalam sosial media," ucap Adinda.


Mereka sangat bersyukur Adinda sudah memiliki seorang suami. Bahkan mereka mendoakan Adinda agar segera mendapatkan momongan. Adinda pun berterima kasih kepada karyawannya. Bahkan Adinda sendiri sangat terharu karena karyawannya sangat sayang kepadanya.


Tepat jam 08.00 pagi, para karyawannya itu bubar dan menuju ke divisi masing-masing. Mereka di sana memulai aktivitasnya dengan penuh bahagia. Adinda sendiri langsung masuk ke dalam ruangan CEO. Ia melihat Faris sedang duduk mengecek semua laporan.


"Kakak nggak apa-apa aku tinggal ke London untuk beberapa tahun kemudian?" tanya Adinda.


"Kenapa kamu ngomong seperti itu? Semuanya kan baik-baik saja. Gilang tidak akan mungkin mengganggu perusahaan ini. Asal tahu saja bilang tidak memiliki hak untuk mengganggu perusahaan milik orang lain. Jika dia mengganggu, bisa dipastikan paman Herman tidak akan tinggal diam. Paman Herman memiliki banyak mata-mata yang dimana kita memiliki banyak informasi tentang Gilang. Kamu bisa mengaksesnya dan meminta laporan itu kepada paman. Kamu nggak perlu takut sama Gilang. Gilang itu tidak ada apa-apanya. Dia lebih memilih sembunyi di belakang kedua orang tuanya. Kalau kamu nggak percaya selidiki saja," jelas Faris sambil tersenyum mengejek Gilang.


"Masalahnya sih nggak apa-apa Kak. Bagaimana kalau dia menyerang begitu saja? Kita tahu kalau Gilang memiliki sifat licik. Dia bisa menggerogoti perusahaan ini secara perlahan," ucap Adinda yang tiba-tiba saja memiliki firasat tidak enak.


"Terus kamu maunya tidak pengen pergi ke London?" tanya Faris balik.


"Sebenarnya aku ragu untuk meninggalkan perusahaan ini. Yang aku tahu Gilang itu akan menyerang perusahaan ini dengan perlahan. Aku harus membicarakan ini sama Budiman. Menyerangnya balik tanpa ampun untuk saat ini," jawab Adinda.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Kamu kok jadi ilfil begitu sama Gilang," tanya Faris.